Tidak terasa masa putih abu-abu sudah terlewati. Banyak cerita yang terkenang indah disana. Guru yang berjasa, teman-teman seperjuangan. Sedih, senang, canda tawa dan derai air matapun mungkin pernah tertumpah di sana. Jika saat-saat itu tertantang untuk melewati ujian, ya, ujian yang pasti harus dihadapi di setiap jenjang sekolah untuk membuktikan dan melayakkan bahwa diri pantas disebut sebagai seorang terpelajar dan lulusan SMA/K. Saat ini kita menjadi pelajar yang bisa tersenyum bahagia. Kenapa? Karena kita adalah salah satu pelajar yang lulus diantara ribuan pelajar yang belum berhasil melewati ujian. Saat ini kita menjadi pelajar yang bahagia, karena cita dan impian telah jadi nyata. Ingin menanggalkan seragam putih abu-abu dengan gelar “pelajar” kemudian menuju tangga pendidikan yang lebih tinggi dengan tersemat gelar “mahasiswa”.
Emt, Mahasiswa, siapa yang tak tersenyum
bahagia dan bangga dengan gelar itu. Bahkan sematan mahasiswa adalah
impian dari jutaan pelajar lainnya. Bila diibaratkan, sematan mahasiswa
adalah salah satu impian dan cita-cita seperti kuncup bunga yang
merindukan mekar. Namun, meski diri sedang diliputi rasa bahagia sudah
diterima menjadi mahasiswa di pergurun tinggi, kita jangan sampai lupa
akan tantangan-tantangan yang ada di dunia kampus. Saat masih mengenakan
seragam putih abu-abu mungkin kita akan berfikir bahwa dunia
perkuliahan adalah dunia kebebasan, bebas dari orang tua yang jauh,
bebas dari mengenakan seragam dan lebih dianggap menjadi seseorang yang
dewasa. Benarkah begitu?
Mengenai hal tersebut, kita sebagai
seorang muslim nggak boleh alpha, bahwa setiap keberhasilan dan
kesenangan yang kita rasakan adalah atas karunia Allah, maka seharusnya
dan sepantasnya kita bersyukur kepadan-Nya. Menjadi seorang mahasiswa
juga bukanlah momen untuk melepas penat atas usaha-usaha kita di masa
putih abu-abu. Justru di dunia perkuliahanlah tantangan besar kita. Apa
saja tantangannya ?
Pertama, dunia baru yang lebih bebas.
Dunia kampus adalah dunia yang lebih bebas dari sebelumnya maka kita
harus berhati-hati agar nggak kena gaul bebas. Karena bisa jadi kita
salah lingkungan dan salah gaul yang membuat kita justru menjadi manusia
yang buruk. Maka penting halnya diri kita memilih lingkungan dan teman
yang mampu menghantarkan kita kepada kebaikan. Jangan asal-asalanlho,
nanti bisa bahaya. Teman-teman nggak maukan salah gaul?.
Kedua, dunia baru yang kompetitif. Masuk
dalam dunia perkuliahan akan membuat kita lebih berusaha keras dalam
melakukan sesuatu terutama dalam meraih prestasi. Karena teman-teman
kita adalah orang-orang yang datang dari berbagai daerah dan memiliki
kecerdasan untuk saling berkompetisi meraih prestasi. Bahkan, prestasi
tak melulu didapat dari bangku perkuliahan namun bisa melalui organisasi
dan yang lainnya. Lalu bagaimana caranya supaya bisa berkompetisi?Tentu
hal itu berkenaan dengan managemen aktivitas. Lakukan apa yang harus
dan penting dilakukan. Yang bikin hidup sia-sia tinggalkan saja.
Banyak yang terjadi, dulu mereka
alim-alim sewaktu SMA/K, eh, jadi salah gaul saat kuliah. Namun juga
banyak yang tadinya alim tambah alim, yang tadinya nakal jadi alim. Mau
yang manakah kita diantara pilihan itu?. So, kita jangan sampai alpha,
santai-santai dan menganggap bebas berbuat apa saja. Kalau kita berbuat
bebas seenaknya bisa jadi kita gagal jadi mahasiswa berkualitas. Karena
mahasiswa berkualitas itu adalah mahasiswa yang doyan
belajar,berdiskusi, berkarya, beroganisasi dan berinteraksi. Jangan
sampai kita menjadi orang-orang yang merugi. Ingatkah? Bahwa setiap
hamba akan dimintai pertanggung jawaban dalam setiap perbuatannya,
terutama usia muda . “Kedua kaki hamba tidak akan bergeser hingga
ditanya tentang; umurnya pada apa dia habiskan, ilmunya pada apa yang ia
amalkan, hartanya darimana dia usahakan dan kemana dia belanjakan dan
tubuhnya pada apa ia hancurkan”. (HR at-Turmudziy)
Selamat menjalani dunia baru di
perkuliahan, dunia yang kompetitif dan prestatif. Hanya merekalah yang
pandai memanfaatkan waktu yang bisa meraih kesempatan itu. Siap menjadi
mahasiswa berkualitas? Harus siap dong ya. Karena impian hanya akan
didapat oleh mereka yang berani bermimpi dan berani mengambil sikap atas
mimpinya itu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar