Belakangan
ini lagi rame dibahas di berbagai sosmed (Social Media) tentang istilah
JILB**BS. Bahkan di facebook, ada fanpage jilb**bs dengan belasan ribu
orang yang ngasih tanda ‘like’. Ada yang pro, tapi banyak juga yang
kontra. Jilb**bs berasal dari perpaduan antara kata jilbab dan b**bs
(baca: dada wanita). Istilah ini diterapkan bagi perempuan-perempuan
berkerudung tapi masih pake baju yang ketat plus majang aurat. Gak
tanggung-tanggung, dandanan orang yang dicap jilb**bs itu hampir
mempertontonkan semua aurat perempuan. Bagian-bagian tubuh yang
seharusnya disamarkan, ini malah dijadiin tontonan gratisan. Bukan cuma
menyalahi aturan berhijab, tapi juga mengaburkan arti jilbab yang
sebenarnya.
Walaupun istilah jilb**bs atau jilbabe
dipake dengan nada ‘menyindir’, tapi hal itu adalah salah jika memadukan
istilah syar’i dengan istilah asing yang berkonotasi negatif. Kata
b**bs atau babe, punya artian yang negatif di masyarakat. Sedangkan
jilbab itu sendiri bersal dari Bahasa Arab yang jamaknya jalaabiib yang
berarti pakaian yang lapang dan luas. Di Al-Qur’an sendiri udah jelas
Allah SWT berfiman dalam QS. Al-Ahzab ayat 59 yang artinya :
“Hai Nabi katakanlah kepada
istri-istrimu, anak- anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin:
Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang
demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka
tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Jadi jelas kan, kalo jilbab itu sejenis
baju kurung yang menjulur ke seluruh tubuh. Selain memenuhi syarat pakan
yang syar’i, jilbab juga bisa melindungi aurat perempuan. Ayat ini
perintah Allah loh, maka hukumnya wajib bagi setiap muslim
menyempurnakan pakaiannya sesuai sama yang diperintahkan dan
dicontohkan. Jilbab sendiri, baru pakaiannya aja. Penutup kepala yaitu
khimar, yang perintahnya tertera dalam QS. An-Nur ayat 31, atau yang
bisa kita sebut kerudung juga punya syarat tertentu.
Khimar atau kerudung adalah apa yang dapat menutupi kepala, leher dan dada tanpa menutupi muka (Al-Baghdadiy, 1991)
Dari sini kita bisa ngerti apa itu
jilbab dan tahu alasan kenapa kita gak boleh mencampur-baurkan istilah
jilbab dengan istilah-istilah asing yang berkonotasi negatif.
Menyebutkan jilbab kemudian digandengkan dengan kata kotor, untuk
membelokkan maksudnya kepada maksud lain yang buruk justru merendahkan
syara itu sendiri. Bahkan bisa jadi merupakan pelecehan terhadap syariah
Islam.
Walau bisa jadi istilah jilb**bs dipakai
untuk mengingatkan/mendakwahi sesama muslim yang belum mengerti dan
menerima betul perintah Allah tentang menutup aurat, tapi bukan berarti
memplesetkan istilah Syara’ dong. Alih-alih mengharapkan pahala bisa
jadi malah dapet dosa. Berdakwah itu bukan cuma bermodal semangat dan
motivasi yang tinggi, tapi juga paham ilmunya secara luas dan mendalam.
Menampikan istilah jilb**bs bukan
berarti mengadu domba kaum muslim dan menyudutkan mereka yang ‘masih
belajar’ berhijab. Tapi justru ngasih pencerahan plus pemahaman yang
benar tentang gimana hijab yang syar’i itu. Memilih Islam sebagai agama,
berarti harus siang dong sama konsekuensi yang ada, termasuk menerima
dan menjalankan aturan Allah SWT, tanpa tapi, tanpa nanti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar