Sobat, sebagai manusia dijamin nggak akan bisa mengelak untuk mencintai dan dicintai. Apalagi kalo urusan jatuh cinta, bawaannya pengin deket mulu ama pujaan hatinya. Sehari nggak liat wajahnya badan rasanya meriang, kepala nyut-nyutan, kaki kesemutan. Haha.. lebay amirr.
Menurut R. Graves dalam The Finding of Love, cinta adalah sesuatu yang dapat mengubah segalanya sehingga terlihat indah. Jalaluddin Rumi juga pernah bersyair: Karena cinta, duri menjadi mawar. Karena cinta, cuka menjelma anggur segar…. Itu sebabnya, kalo Virus Merah Jambu udah menginfeksi hati kita, perasaannya kok inget terus sama si dia, pengennya ketemu, penginnya deketan terus, kangen pengin ngobrol, sehari nggak ketemu rasanya 24 jam, seminggu nggak ketemu rasanya 7 hari, sebulan nggak ketemu rasanya 30 hari. Yeeâ emang bener.
But, sebagian dari kita mungkin kagak ngeh, atau kabur memaknai cinta, sehingga gelap mata. Karena buta itulah, cinta kadangkala bisa kejedog. Right or wrong she is mygirlfriend, artinya salah bener pokoke dia pacarku. Kira-kira begitu biasanya, ortu atawa keluarga apalagi agama, bukanlah halangan, kalo perlu backstreet atau bahkan kawin lari. Gaswat!
Dikiranya mengekpresikan cinta, nggak tahunya malah mengumbar syahwat. Persis kayak idiomnya orang Barat, kalo mereka bilang I love U biasanya emang kebelet pipis¦ ehh maksudnya kebelet making love (ML) alias bobo bareng. Dan itu udah berlaku jamak, nggak cuman di Barat. Bisa dipastikan dan bukan vonis, kalo remaja mengekpresikan cinta, sebenarnya sedang mereka umbar adalah nafsu.
Mau tahu buktinya? Berawal dari pacaran yang notabene mengumbar nafsu, beginilah jadinya. Data Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) 2010 menunjukkan, 51 persen remaja di Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi atau Jabodetabek telah berhubungan seks pranikah. “Artinya dari 100 remaja, 51 sudah tidak perawan,” kata Kepala BKKBN Sugiri Syarief usai memberikan sambutan pada acara grand final Kontes Rap memperingati Hari AIDS sedunia di lapangan parkir IRTI Monas, Ahad (liputan6.com, 28/11/2012).
Setelah berani melakukan seks bebas, maka resiko dari seks bebas adalah hilangnya virginitas. BKKBN memiliki data di tahun 2010, 54 persen remaja di Surabaya, Jawa Timur sudah kehilangan kegadisan. Pun demikian juga di kota-kota lain, seperti di Medan 2 persen remaja putrinya kehilangan kegadisan dan di Bandung angkanya mencapai 47 persen.
Apakah berhenti di situ? Tidak, setelah hilangnya keperawanan, maka akibat berikutnya, ada 2 kemungkinan, bisa terjadi aborsi bagi yang tidak menginginkan jabang bayi, atau si wanita menjual diri alias jadi wanita tuna susila, jika akhirnya si pacar nggak mau bertanggungjawab. Bagaimana data kedua keburukan tersebut?
Data BKKBN mengenai estimasi aborsi di Indonesia per tahun mencapai 2,4 juta jiwa, sebanyak 800 ribu di antaranya terjadi di kalangan remaja. “Dari 2,5 jutaan pelaku aborsi tersebut, 1 – 1,5 juta di antaranya adalah remaja. Remaja sudah bisa aktif secara seksual, namun sulit memperoleh alat kontrasepsi. Akibatnya terjadi kehamilan yang tidak diinginkan,” kata Sudibyo Alimoesa, Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga (KSPK) BKKBN saat dihubungi detikHealth, Rabu (30/5/2012)
Sementara data pekerja seks komersil di Indonesia, data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak pada tahun 2008-2009, menyebutkan dari 40 ribu sampai 70 ribu pekerja seks komersial (PSK) di Indonesia, sekitar 30 persen dilakoni anak-anak di bawah umur yakni berusia di bawah 18 tahun.
Dilarang jatuh cinta?
Wah kalo gitu dilarang dong mengekspresikan cinta?Siapa bilang begitu, nggak akan pernah ada yang bisa ngelarang. Bukan dilarang, tapi diatur. Jangan keburu menyimpulkan bahwa pacaran adalah jalan pintas untuk mengekspresikan cinta. Kalo pun harus diekspresikan dengan aktivitas saling mencintai, tentunya hanya wajib di jalan yang benar sesuai syariat. Tul nggak?
Makanya ketika cinta diobrolin maknanya jadi sempit. Kalo remaja ngobrolin cinta paling-paling nggak beda kayak sinetron atawa film itu khan. Jadi cinta cuman diartikan sempit sebagai cinta lawan jenis. Padahal Allah swt. menciptakan rasa ini dalam diri manusia nggak cuma dalam rangka memadu kasih dua insan yang lagi mabuk asmara. Tapi bisa juga berupa cinta ortu kepada anaknya, kakak kepada adiknya, suami kepada isterinya, dan seterusnya.
Kalo bukan karena cinta, nggak akan mungkin seorang bapak bekerja banting tulang, peras keringat untuk menghidupi keluarganya. Dia rela jadi tukang becak, jadi pemulung tanpa malu asalkan dapat fulus supaya bisa menyambung hidup keluarganya. Demikian pula ibu kita dengan cintanya telah rela bersusah payah mengandung kita selama 9 bulan, abis gitu harus menyusui sampe dua tahun, harus mengganti popok kalo pas kita ngompol, menyuapi ketika makan, dan seterusnya sampe kita gedhe. Coba kalo ortu kita nggak cinta sama kita, mungkin begitu lahir kita dibungkus tas kresek dimasukan tong sampah atau dibuang di selokan, biar diambil sama pemulung, karena dikiranya kita ini sampah alias pembawa sial.
Cinta bisa bemakna cinta kepada saudara seakidah. Bahkan dalam hadis Mutafaq alaih dari Anas dari Nabi saw. ia bersabda: Tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.†Tuh khan, aktivitas mencintai disetarakan dengan keimanan lho.
Kecintaan kita juga kudu kita tanamkan kepada Allah dan RasulNya. Ini malah justru yang lebih penting. Menurut al-Zujaj: Cintanya manusia kepada Allah dan RasulNya adalah menaati keduanya dan ridho terhadap segala perintah Allah dan segala ajaran yang dibawa Rasulullah sawâ€. Sehingga seorang hamba akan bersegera memenuhi seruan-Nya. Meski harus ditukar dengan cintanya pada anak-istri, keluarga, atau harta benda (lihat QS at-Taubah [9]: 24)
Bikin Prioritas Cinta
Dalam hal cinta dan kasih sayang, sebagai seorang muslim kita harus bisa membuat prioritas. Sehingga nggak salah penempatannya. Disangkanya cinta sama pacar itu masuk kategori cinta islamy, padahal jauuhhh banget alias nggak boleh ada dalam Islam. Demikian pula saking sayangnya kita pada harta benda milik kita, sampe kita nggak rela kehilangannya.
Padahal dalam Al-Qurân, telah disampaikan :“Katakanlah: Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, kerabat-kerabatmu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerusakannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu senangi lebih kau cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta jihad di jalan-Nya, maka tunggulah hingga Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS. At-Taubah: 24).
Dalam beberapa nash-nash cinta itu disetarakan dengan keimanan. Misalnya, bagi seorang mukmin tidak dianggap beriman sebelum dia mencintai saudaranya laksana dia mencinta dirinya sendiri “Perumpamaan kasih sayang dan kelembutan seorang mukmin adalah laksana kesatuan tubuh; jika salah satu anggota tubuh terasa sakit, maka akan merasakan pula tubuh yang lainnya: tidak bisa tidur dan demam.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Seorang Mukmin memiliki ikatan keimanan sehingga mereka menjadi laksana saudara (Al-Hujarat: 13), dan cinta yang meluap sering kali menjadikan seorang Mukmin lebih mendahulukan saudaranya daripada dirinya sendiri, sekalipun mereka berada dalam kesusahan (Al-Hasyr: 9).
Sobat, dari semua cinta yang kita miliki, pastikan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya menempati daftar utama dalam kehidupan kita. Yang lainnya; cinta harta, kendaraan, jabatan, status sosial, tempat tinggal, perusahaan, barang dagangan, bahkan cinta kita kepada keluarga, dan suami atau istri (bagi yang udah punya he..he..) harus rela untuk dikesampingkanâ. Allah Swt. berfirman: Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.†(QS. At-Taubah: 24)
Sobat, jika kita harus memilih cinta, pilihlah yang utama, yakni cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Boleh kok kita mencintai yang lainnya, asal jangan melupakan Allah dan Rasul-Nya. Yuk, mulai sekarang kita belajar untuk mencintai Allah, Rasul-Nya, dan Islam dengan sepenuh hati kita. Insya Allah kita bisa kok. Yakin deh.
Sebagai penutup sekaligus renungan pelaku pacaran, dalam sebagian riwayat hadits Samurah bin Jundab yang disebutkan di dalam Shahih Bukhari, bahwa Nabi Saw. bersabda: Semalam aku bermimpi didatangi dua orang. Lalu keduanya membawaku keluar, maka aku pun pergi bersama mereka, hingga tiba di sebuah bangunan yang menyerupai tungku api, bagian atas sempit dan bagian bawahnya luas. Di bawahnya dinyalakan api. Di dalam tungku itu ada orang-orang (yang terdiri dari) laki-laki dan wanita yang telanjang. Jika api dinyalakan, maka mereka naik ke atas hingga hampir mereka keluar. Jika api dipadamkan, mereka kembali masuk ke dalam tungku. Aku bertanya: Siapakah mereka itu? Keduanya menjawab: Mereka adalah orang-orang yang berzina.†Ih, naudzubillahi min dzalik.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar