Sabtu, 08 November 2014

Dahsyatnya Do’a Seorang Ibu


Mungkin sebagian orang masih tidak sadar bahwa kemungkinan kesuksesan-kesuksesannya selama ini adalah buah dari doa seorang ibu kepada Allah tanpa ia ketahui. Dan seorang ibu itu tanpa disuruh pasti akan selalu mendoakan anaknya di tiap nafasnya kala bermunajat kepada Allah. Tapi seorang anak belum tentu selalu berdoa untuk orang tuanya.
Barangkali juga kita suka mengeluh tentang sifat buruk orang tua, entah karena ibu nya cerewet, suka ikut campur, suka nyuruh-nyuruh, tidak gaul dan lain sebagainya. Jika seperti ini maka tragis. Kenapa tragis? Karena terlalu fokus dengan secuil kekurangan orang tua dan melupakan segudang kebaikan yang telah diberikan kepada kita selama ini.
Di luar sana mungkin ada orang-orang di pinggir jalanan, di bawah kolong jembatan dan di tempat lainnya mereka juga suka mengeluh, tapi yang mereka keluhkan ialah bukan karena sifat orang tua atau ibu mereka, tapi mereka mengeluh karena mereka tidak punya lagi orang tua.
Bersyukurlah jika masih mempunyai orang tua. Jika ingin tahu rasanya tidak punya ibu, coba tanyakan kepada mereka yang ibu nya telah tiada. Mungkin perasaan mereka sangat sedih dan kekurangan motivasi dalam hidup.
Coba bayangkan jika kita tidak punya ibu, ketika kita akan pergi ke luar rumah untuk sekolah atau bekerja, tidak ada lagi tangan yang bias kita cium. Jika tidak punya ibu mungkin tidak ada lagi makanan yang tersedia di meja makan saat kita pulang. Jika kita tidak punya ibu lagi ketika hari lebaran rumah terasa sepi dan lebaran terasa tanpa makna. Jika kita tidak punya ibu barangkali kita hanya bisa membayangkan wajah tulusnya di pikiran kita dan melihat baju-bajunya di lemarinya.
Banyak di antara kita suka mengeluh tentang sifat negatif ibu kita, tapi kita tidak pernah berfikir mungkin hampir setiap malam ibu kita di keheningan sepertiga malam bangun untuk shalat tahajud mendoakan kita sampai bercucuran air mata agar sukses dunia dan akhirat.
Mungkin di suatu malam beliau pernah mendatangi kita saat tidur dan mengucap dengan bisik “nak, maafkan ibu ya… ibu belum bisa menjadi ibu yang baik bagimu” kita mungkin juga lupa di saat kondisi ekonomi rumah tangga kurang baik, ibu rela tidak makan agar jatah makannya bisa dimakan anaknya. Ketika kita masih kecil ibu kira rela tidur dan lantai dan tanpa selimut, agar kita bisa tidur nyaman di kasur dengan selimut yang hangat.
Setelah semua pengorbanan telah diberikan oleh ibu kita selama ini, lalu coba renungkan apa yang kita perbuat selama ini kepada ibu kita? Kapan terakhir kita membuat dosa kepadanya? Kapan terakhir kita membentak-bentaknya? Pantaskah kita membentak ibu kita yang selama Sembilan bulan mengandung dengan penuh penderitaan? Oleh karena itu maka berusahalah untuk berbakti kepada orang tuamu khususnya kepada Ibumu. Karena masa depan kita ada di desah doa-doanya setiap malam. Dan ingat perilaku kita dengan orang tua kita saat ini akan mencerminkan perilaku anak kita kepada diri kita nanti.
Dan doa ibu itu mampu menembus langit, sangat mustajab di hadapan Allah. maka muliakanlah ibumu.

Jumat, 07 November 2014

Membabat Cabe-cabean

Istilah “cabe-cabean” akhir-akhir ini semakin marak terjadi di Jakarta. Awalnya “cabe-cabean” merujuk pada gadis belia dengan pakaian ketat dan minim, sering nongkrong dan kerap menjadi bahan taruhan di arena balap liar. Sekarang maknanya lebih mengarah kepada gadis belia yang sering menjajakan dirinya. Fenomena “cabe-cabean” ini merupakan bentuk perubahan perilaku seksual remaja. Perilaku tersebut dapat memicu seks pranikah serta mengundang problem sosial lainnya seperti hamil di luar nikah, tindakan aborsi, tindak kriminalitas, juga mengundang penyakit HIV dan AIDS.
Fenomena “cabe-cabean” seperti penyakit menular yang bisa cepat menular kepada remaja lainnya bila terus dibiarkan tanpa penanganan yang komprehensif dari berbagai pihak mulai dari keluarga, masyarakat, dan negara. Disinilah titik kritisnya, ketiga komponen tersebut harus bahu membahu menangani fenomena ini. Namun, ketika permisif sudah diterima sebagai bentuk kewajaran, maka norma-norma akan mengalami perubahan atau kehilangan fungsinya. Miris rasanya ketika kita mendengarnya. Sebagai seorang ibu, penulis sangat khawatir sekali. Apa jadinya Bangsa ini jika generasi penerusnya saja memiliki perilaku seperti itu? Apakah kita akan terus berpangku tangan?
Akar Masalah
Adapun penyebab fenomena “cabe-cabean” ini Penulis sepakat dengan Seksolog dan Spesialis Androlog, Prof. Wimpie Pangkahila yang menyatakan “bahwa sikap masyarakat yang permisif mungkin menjadi dasar dari perubahan perilaku seksual tersebut. Masyarakat pasti tahu ada perubahan perilaku seks di sekitarnya, namun tidak benar-benar ingin melenyapkannya” (kompas.com, 04/04/14).
Sikap permisif merupakan turunan dari ide liberalisme yang mengajarkan bahwa setiap manusia bebas berperilaku selama tidak merugikan orang lain. Paham kebebasan ini juga mengajarkan bahwa setiap orang termasuk remaja belia sekali pun bebas menjalin hubungan dengan siapa saja termasuk hubungan seks asal suka sama suka dan tidak ada paksaan.
Celakanya, pengaturan kehidupan sosial yang ada saat ini dibangun berlandaskan pada ide liberalisme. Tengok saja, di dalam KUHP seseorang yang berhubungan di luar ikatan pernikahan tidak dianggap melakukan tindakan pidana selama dilakukan suka sama suka. Faktor usia pun dapat menghalangi pihak berwenang untuk mengamankan pelaku “cabe-cabean”. Kalau pun ditangkap, sanksi yang diberikan tidak memberi efek jera pada pelaku.
Pemerintah yang seharusnya menjadi ujung tombak “Pembabat” fenomena “cabe-cabean” ini sepertinya kurang serius berupaya menyelesaikan masalah ini. Hal tersebut terlihat dari sikap pemerintah seperti pernyataan Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang mengaku tak bisa berbuat banyak melihat remaja Jakarta terjerumus dalam lingkaran hitam itu. Sebab, penangkapan kepada anak tersebut bakal melanggar aturan “ya nangkepnya gimana? Itu bisa mendahului KUHP-nya polisi” tandas Ahok (Liputan6.com, 04/04/14).
Islam Membabat “Cabe-cabean”
Islam menetapkan bahwa persoalan seks dibatasi hanya dalam kehidupan suami istri. Adapun seks diluar nikah seperti fenomena “cabe-cabean” sudah jelas keharaman dan bahayanya. Islam telah mewajibkan keluarga, masyarakat, dan negara melindungi semua anggotanya termasuk gadis remaja belia. Dalam keluarga, selain wajib menjamin kebutuhan anak-anak mereka, seorang ayah dan ibu juga wajib menjadi teladan yang baik. Orang tua juga wajib mendidik anak-anak mereka agar memiliki kepribadian Islam sehingga mereka memiliki sifat taqwa yang mampu membentengi diri pribadi remaja tersebut dari perubahan perilaku seks seperti “cabe-cabean” ini.
Allah SWT. telah berfirman “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan dan mereka selalu mengerjakan apa yang diperintahkan” (TQS. At-Tahrim [66]:6)
Masyarakat juga wajib mengawasi dan mencegah terjadinya kemaksiatan. Masyarakat jangan cuek membiarkan pelaku “cabe-cabean”. Seperti telah dipaparkan di atas, perilaku ini bisa cepat menular seperti halnya penyakit, boleh jadi hari ini anak orang lain yang melakukan cabe-cabean, besok lusa siapa yang bisa menjamin anak kita tidak tertular? Naudzubillah!. Satu kemaksiatan terjadi sama dengan merusak tatanan sosial dan mengundang kemurkaan Allah SWT, apalagi perbuatan seks bebas atau zina telah jelas diancam azab Allah SWT. “Jika telah Nampak zina dan riba di satu negeri, maka sungguh penduduk negeri itu telah menghalalkan bagi diri mereka sendiri azab Allah” (HR. Hakim)
Menyelamatkan remaja tidak akan berjalan bila negara tidak mengambil peran. Negara berperan besar menjaga moral masyarakat. Negara juga harus menegakkan hukum agar nilai-nilai akhlak masyarakat terjaga misalnya dengan memberi sanksi pidana pada remaja yang telah baligh apabila terbukti melakukan “cabe-cabean”, menutup situs porno yang memang berperan melahirkan perilaku “cabe-cabean” ini, memberi regulasi yang jelas kepada lembaga Penerangan agar tidak lembek dalam menyaring semua konten yang berbau pornografi dan pornoaksi. Namun apa daya bila sekulerisme dan liberalisme masih terus menggurita, fenomena “cabe-cabean”, “terong-terongan” atau perubahan perilaku seksual remaja lainnya akan terus terjadi.” Wallahu a’lam bishowab”.

3 + 4 = 7

Berapa 3+4? Tentu 7! Dan tentu semua orang yang pernah sekolah mampu menjawabnya, ini kemampuan yang sangat mendasar yang dipelajari dalam logika Matematika.
Kebenaran itu adalah suatu hal yang dapat dibuktikan, sesuatu hal yang memiliki dasar. Bila dasarnya cukup kuat dan tidak dapat dibantah, maka dengan sendirinya kebenaran itu tidak dapat dibantah.
Namun, walau kita hidup di abad  segala sesuatu yang serba teknologi ini, terkadang kita masih saja tidak bisa menjangkau suatu logika sederhana, yaitu menerima kebenaran. Seringkali kita malah menolak kebenaran, padahal telah jelas bukti dan dasarnya bagi kita.
Kebenaran tidak bisa ditolak, tapi kebenaran bisa dibuat relatif, salah satunya adalah dengan menyerang orang yang menyampaikan kebenaran padanya. Bahasa ilmiahnya ad hominem.
Misalnya,
Profesor          : “Dari teori ini kita dapat mengambil kesimpulan bahwa 3+4 = 7”
Murid               : “Berarti 3+4 pasti samadengan 7?”
Profesor          : “Begitulah menurut hukum Matematika”
Murid      : “Anda salah Prof, di dunia ini tidak ada yang pasti kecuali ketidakpastian itu sendiri, Anda saja bercerai, anak Anda saja menderita narkoba, lalu bagaimana Anda bisa memastikan 3+4 = 7?”
Orang bijak selalu mencari kebenaran baginya dalam sebuah nasihat, sementara orang yang pandir selalu menyalahkan orang yang menasihatinya. Padahal kebenaran tidak akan berubah sepandai apapun dia mengelak dan seburuk apapun celaannya pada penasihat. Nasihat yang benar tetap berharga siapapun yang menyampaikannya. Sebagaimana permata tetap berharga walau datang dari seorang penjahat.
Kebenaran juga bisa dikaburkan dengan mengalihkan pembahasan dari pembahasan yang sebenarnya
Profesor           : “Dari teori ini kita dapat mengambil kesimpulan bahwa 3+4 = 7”
Murid                : “Berarti 3+4 pasti samadengan 7?”
Profesor           : “Begitulah menurut hukum Matematika”
Murid            : “Anda salah Prof, 3+4 tidak selalu samadengan 7, bila 3+4 lalu dikurangi 2 jadinya malah 5, malahan 7 juga bisa didapat dari 9 dikurangi 2.
Orang pandir selalu mencari alasan untuk mendebat, karena yang mereka inginkan bukanlah kebenaran tapi mendebat kebenaran. Mereka sulit menjalani kebenaran, lalu megalihkan kebenaran itu menjadi sesuatu yang relatif yang tampaknya masuk akal. Padahal apa yang disampaikan tidak ada hubungan sama sekali dengan pembahasan.
Pernah mendengar ungkapan semisal diatas?
Ustadz            : “Alhamdulillah, dari QS 24:31 dan QS 33:59 kita dapat mengambil kesimpulan bahwa Allah mewajibkan hijab bagi setiap Muslimah dan telah memberikan ketentuan bagaimana hijab yang syar’i dalam kedua ayat ini”
Liberalis        : “Berarti dalam Islam Muslimah berhijab itu wajib?”
Ustadz            : “Begitulah menurut Al-Qur’an dan Al-Hadits”
Liberalis        : “Anda salah Tadz, itu kan penafsiran Anda? Belum tentu yang lain memiliki penafsiran seperti itu, itu kan hanya budaya orang-orang Arab saja. Kalau begitu anda terlalu men-judge orang lain, apa bedanya Anda dengan Hitler kalau begitu? Lagipula orangtua Anda juga masih Non-Muslim, seharusnya Anda dakwah dulu sama mereka, bukan sama orang-orang Muslim. Bahasa Arab saja baru belajar, sudah sok mendakwahi orang!”
Atau yang begini,
Ustadz            : “Alhamdulillah, dari QS 24:31 dan QS 33:59 kita dapat mengambil kesimpulan bahwa Allah mewajibkan hijab bagi setiap Muslimah, hijab itu adalah ketaatan, dan setiap ketaatan adalah baik”
Liberalis        : “Berarti Muslimah berhijab itu pasti baik?”
Ustadz            : “Begitulah menurut Al-Qur’an dan Al-Hadits”
Liberalis       : “Anda salah Tadz, belum tentu orang yang berhijab itu lebih baik daripada yang tidak berhijab. Saya kemarin melihat ada orang yang berhijab tapi justru lisannya kasar dan kotor, sebaliknya ada orang yang tidak berhijab tapi sopan dan sedekahnya banyak. Anda terlalu men-judge! Kebaikan bukan ditentukan oleh pakaian, tapi lebih dari hati, nggak perlu berlebihan dalam segala sesuatu, Allah tidak suka yang berlebih-lebihan”
Lihat alasan-alasan semisal ini, lalu renungkanlah firman Allah Swt.
Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jika Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan. (QS Al-An’am [6]: 112)
Syaitan itu sifat yang bisa mewujud pada jin ataupun manusia. Bisikan-bisikan syaitan memang indah, terkadang berdalil pula atas nama Allah, namun semua keindahan itu adalah tipuan palsu nan menyesatkan, karena pada ujung dari bisikan-bisikan itu, mereka ingin mengajak manusia untuk mengerjakan perbuatan yang keji dan munkar.
Tidakkah kita belajar dari Adam dan Hawa tatkala ditipu syaitan? Syaitan berkata ingin menasihati keduanya, seolah-olah menginginkan kebaikan pada keduanya, seolah-olah dia adalah hamba Allah yang memberi bisikan kebaikan, padahal tidak sama sekali.
Padahal Allah telah menurunkan para Nabi dan Rasul-Nya untuk menjelaskan mana yang baik dan mana yang buruk. Namun syaitan mengelabui seolah-olah perbuatan buruk itu seperti terlihat baik, sehingga manusia bukan lagi mengikuti petunjuk dari Allah, namun malah menjadikan bisikan syaitan sebagai penentu.
Demi Allah, sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami kepada umat-umat sebelum kamu, tetapi setan menjadikan umat-umat itu memandang baik perbuatan mereka (yang buruk), maka setan menjadi pemimpin mereka di hari itu dan bagi mereka azab yang sangat pedih. (QS An-Nahl [16]: 63)
Bila syaitan sudah tidak mampu lagi menipu manusia dengan penyesatan dan penipuan seperti dua cara yang mereka lakukan diatas, maka mereka akan mencoba cara yang ketiga, yaitu menakut-nakuti dengan sesuatu yang belum pasti. Terutama dengan harta dan anak.
“Lihat saja para ustadz dan para ustadzah, semua dari mereka miskin-miskin. Itu yang terjadi kalau kamu terlalu dalam mempelajari ilmu agama, fanatik dengan hijabmu. Hijab tidak bisa memberimu makan, taat tidak bisa membuatmu kenyang!”
Padahal yang kita cari di kehidupan ini ada ridha Allah Swt, dan ridha Allah bisa didapatkan baik oleh orang yang kaya ataupun yang miskin selama mereka menaati Allah Swt. Rasulullah saw malah memilih hidup menjadi seorang yang miskin walaupun beliau sangat mungkin menjadi kaya-raya. Lebih daripada itu, kehidupan bukan hanya di dunia bagi yang meyakininya, dunia ini hanya persiapan untuk kehidupan yang panjang setelahnya. Jadi letak pembahasannya bukan kaya atau miskin namun taat atau tidak taat.
Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS Al-Baqarah [2]: 268)
“Kalau kamu berhijab, lantas bagaimana dengan pekerjaanmu nanti? Kantormu tidak akan mentolerir simbol-simbol Islam, dan kamu harus ingat bahwa kamu punya anak dan keluarga yang harus diberi makan. Allah pasti mengerti kok, Allah pasti memaklumi!
Padahal dalam keimanan kita sudah jelas bahwa Allah-lah yang memberikan rezeki kepada setiap manusia, hewan, bahkan semua yang ada di dunia ini, bukan manusia. Namun syaitan menakut-nakuti manusia dengan kesusahan-kesusahan di dunia yang belum pasti terjadi, dan membuat maksiat di dunia menjadi aman, dan kesengsaraan akhirat terasa ringan. Syaitan juga merinci janji-janji yang bukan datang dari Allah, mengatakan perkataan yang tidak ada dalilnya, mengadakan kebohongan kepada Allah, seolah-olah Allah mentolerir kemaksiatan hamba-Nya.
Dan hasutlah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan ajakanmu, dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka. Dan tidak ada yang dijanjikan oleh setan kepada mereka melainkan tipuan belaka. (QS Al-Israa [17]: 64)
Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah setan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman. (QS Ali Imraan [3]:  175)
Padahal pada setiap insan beriman yang meyakini Allah dan janji-Nya untuk menolong kaum Muslim. Maka Allah mewajibkan diri-Nya menolong orang-orang yang beriman.
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus sebelum kamu beberapa orang rasul kepada kaumnya, mereka datang kepadanya dengan membawa keterangan-keterangan (yang cukup), lalu Kami melakukan pembalasan terhadap orang-orang yang berdosa. Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman. (QS Ar-Ruum [30]: 47)
Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah. (QS Fathir [35]: 5)
Hal seperti ini ramai kita temukan dalam alasan-alasan seseorang yang enggan menetapi kebenaran. Tapi yakinlah bahwa alasan semisal ini hanya ada di dunia, dan tidak akan terpakai di hadapan Allah Swt.
Bagi saya, kebenaran Islam itu sama seperti 3+4 = 7. Memiliki bukti dan dasar yang sangat kuat yang tidak bisa tergoyahkan. Karenanya apapun yang tertulis di dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits pastilah suatu kebenaran yang tak hilang kebenarannya walau banyak yang mendebat.
Khususnya bagi Muslimah yang sedang berusaha menetapi jalan Allah Swt dengan ketaatan-ketaatan mereka, halangan dan alasan pasti silih berganti dan bisikan syaitan pasti membanjiri dada. Namun berfikirlah jernih, alasan tidak bisa menghilangkan kebenaran yang ada.
Berhijab dan berdakwah itu wajib, Allah yang menjaminnya di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Jangan sampai karena manusia kita meninggalkannya, apalagi kita sekarang memahami bahwa syaitan tidak ada kuasa sama sekali, melainkan Allah yang Maha Kuasa.
Apabila kamu membaca Al Qur’an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk. Sesungguhnya syaitan ini tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada Tuhannya. Sesungguhnya kekuasaannya (syaitan) hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah. (QS An-Nahl [16]: 98-100)
audzubillahi binasysyaithani rajiim
3+4=7.