Kamis, 30 Oktober 2014

Merindukan Generasi Aisyah

Pola pendidikan saat ini tidak menjanjikan lahirnya generasi berilmu dan berkepribadian mumpuni sejak usia dini.
Betapa keras hidup yang dijalani Siti Aisyah Pulungan (8). Lebih dari setahun, ia tinggal nomaden di becak bersama ayahnya. Pindah dari satu tempat ke tempat lainnya di Medan Sumatera Utara, Aisyah hanya mengandalkan belas kasih orang untuk bertahan hidup.
Sejak usia setahun, Aisyah berpisah dengan ibunya. Ayahnya, Muhammad Nawawi Pulungan (56) yang tiga tahun belakangan sakit komplikasi paru, akhirnya tak mampu mencari nafkah sebagai sopir mobil boks. Uang habis untuk biaya pengobatan. Satu-satunya barang berharga hanya becak yang dibeli dengan cara mengangsur (www.detik.com).
Kini, setelah kisahnya diekspose media, berhamburan perhatian tertuju padanya. Aisyah pun bisa kembali ke sekolah. Ayahnya juga dirawat di rumah sakit dengan bebas biaya. Donatur berbondong-bondong membantu mengentaskan nasibnya. Entahlah, bagaimana kisah Aisyah jika tak dihebohkan media. Mungkin dia akan tetap menggelandang, sebagaimana Aisyah-Aisyah lain di belahan negeri ini yang tak kalah nelangsanya. Demikianlah yang terjadi pada masyarakat dan penguasa saat ini. Ibarat pemadam kebakaran, baru bertindak jika sudah rame karena muncul asap.
Kontras
Aisyah tentu tak menyangka hidupnya demikian sengsara. Orang tuanya juga pasti tak bercita-cita menyengsarakan anaknya. Sebaliknya, pasti mendamba anak gadisnya itu kelak menjadi seorang Aisyah, sebagaimana nama indah yang disandangnya, yang diambil dari istri Rasulullah SWT.
Ya, betapa agung dan harum nama beliau hingga generasi masa kini begitu bangga menyandang namanya. Sayangnya, kehidupan Aisyah masa kini, sangat kontras dengan kehidupan Aisyah di masa Rasulullah SAW. Adalah gadis kecil bernama Aisyah binti Abu Bakar yang sejak belia sudah menunjukkan kecerdasannya.
Lahir dalam lingkungan spiritual yang kental dari ayah dan kerabatnya, Aisyah sudah cukup matang menerima kehadiran suami meski usianya belum belasan. Kematangan pribadinya tak lain berkat didikan sang ayah yang juga sahabat terdekat Rasulullah SAW. Maka sejak mendampingi Rasulullah SAW, Aisyah menjelma menjadi ahli hadits saat usianya masih belia.
Bayangkan saja, beliau dikenal sosok ahli fiqih yang taat pada Rabbnya. Pada saat Rasulullah SAW meninggal dunia, usia Aisyah baru menginjak 19 tahun. Padahal ia hanya sempat sembilan tahun hidup bersama manusia agung tersebut. Artinya, sejak usia 10-an tahun Aisyah sudah bergelut dengan ilmu. Tak heran bila kemudian sepanjang hidupnya Aisyah telah memenuhi seluruh penjuru dunia dengan ilmu. Dalam hal periwayatan hadits, beliau adalah tokoh yang sulit dicari bandingannya. Ia diakui lebih memahami hadits dibanding istri-istri Rasul lainnya.
Bahkan dalam masalah jumlah hadits yang diriwayatkannya, tidak ada yang menandingi selain Abu Hurairah dan Abdullah bin Umar. “Saya tidak pernah melihat pada umat Muhammad saw, bahkan wanita secara keseluruhan, ada seorang wanita yang lebih alim dari Aisyah ra” (Ad-Dhahabi dalam kitab as Sair jilid II, hal 240)
Aisyah pun kerap menjadi pengoreksi pemahaman para sahabat dan menjadi rujukan dalam memahami praktik Rasulullah SAW. Di dalam al–Mustadrak, az-Zuhri berkomentar: “seandainya ilmu semua manusia dan ilmu istri-istri nabi digabungkan, niscaya ilmu Aisyah lebih luas dari ilmu mereka. Menurut Adz-Dzahabi, musnah Aisyah mencapai 2.210 hadits. Imam Bukhari dan Imam Muslim sepakat atas riwayat Aisyah sebanyak 140 hadits. Bukhari meriwayatkan 54 hadits Aisyah dan Muslim meriwayatkan 69 hadits.
Bahkan tak hanya menguasai fiqih dan hadits, Aisyah juga menguasai ilmu kedokteran dan sastra. Sampai-sampai Hakim Abu Abdillah berkata: “Aisyah ra membawa seperempat syariah Islam.” Dan
Urwah Ibnu Zubair berkata: Saya tidak melihat seorang pun yang lebih pandai dalam masalah ilmu fiqih, kedokteran, dan sastra selain Aisyah ra.”
Demikianlah puja-puji atas sosok Aisyah ra yang menunjukkan sosok Muslimah mulia pada usia muda. Sangat berbeda dengan apa yang dialami anak-anak di masa sekarang. Tak sedikit yang di usia kecilnya terpaksa menanggung beban berat kehidupan. Bahkan menjadi tulang punggung keluarga, ikut membantu mencari nafkah dan tinggal di jalanan.
Sungguh, anak-anak tak berdosa itu tak bisa memilih nasibnya. Jika tanpa ada uluran orangtua atau penguasa, niscaya mereka tak akan mekar menjadi generasi terbaik alias khairu ummah. Boro-boro menata masa depan sejak kecil atau sibuk bergelut dengan ilmu di usia belia, sosok seperti Siti Aisyah Pulungan hanya bisa pasrah karena bertahan hidup saja susah.
Inilah buah penerapan sistem sekuler-kapitalis yang terbukti tidak membawa kesejahteraan dan keadilan secara merata. Dunia di bawah ketiak sekulerisme, liberalisme dan demokrasi memang terlihat mengalami kemajuan di segala bidang, namun di sisi lain menyisakan fakir miskin dan gelandangan di mana-mana. Anak-anak telantar, keluarga tercerai berai, kemiskinan, kriminalitas dan dekadensi moral merajalela di mana-mana. Mau sampai kapan?
Rindu Khilafah
Sosok seperti Aisyah sangat mungkin terlahir kembali di masa modern ini, jika anak sekecil Siti Aisyah Pulungan terentaskan nasibnya, tanpa beban berat yang harus dipikulnya. Seusia Aisyah, ia seharusnya menjadi gadis kecil yang sedang seru-serunya menikmati masa kanak-kanak.
Dalam konteks pendidikan Islam, seharusnya sedang getol-getolnya mempelajari ilmu. Sedang semangat-semangatnya mencontoh teladan mulia. Sayangnya, pola pendidikan saat ini tidak menjanjikan lahirnya generasi berilmu dan berkepribadian mumpuni sejak usia dini. Sebab kurikulum terlalu sarat pelajaran-pelajaran yang sebenarnya juga tidak berguna dalam amal kehidupan nyata anak-anak. Mereka terlalu banyak dicekoki ilmu-ilmu sekuler, yang justru menjadi racun dalam otak.
Karena itu, sudah semestinya umat ini mendambakan masa-masa keemasan layaknya di masa sahabiyah Aisyah atau masa-masa kekhilafahan sesudahnya. Masa di mana anak-anak perempuan menikmati keceriaan dunianya, sekaligus menimba ilmu dan memupuk kepribadiannya, tanpa dibebani tanggung jawab berat memikirkan sesuap nasi seperti gadis Medan itu.
Masa-masa seperti itu hanya dipenuhi jika penguasa dan masyarakat secara keseluruhan hidup dalam suasana Islam. Hidup dalam kepedulian satu sama lain. Hidup tanpa ada kekurangan. Hidup dalam nuansa keimanan.
Pemimpin mengayomi rakyatnya, mencukupi kebutuhan seluruh warga negaranya, termasuk sandang, pangan, papan, pendidikan, keamanan dan kesehatan. Pemerintah tidak abai terhadap fakir miskin, anak yatim-piatu dan gelandangan. Pemerintah yang tidak bisa tidur manakala ada rakyatnya yang berada di bawah garis kemiskinan dan berupaya sekuat tenaga untuk mengentaskannya.
Pemerintah yang peduli anak-anak agar semuanya mampu mengenyam pendidikan dengan layak. Pemerintah yang legawa mengakui kegagalan sistem sekuler, liberal dan demokrasi dalam memanusiakan manusia. Pemerintah yang dengan ketakwaan dan ketakutannya pada Sang Pencipta menyadari, bahwa bumi ini milik Allah SWT, hanya aturan dari-Nya saja yang layak diterapkan. Sebab jika tidak segera kembali pada aturan-Nya, akan selalu ada episode Aisyah-Aisyah lain yang tak kalah memilukan. Sebab, ini ibarat fenomena gunung es, hanya yang terakspose media saja yang kelihatan. Lainnya masih banyak di luar sana. Maka sadarlah wahai penguasa!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar