Pola pendidikan saat ini tidak menjanjikan lahirnya generasi berilmu dan berkepribadian mumpuni sejak usia dini.
Betapa keras hidup yang dijalani Siti
Aisyah Pulungan (8). Lebih dari setahun, ia tinggal nomaden di becak
bersama ayahnya. Pindah dari satu tempat ke tempat lainnya di Medan
Sumatera Utara, Aisyah hanya mengandalkan belas kasih orang untuk
bertahan hidup.
Sejak usia setahun, Aisyah berpisah
dengan ibunya. Ayahnya, Muhammad Nawawi Pulungan (56) yang tiga tahun
belakangan sakit komplikasi paru, akhirnya tak mampu mencari nafkah
sebagai sopir mobil boks. Uang habis untuk biaya pengobatan.
Satu-satunya barang berharga hanya becak yang dibeli dengan cara
mengangsur (www.detik.com).
Kini, setelah kisahnya diekspose media,
berhamburan perhatian tertuju padanya. Aisyah pun bisa kembali ke
sekolah. Ayahnya juga dirawat di rumah sakit dengan bebas biaya. Donatur
berbondong-bondong membantu mengentaskan nasibnya. Entahlah, bagaimana
kisah Aisyah jika tak dihebohkan media. Mungkin dia akan tetap
menggelandang, sebagaimana Aisyah-Aisyah lain di belahan negeri ini yang
tak kalah nelangsanya. Demikianlah yang terjadi pada masyarakat dan
penguasa saat ini. Ibarat pemadam kebakaran, baru bertindak jika sudah
rame karena muncul asap.
Kontras
Aisyah tentu tak menyangka hidupnya
demikian sengsara. Orang tuanya juga pasti tak bercita-cita
menyengsarakan anaknya. Sebaliknya, pasti mendamba anak gadisnya itu
kelak menjadi seorang Aisyah, sebagaimana nama indah yang disandangnya,
yang diambil dari istri Rasulullah SWT.
Ya, betapa agung dan harum nama beliau
hingga generasi masa kini begitu bangga menyandang namanya. Sayangnya,
kehidupan Aisyah masa kini, sangat kontras dengan kehidupan Aisyah di
masa Rasulullah SAW. Adalah gadis kecil bernama Aisyah binti Abu Bakar
yang sejak belia sudah menunjukkan kecerdasannya.
Lahir dalam lingkungan spiritual yang
kental dari ayah dan kerabatnya, Aisyah sudah cukup matang menerima
kehadiran suami meski usianya belum belasan. Kematangan pribadinya tak
lain berkat didikan sang ayah yang juga sahabat terdekat Rasulullah SAW.
Maka sejak mendampingi Rasulullah SAW, Aisyah menjelma menjadi ahli
hadits saat usianya masih belia.
Bayangkan saja, beliau dikenal sosok
ahli fiqih yang taat pada Rabbnya. Pada saat Rasulullah SAW meninggal
dunia, usia Aisyah baru menginjak 19 tahun. Padahal ia hanya sempat
sembilan tahun hidup bersama manusia agung tersebut. Artinya, sejak usia
10-an tahun Aisyah sudah bergelut dengan ilmu. Tak heran bila kemudian
sepanjang hidupnya Aisyah telah memenuhi seluruh penjuru dunia dengan
ilmu. Dalam hal periwayatan hadits, beliau adalah tokoh yang sulit
dicari bandingannya. Ia diakui lebih memahami hadits dibanding
istri-istri Rasul lainnya.
Bahkan dalam masalah jumlah hadits yang
diriwayatkannya, tidak ada yang menandingi selain Abu Hurairah dan
Abdullah bin Umar. “Saya tidak pernah melihat pada umat Muhammad saw,
bahkan wanita secara keseluruhan, ada seorang wanita yang lebih alim
dari Aisyah ra” (Ad-Dhahabi dalam kitab as Sair jilid II, hal 240)
Aisyah pun kerap menjadi pengoreksi
pemahaman para sahabat dan menjadi rujukan dalam memahami praktik
Rasulullah SAW. Di dalam al–Mustadrak, az-Zuhri berkomentar: “seandainya
ilmu semua manusia dan ilmu istri-istri nabi digabungkan, niscaya ilmu
Aisyah lebih luas dari ilmu mereka. Menurut Adz-Dzahabi, musnah Aisyah
mencapai 2.210 hadits. Imam Bukhari dan Imam Muslim sepakat atas riwayat
Aisyah sebanyak 140 hadits. Bukhari meriwayatkan 54 hadits Aisyah dan
Muslim meriwayatkan 69 hadits.
Bahkan tak hanya menguasai fiqih dan
hadits, Aisyah juga menguasai ilmu kedokteran dan sastra. Sampai-sampai
Hakim Abu Abdillah berkata: “Aisyah ra membawa seperempat syariah
Islam.” Dan
Urwah Ibnu Zubair berkata: Saya tidak
melihat seorang pun yang lebih pandai dalam masalah ilmu fiqih,
kedokteran, dan sastra selain Aisyah ra.”
Demikianlah puja-puji atas sosok Aisyah
ra yang menunjukkan sosok Muslimah mulia pada usia muda. Sangat berbeda
dengan apa yang dialami anak-anak di masa sekarang. Tak sedikit yang di
usia kecilnya terpaksa menanggung beban berat kehidupan. Bahkan menjadi
tulang punggung keluarga, ikut membantu mencari nafkah dan tinggal di
jalanan.
Sungguh, anak-anak tak berdosa itu tak
bisa memilih nasibnya. Jika tanpa ada uluran orangtua atau penguasa,
niscaya mereka tak akan mekar menjadi generasi terbaik alias khairu
ummah. Boro-boro menata masa depan sejak kecil atau sibuk bergelut
dengan ilmu di usia belia, sosok seperti Siti Aisyah Pulungan hanya bisa
pasrah karena bertahan hidup saja susah.
Inilah buah penerapan sistem
sekuler-kapitalis yang terbukti tidak membawa kesejahteraan dan keadilan
secara merata. Dunia di bawah ketiak sekulerisme, liberalisme dan
demokrasi memang terlihat mengalami kemajuan di segala bidang, namun di
sisi lain menyisakan fakir miskin dan gelandangan di mana-mana.
Anak-anak telantar, keluarga tercerai berai, kemiskinan, kriminalitas
dan dekadensi moral merajalela di mana-mana. Mau sampai kapan?
Rindu Khilafah
Sosok seperti Aisyah sangat mungkin
terlahir kembali di masa modern ini, jika anak sekecil Siti Aisyah
Pulungan terentaskan nasibnya, tanpa beban berat yang harus dipikulnya.
Seusia Aisyah, ia seharusnya menjadi gadis kecil yang sedang
seru-serunya menikmati masa kanak-kanak.
Dalam konteks pendidikan Islam,
seharusnya sedang getol-getolnya mempelajari ilmu. Sedang
semangat-semangatnya mencontoh teladan mulia. Sayangnya, pola pendidikan
saat ini tidak menjanjikan lahirnya generasi berilmu dan berkepribadian
mumpuni sejak usia dini. Sebab kurikulum terlalu sarat
pelajaran-pelajaran yang sebenarnya juga tidak berguna dalam amal
kehidupan nyata anak-anak. Mereka terlalu banyak dicekoki ilmu-ilmu
sekuler, yang justru menjadi racun dalam otak.
Karena itu, sudah semestinya umat ini
mendambakan masa-masa keemasan layaknya di masa sahabiyah Aisyah atau
masa-masa kekhilafahan sesudahnya. Masa di mana anak-anak perempuan
menikmati keceriaan dunianya, sekaligus menimba ilmu dan memupuk
kepribadiannya, tanpa dibebani tanggung jawab berat memikirkan sesuap
nasi seperti gadis Medan itu.
Masa-masa seperti itu hanya dipenuhi
jika penguasa dan masyarakat secara keseluruhan hidup dalam suasana
Islam. Hidup dalam kepedulian satu sama lain. Hidup tanpa ada
kekurangan. Hidup dalam nuansa keimanan.
Pemimpin mengayomi rakyatnya, mencukupi
kebutuhan seluruh warga negaranya, termasuk sandang, pangan, papan,
pendidikan, keamanan dan kesehatan. Pemerintah tidak abai terhadap fakir
miskin, anak yatim-piatu dan gelandangan. Pemerintah yang tidak bisa
tidur manakala ada rakyatnya yang berada di bawah garis kemiskinan dan
berupaya sekuat tenaga untuk mengentaskannya.
Pemerintah yang peduli anak-anak agar
semuanya mampu mengenyam pendidikan dengan layak. Pemerintah yang legawa
mengakui kegagalan sistem sekuler, liberal dan demokrasi dalam
memanusiakan manusia. Pemerintah yang dengan ketakwaan dan ketakutannya
pada Sang Pencipta menyadari, bahwa bumi ini milik Allah SWT, hanya
aturan dari-Nya saja yang layak diterapkan. Sebab jika tidak segera
kembali pada aturan-Nya, akan selalu ada episode Aisyah-Aisyah lain yang
tak kalah memilukan. Sebab, ini ibarat fenomena gunung es, hanya yang
terakspose media saja yang kelihatan. Lainnya masih banyak di luar sana.
Maka sadarlah wahai penguasa!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar