Selama ini memang ada anggapan perempuan adalah sosok materialistis. Istilah gaulnya cewek matre. Mana ada perempuan yang tak tergiur dengan harta. Cari suamipun yang kaya raya. Tak peduli duda, sudah bersuami atau tua renta, yang penting nafkah terjamin.
Apalagi, biaya hidup perempuan saat ini
sangat tinggi. Fashion harus up to date dan bermerek. Tas dan sepatu
wajib branded original. Perawatan tubuh mulai ujung rambut sampai ujung
kaki butuh ratusan ribu rupiah rutin. Kosmetik pemutih hingga produk
pelangsing jadi anggaran belanja wajib.
Kaum lelaki pun seperti sudah mahfum
dengan paradigma ini. Mereka paham betul dengan ungkapan: ada uang abang
disayang, tak ada uang abang ditendang. Ya, kaum adam tahu benar
memanfaatkan kelemahan perempuan. Umpan berupa materi hampir pasti akan
selalu mulus ¨memelet¨ kaum hawa.
Bagi laki-laki, buruk rupa atau usia
renta bukan kendala. Asal harta berlimpah, wanita–yang paling cantik dan
seksi sekalipun—mudah digaet. Itu pula yang mendorong laki-laki bekerja
keras–kalau perlu culas—demi menumpuk harta. Tak peduli jalan haram,
yang penting hasrat tersalurkan. Sungguh bukan perilaku terpuji, apalagi
islami.
Tanpa bermaksud merendahkan para
perempuan yang terseret dalam pusaran kasus di atas, terbukti harta
memang telah menggelapkan mata. Norma-norma kebaikan pun dilanggar.
Terlebih syariah Islam, tak lagi dihiraukan.
Itu semua terjadi karena para perempuan
kebanyakan sudah dicuci otaknya oleh pemahaman sekuler-kapitalis yang
memberhalakan harta. Bagi mereka, kebahagiaan adalah diperolehnya
sebanyak mungkin materi. Suami kaya, rumah bagus, mobil mewah hingga
perhiasan mentereng adalah tujuannya.
Bahkan, jika suami tak mampu
memberikannya, dia sendirilah yang akan maju untuk memperebutkan harta
dan tahta. Bertameng ¨keadilan dan kesetaraan gender¨, saat ini semakin
banyak perempuan disibukkan mencari pundi-pundi materi dengan bekerja
atau menjadi pejabat. Bahkan, rela sekadar mengeksploitasi tubuhnya
untuk kepuasan kaum Adam dengan imbalan menggiurkan.
Pembela Kebenaran
Dalam filosofi masyarakat Jawa, posisi
istri terhadap suami diistilahkan: ¨surgo nunut, neraka katut” (surga
ikut, neraka terbawa). Artinya, masa depan istri itu tergantung suami.
Bila suami berperilaku baik hingga masuk surga, istri pun akan serta.
Sebaliknya, bila suami masuk neraka, istri akan terbawa juga.
Memang, istri atau suami akan
mempertanggungjawabkan perbuatannya masing-masing. Namun, idealnya
antara suami dan istri saling membentengi diri agar tidak terjerumus
dalam perbuatan dosa sehingga sama-sama bisa menuju surga. Allah SWT
berfirman: Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan
keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu;
penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai
Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu
mengerjakan apa yang diperintahkan” (TQS Tahrim 66:6)
Semestinya, para istri menjadi pengerem
para suami agar berada pada rel kejujuran dalam melaksanakan tugas
pernafkahannya. Jangan serta merta bangga ketika suami berhasil
meningkatkan uang belanja, tapi layak untuk curiga. Apalagi jika suami
¨hanya¨ berstatus pegawai dengan gaji rutin yang bisa dihitung.
Banyak kasus, pegawai atau pejabat
korupsi karena dirongrong istri yang tak pernah puas dengan jatah uang
bulanan. Apalagi para istri yang selalu memandang ¨rumput tetangga lebih
hijau dari rumput rumahnya.¨
Demikian pula para perempuan lajang,
jangan mudah terpana dengan kemewahan yang disodorkan kaum Adam. Jangan
menjual harga diri dengan begitu mudah, sekadar diiming-imingi hadiah
yang mencurigan, sekalipun tanpa pamrih. Hari gini, tidak ada makan
siang gratis. Tak ada laki-laki yang begitu royal menggelontorkan harta
bendanya jika tanpa maksud tersembunyi. Toh cepat atau lambat, akhirnya
terbongkar juga kebusukannya.
Muslimah Zuhud
Tak ada larangan bagi wanita untuk
menikmati dunia. Harta adalah salah satu kesenangannya. Mengoleksi baju,
tas, sepatu atau rumah mewah tidak diharamkan, selama diperoleh dengan
jalan yang diridhoi Allah SWT. Namun ingatlah, harta bukanlah segalanya.
Harta tak akan menyelamatkan diri di akhirat jika tidak dimanfaatkan
untuk kebajikan.
Dalam hal ini, mari kita meneladani para
shahabiyah atau generasi muslimah islam terdahulu. Tak sedikit dari
mereka yang berlimpah harta, namun tetap menempatkan ketakwaan di atas
segalanya. Bahkan, lebih memilih zuhud dibanding bergelimang harta.
Salah satunya adalah kisah istri Said
bin Amir, Gubernur Provinsi Himash di masa kekhalifahan Umar bin
Khattab. Suatu ketika, Khalifah Umar meminta delegasi dari Provinsi
Himash untuk menuliskan daftar fakir miskin yang berhak diberi bantuan
dari kas negara. Umar heran karena terdapat nama Said bin Amir. “Siapa
Said bin Amir ini?” tanya Umar. “Gubernur kami,” jawab mereka. “Apakah
gubernur kalian fakir?” selidik Umar. Mereka membenarkan, “Demi Allah,
kami jadi saksi.” Umar menangis, kemudian memasukkan seribu dinar ke
dalam sebuah kantong dan meminta mereka menyerahkannya kepada sang
gubernur.
Menerima sekantong uang berisi seribu
dinar, Said langsung membaca: Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un,
seolah satu musibah besar menimpanya. Istri gubernur bertanya: “Apa yang
terjadi? Apakah Amirul Mukminin wafat?” “Lebih besar dari itu,” jawab
Said. “Telah datang dunia kepadaku untuk merusak akhiratku.”
“Bebaskan dirimu dari malapetaka itu,”
saran istrinya, tanpa mengetahui bahwa malapetaka itu adalah uang seribu
dinar. Said bertanya: “Apakah kamu mau membantuku?” Istrinya
mengangguk. Ia meminta istrinya untuk segera membagikan seribu dinar itu
untuk fakir miskin, tanpa sisa untuk keluarganya. Sungguh perilaku
istri yang layak dipuji. Wallahuálam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar