Jumat, 07 November 2014

Cinta Kita Memang Beda


Sobat, sebagai manusia dijamin nggak akan bisa mengelak untuk mencintai dan dicintai. Apalagi kalo urusan jatuh cinta, bawaannya pengin deket mulu ama pujaan hatinya. Sehari nggak liat wajahnya badan rasanya meriang, kepala nyut-nyutan, kaki kesemutan. Haha.. lebay amirr.
Menurut R. Graves dalam The Finding of Love, cinta adalah sesuatu yang dapat mengubah segalanya sehingga terlihat indah. Jalaluddin Rumi juga pernah bersyair: Karena cinta, duri menjadi mawar. Karena cinta, cuka menjelma anggur segar…. Itu sebabnya, kalo Virus Merah Jambu udah menginfeksi hati kita, perasaannya kok inget terus sama si dia, pengennya ketemu, penginnya deketan terus, kangen pengin ngobrol, sehari nggak ketemu rasanya 24 jam, seminggu nggak ketemu rasanya 7 hari, sebulan nggak ketemu rasanya 30 hari. Yeeâ emang bener.
But, sebagian dari kita mungkin kagak ngeh, atau kabur memaknai cinta, sehingga gelap mata. Karena buta itulah, cinta kadangkala bisa kejedog. Right or wrong she is mygirlfriend, artinya salah bener pokoke dia pacarku. Kira-kira begitu biasanya, ortu atawa keluarga apalagi agama, bukanlah halangan, kalo perlu backstreet atau bahkan kawin lari. Gaswat!
Dikiranya mengekpresikan cinta, nggak tahunya malah mengumbar syahwat. Persis kayak idiomnya orang Barat, kalo mereka bilang I love U biasanya emang kebelet pipis¦ ehh maksudnya kebelet making love (ML) alias bobo bareng. Dan itu udah berlaku jamak, nggak cuman di Barat. Bisa dipastikan dan bukan vonis, kalo remaja mengekpresikan cinta, sebenarnya sedang mereka umbar adalah nafsu.
Mau tahu buktinya? Berawal dari pacaran yang notabene mengumbar nafsu, beginilah jadinya. Data Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) 2010 menunjukkan, 51 persen remaja di Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi atau Jabodetabek telah berhubungan seks pranikah. “Artinya dari 100 remaja, 51 sudah tidak perawan,” kata Kepala BKKBN Sugiri Syarief usai memberikan sambutan pada acara grand final Kontes Rap memperingati Hari AIDS sedunia di lapangan parkir IRTI Monas, Ahad (liputan6.com, 28/11/2012).
Setelah berani melakukan seks bebas, maka resiko dari seks bebas adalah hilangnya virginitas. BKKBN memiliki data di tahun 2010, 54 persen remaja di Surabaya, Jawa Timur sudah kehilangan kegadisan. Pun demikian juga di kota-kota lain, seperti di Medan 2 persen remaja putrinya kehilangan kegadisan dan di Bandung angkanya mencapai 47 persen.
Apakah berhenti di situ? Tidak, setelah hilangnya keperawanan, maka akibat berikutnya, ada 2 kemungkinan, bisa terjadi aborsi bagi yang tidak menginginkan jabang bayi, atau si wanita menjual diri alias jadi wanita tuna susila, jika akhirnya si pacar nggak mau bertanggungjawab. Bagaimana data kedua keburukan tersebut?
Data BKKBN mengenai estimasi aborsi di Indonesia per tahun mencapai 2,4 juta jiwa, sebanyak 800 ribu di antaranya terjadi di kalangan remaja. “Dari 2,5 jutaan pelaku aborsi tersebut, 1 – 1,5 juta di antaranya adalah remaja. Remaja sudah bisa aktif secara seksual, namun sulit memperoleh alat kontrasepsi. Akibatnya terjadi kehamilan yang tidak diinginkan,” kata Sudibyo Alimoesa, Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga (KSPK) BKKBN saat dihubungi detikHealth, Rabu (30/5/2012)
Sementara data pekerja seks komersil di Indonesia, data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak pada tahun 2008-2009, menyebutkan dari 40 ribu sampai 70 ribu pekerja seks komersial (PSK) di Indonesia, sekitar 30 persen dilakoni anak-anak di bawah umur yakni berusia di bawah 18 tahun.
Dilarang jatuh cinta?
Wah kalo gitu dilarang dong mengekspresikan cinta?Siapa bilang begitu, nggak akan pernah ada yang bisa ngelarang. Bukan dilarang, tapi diatur. Jangan keburu menyimpulkan bahwa pacaran adalah jalan pintas untuk mengekspresikan cinta. Kalo pun harus diekspresikan dengan aktivitas saling mencintai, tentunya hanya wajib di jalan yang benar sesuai syariat. Tul nggak?
Makanya ketika cinta diobrolin maknanya jadi sempit. Kalo remaja ngobrolin cinta paling-paling nggak beda kayak sinetron atawa film itu khan. Jadi cinta cuman diartikan sempit sebagai cinta lawan jenis. Padahal Allah swt. menciptakan rasa ini dalam diri manusia nggak cuma dalam rangka memadu kasih dua insan yang lagi mabuk asmara. Tapi bisa juga berupa cinta ortu kepada anaknya, kakak kepada adiknya, suami kepada isterinya, dan seterusnya.
Kalo bukan karena cinta, nggak akan mungkin seorang bapak bekerja banting tulang, peras keringat untuk menghidupi keluarganya. Dia rela jadi tukang becak, jadi pemulung tanpa malu asalkan dapat fulus supaya bisa menyambung hidup keluarganya. Demikian pula ibu kita dengan cintanya telah rela bersusah payah mengandung kita selama 9 bulan, abis gitu harus menyusui sampe dua tahun, harus mengganti popok kalo pas kita ngompol, menyuapi ketika makan, dan seterusnya sampe kita gedhe. Coba kalo ortu kita nggak cinta sama kita, mungkin begitu lahir kita dibungkus tas kresek dimasukan tong sampah atau dibuang di selokan, biar diambil sama pemulung, karena dikiranya kita ini sampah alias pembawa sial.
Cinta bisa bemakna cinta kepada saudara seakidah. Bahkan dalam hadis Mutafaq alaih dari Anas dari Nabi saw. ia bersabda: Tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” Tuh khan, aktivitas mencintai disetarakan dengan keimanan lho.
Kecintaan kita juga kudu kita tanamkan kepada Allah dan RasulNya. Ini malah justru yang lebih penting. Menurut al-Zujaj: Cintanya manusia kepada Allah dan RasulNya adalah menaati keduanya dan ridho terhadap segala perintah Allah dan segala ajaran yang dibawa Rasulullah saw”. Sehingga seorang hamba akan bersegera memenuhi seruan-Nya. Meski harus ditukar dengan cintanya pada anak-istri, keluarga, atau harta benda (lihat QS at-Taubah [9]: 24)
Bikin Prioritas Cinta
Dalam hal cinta dan kasih sayang, sebagai seorang muslim kita harus bisa membuat prioritas. Sehingga nggak salah penempatannya. Disangkanya cinta sama pacar itu masuk kategori cinta islamy, padahal jauuhhh banget alias nggak boleh ada dalam Islam. Demikian pula saking sayangnya kita pada harta benda milik kita, sampe kita nggak rela kehilangannya.
Padahal dalam Al-Qurân, telah disampaikan :“Katakanlah: Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, kerabat-kerabatmu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerusakannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu senangi lebih kau cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta jihad di jalan-Nya, maka tunggulah hingga Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS. At-Taubah: 24).
Dalam beberapa nash-nash cinta itu disetarakan dengan keimanan. Misalnya, bagi seorang mukmin tidak dianggap beriman sebelum dia mencintai saudaranya laksana dia mencinta dirinya sendiri “Perumpamaan kasih sayang dan kelembutan seorang mukmin adalah laksana kesatuan tubuh; jika salah satu anggota tubuh terasa sakit, maka akan merasakan pula tubuh yang lainnya: tidak bisa tidur dan demam.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Seorang Mukmin memiliki ikatan keimanan sehingga mereka menjadi laksana saudara (Al-Hujarat: 13), dan cinta yang meluap sering kali menjadikan seorang Mukmin lebih mendahulukan saudaranya daripada dirinya sendiri, sekalipun mereka berada dalam kesusahan (Al-Hasyr: 9).
Sobat, dari semua cinta yang kita miliki, pastikan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya menempati daftar utama dalam kehidupan kita. Yang lainnya; cinta harta, kendaraan, jabatan, status sosial, tempat tinggal, perusahaan, barang dagangan, bahkan cinta kita kepada keluarga, dan suami atau istri (bagi yang udah punya he..he..) harus rela untuk dikesampingkanâ. Allah Swt. berfirman: Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (QS. At-Taubah: 24)
Sobat, jika kita harus memilih cinta, pilihlah yang utama, yakni cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Boleh kok kita mencintai yang lainnya, asal jangan melupakan Allah dan Rasul-Nya. Yuk, mulai sekarang kita belajar untuk mencintai Allah, Rasul-Nya, dan Islam dengan sepenuh hati kita. Insya Allah kita bisa kok. Yakin deh.
Sebagai penutup sekaligus renungan pelaku pacaran, dalam sebagian riwayat hadits Samurah bin Jundab yang disebutkan di dalam Shahih Bukhari, bahwa Nabi Saw. bersabda: Semalam aku bermimpi didatangi dua orang. Lalu keduanya membawaku keluar, maka aku pun pergi bersama mereka, hingga tiba di sebuah bangunan yang menyerupai tungku api, bagian atas sempit dan bagian bawahnya luas. Di bawahnya dinyalakan api. Di dalam tungku itu ada orang-orang (yang terdiri dari) laki-laki dan wanita yang telanjang. Jika api dinyalakan, maka mereka naik ke atas hingga hampir mereka keluar. Jika api dipadamkan, mereka kembali masuk ke dalam tungku. Aku bertanya: Siapakah mereka itu? Keduanya menjawab: Mereka adalah orang-orang yang berzina.” Ih, naudzubillahi min dzalik.

Players VS Dreamers


Sob, kalo kamu tergolong bukan manusia MASKULIN alias manusia kutinggalan informasi (he he singkatan yang maksa ya) pasti ngeh dengan berita yang bisa dibilang heboh beberapa waktu yang lalu. Yup, berita tentang mobil EseMka alias mobil yang dibikin (lebih tepatnya dirakit) oleh anak-anak yang sekolah di SMK. Trus, nggak cuman itu, mereka juga bikin pesawat terbang, dan merakit laptop. Heeum¦, sebuah prestasi yang patut diacungi jempol dan layak dapat gelar, LIKE THIS !
Sebenarnya cukup banyak prestasi-prestasi anak negeri, mulai dari juara olimpiade, sampe perlombaan iptek dan robot tingkat nasional maupun internasional. Tapi kayaknya prestasi itu harus rela tertelan berita heboh, pemenang audisi, atau ajang pencarian bakat, yang masih menempati prime time di televisi-televisi kita. Sepertinya cara pandang tentang sebuah “prestasi” bagi masyarakat kita, masih seputar yang bersifat glamour, sensatif, dan pastinya heboh. Lihat saja, ketika ada ajang audisi, teman-teman kita pada bejibaku pengin mendaftar. Para orang tuanya juga bangga banget kalo anaknya lolos audisi. Ditambah keluarga besar, tetangga, handai taulan sampe orang yang nggak kenal sekalipun, ikutan heboh dengan mendukungnya via sms premium.
Coba bayangkan, tentu akan berbeda hasilnya, andaikata ketika mulai dari perhatian sampe duit yang dicurahkan di audisi itu diarahkan ke prestasi-prestasi yang sifatnya lebih ilmiah, macam mobil esemka tadi. Bisa jadi karena kurang dukungan, kurang diperhatikan, bahkan bisa jadi karena kurang duit, mobil esemka yang harusnya bisa jadi kebanggan prestasi anak negeri, tapi uji emisi aja nggak lolos, sehingga harus dikaji ulang, untuk diproduksi dalam jumlah banyak.
Soal pemberitaan di media pun antara berita prestasi anak SMK dengan berita audisi, bisa dibilang nggak berimbang. Ya, sekaligus ini menjadi bukti kalo media kita lebih berorientasi materi (baca:duit). Tentu saja, karena lebih banyak disukai masyarakat, ajang audisi itu lebih banyak mengundang sponsor untuk beriklan di teve. Disamping memang, kita tiap hari dicekoki (baca: dipaksa) oleh media untuk menelan berita dan hiburan macam audisi itu. Bahkan kalo boleh bin perlu, presiden sampe wakil rakyat pun bisa di audisi oleh media.
Padahal sadar atau nggak, pemaksaan yang dilakukan oleh media tersebut membawa generasi kita kepada jurang lost generation. Loh koq bias gitu? Iya, sengaja atau nggak berita dan hiburan tentang audisi tersebut membawa kita kepada budaya konsumtif, hedonistic, yang menghasilkan manusia-penikmat bukan pencipta, generasi dreamers bukan players. Coba perhatikan saja, siapa-siapa yang bisa berprestasi dibidang ilmiah, seperti juara olimpiade tingkat nasional maupun internasional? Bisa di hitung dengan jari kan, kalo mau dibandingkan dengan generasi kita yang lebih doyan jejingkrakan, teriak histeris, pemuja dan pendukung pujannya di audisi atau pencarian bakat?
Ini serius, jika para remajanya yang ada bukan prestasi, tapi malah bikin aib, mulai dari narkoba, pornografi, tawuran dan lain sebagainya. Maka kekhawatiran akan lost generation, bukan isapan jempol apalagi isapan kelingking hehehe
Salah Kiblat
Ngomong-ngomong soal prestasi, sekali lagi ini soal cara pandang tentang sebuah prestasi dan tentu saja tentang kiblat kita dalam menentukan sesuatu layak disebut prestasi atau nggak. Kita mungkin sepakat, bagi yang doyan bola, kepiawaian Lionel Messi mengkocek bola bisa disebut prestasi dibanding, bola nasional yang kalah 10 gol saat lawan Bahrain. Bagi yang gila balap motor, mungkin sepakat untuk memberikan acungan prestasi kepada Valentino Rosie. Bagi yang doyan film laga silat, mungkin sepakat untuk mengatakan Jet Lee, emang jagonya, dan seterusnya.
Tapi bagiyang nggak suka bola, nggak doyan balap motor, dan nggak ngeh film laga, maka nggak akan ngaruh prestasi-prestasi mereka itu. Itulah kenapa juga, remaja kita merasa perlu untuk berdandan ala artis K-Pop, ngerasa wajib makan junk food, itu karena mereka menganggap itulah sebuah prestasi. Ya, adalah sebuah prestasi bagi remaja pada khususnya, dan masyarakat pada umumnya sekarang ini ketika sudah bisa menyamai atau meniru Barat.
Coba Kalo Kiblatnya Islam
Kalo sahabat jeli, soal prestasi yang selama ini dimiliki Barat, ada 3 (dua) hal yang harusnya jadi perhatian kita. Pertama, prestasi Barat di satu sisi lebih karena mereka menanggalkan agama untuk mengatur kehidupan mereka, alias sekular. Kalo mau disepadankan prestasi sebagai sebuah kebahagiaan, maka sejatinya kebahagiaan semu. Gimana nggak semu, kalo yang mereka sebut prestasi adalah ketika mengumbar aurat alias pornografi dan pornoaksi di film, foto demi untuk mendapatkan uang. Gimana bisa dikatakan kebahagiaan yang kekal, kalo yang mereka sebut prestasi adalah ketika merampok kekayaan negeri-negeri muslim, seperti yang dilakukan Amrik dengan perusahaan PT. Freeport-nya di pegunungan Jayawijaya, Papua.
Kedua, prestasi nya Barat sekarang ini lebih karena dulunya mencontek Islam. Prof. G. Margoliouth dalam De Karacht van den Islam menuliskan, “Penyelidikan telah menunjukkan, bahwa yang diketahui oleh sarjana-sarjana Eropa tentang falsafah, astronomi, ilmu pasti, dan ilmu pengetahuan semacam itu, selama beberapa abad sebelum Renaissance, secara garis besar datang dari buku-buku Latin yang berasal dari bahasa Arab, dan Quran-lah yang, walaupun tidak secara langsung, memberikan dorongan pertama untuk studi-studi itu di antara orang-orang Arab dan kawan-kawan mereka”
Ketiga, prestasi yang dimiliki Barat saat ini, lebih karena hegemoni dan dominasi negara-negara macam Amrik dan Inggris. Artinya, mereka lah yang saat ini yang menjadi penguasa di dunia saat ini, sehingga wajar kalo mereka yang dijadikan kiblat, atau memaksakan diri untuk harus jadi kiblat bagi negara-negara lain.
Sehingga sebagai muslim, harusnya kita nggak silau dengan prestasi yang selama ini ditebar Barat lewat media apapun. Karena sejatinya, kita sebagai seorang muslim harusnya lebih bangga berkiblat pada Islam. Sekedar mengingatkan, coba kita simak kutipan berikut:
Patut diingat,bahwa Quran memegang peranan yang lebih besar terhadap kaum muslimin daripada Bibel dalam agama Kristen. Demikianlah, setelah melintasi masa selama 13 abad Quran tetap merupakan kitab suci bagi seluruh Turki, Iran, dan hampir seperempat penduduk India. Sungguh, sebuah kitab seperti ini patut dibaca secara meluas di Barat, terutama di masa kini❠(E. Denisen Ross, seperti dikutip dalam buku Kekaguman Dunia Terhadap Islam).
Itulah sob, pengakuan orang Barat terhadap Islam. Itu artinya, Islam itu pernah berprestasi dan pasti masih menyimpan prestasi, jika diterapkan lagi seperti pernah diterapkan selama 13 abad. Bahkan pada masa kejayaan yang 13 abad tersebut, Islam memang menjadi super power, menjadi kiblat bagi dunia saat itu. Bisa dibilang, ilmuwa-ilmuwan Barat yang sekarang lebih kita kenal dalam pelajaran sekolah kita adalah terilhami dari ilmuwan-ilmuwa Muslim saat itu.
Maka bangunlah the dreamers, saatnya untuk beraksi menjadi the players dengan menjadikan Islam satu-satunya kiblat dalam ukuran berprestasi.

Rabu, 05 November 2014

Beriringan Bukan Berurutan….


Ada yang nggak pede untuk aktif dalam dakwah karena ngerasa pribadinya aja belon bener. Ini masih mending ya, coba mengukur kapasitas diri sebelum unjuk gigi. Ada yang lebih parah komentarnya untuk urusan dakwah. “Diri loe aja belon tentu bener, udah belagunya benerin orang lain. Ngaca dong!” Waduh!
Kesempurnaan pribadi sering dijadikan ukuran untuk menilai apakah seseorang itu layak aktif dalam dakwah atau nggak. Seolah mereka yang penampilannya gaul dan cenderung ‘amburadul’ belon pantas ngasih tausyiah. Atau yang usianya masih muda dianggap anak bawang yang belon banyak pengalaman sehingga nggak pantas mengingatkan yang lebih tua. Apalagi seorang ulama.
Terkait kesempurnaan pribadi ini, kita layak merenungi pesan dari Imam Hasan al-Bashri. Simak yo!
Imam Hasan al-Bashri rahimahullah, beliau berkata, “Wahai manusia, sesungguhnya aku tengah menasehati kalian, bukan berarti aku orang terbaik di antara kalian, bukan pula orang yang paling shalih di antara kalian. Sungguh, akupun telah banyak melampaui batas terhadap diriku. Aku tidak sanggup mengekangnya dengan sempurna, tidak pula membawanya sesuai dengan kewajiban dalam menaati Rabb-nya. Andaikata seorang muslim tidak memberi nasehat kepada saudaranya kecuali setelah dirinya menjadi orang yang sempurna, niscaya tidak akan ada para pemberi nasehat. Akan menjadi sedikit jumlah orang yang mau memberi peringatan dan tidak akan ada orang-orang yang berdakwah di jalan Allah Subhanahu wa ta’ala, tidak ada yang mengajak untuk taat kepada-Nya, tidak pula melarang dari memaksiati-Nya.Namun dengan berkumpulnya ulama dan kaum mukminin, sebagian memperingatkan kepada sebagian yang lain, niscaya hati orang2 yang bertaqwa akan hidup dan mendapat peringatan dari kelalaian serta aman dari lupa dan kekhilafan.Maka terus-meneruslah berada pada majelis2 dzikir (majelis ilmu), semoga Allah Subhanahu wa ta’ala mengampuni kalian. Bisa jadi (ada) satu kata yg terdengar (di sana) dan kata itu merendahkan (diri kita) namun sangat bermanfaat (bagi kita). Bertaqwalah kalian semua kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dengan sebenar-benar taqwa dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan muslim.” (Mawai’zh lil Imam Al-Hasan Al-Bashri, hal. 185-187)
Rasul juga meminta sahabatnya untuk bersegera menyampaikan risalah Islam ke yang lain tanpa menunggu mereka sempurna.Kebayang nggak, apa jadinya kalo setiap orang menunggu sempurna pribadinya baru berani mengingatkan orang lain. Bisa-bisa, nggak akan ada pengemban dakwah. Karena sebagai manusia, tak luput dari kesalahan dan lupa. Nobody is perfect. Kecuali mereka yang melabeli dirinya ‘NOBODY’. Hehehe… Unsubscribe aja deh jadi muslim kalo cuman mikirin diri sendiri!
Sehingga untuk memperbaiki orang lain, tak harus menunggu diri sendiri baik terlebih dahulu. Idealnya keduanya dilakukan BERIRINGAN bukan BERURUTAN. Sambil kita ikut ngaji untuk memperbaiki diri kita juga aktif berdakwah demi meraih ridho illahi. Doubel pahalanya. Sehingga satu sama lain bisa saling MENGINGATKAN dan MENGUATKAN. Yuk kita ngaji dan dakwah yang wajibnya sama seperti menunaikan shalat lima waktu atau puasa Ramadhan. Pantaskan diri jadi penghuni surga dengan aktif ngaji dan dakwah. Sampai nanti sampai mati. Mulai hari ini. Jangan tunggu malaikat Ijroil datang menghampiri!.