Senin, 27 Oktober 2014

Kritik Kesalahan Jilboobs, Inilah Seharusnya Muslimah Berpakaian


Di tengah booming busana Muslimah, muncui fenomena jilboobs yang kini sedang menjadi perbincangan. Istilah tersebut dipopulerkan sebuah akun media sosial. Kata-kata itu merupakan gabungan kata jilbab dan boobs yang diartikan (maaf) payudara. Jadi, jilboobs adalah julukan untuk perempuan yang menutup aurat tetapi berpakaian super ketat, terutama bagian dadanya yang menonjol.
Foto-foto candid para jilboobers itu sendiri, ada di blog sejak 2009 dan nangkring di Facebook sejak Januari 2014. Kini, di twitter juga ada beberapa akun sejenis.
Nah, foto-foto Muslimah berpakaian ketat ini dipajang sehingga menimbulkan komentar pro dan kontra. Tentu saja, melihat foto Muslimah berkerudung lalu dadanya nyeplak, perutnya nongol atau pantatnya ngintip, muncullah komentar- komentar bernada mesum. Miris. Para Muslimah menjadi bahan olok-olok, dinilai perempuan bermoral buruk. Duh, miris!
Korban Latah
Sejatinya kita menghargai upaya para Muslimah yang belakangan ini rame-rame menutup aurat. Walaupun banyak – sekali yang cara menutup auratnya belum benar, boleh jadi, itulah “proses” mereka untuk berusaha menjalankan syariat agama.
Sayangnya, niat itu tidak dibarengi ilmu. Mereka tampaknya hanya sayup- sayup mengerti bahwa menutup aurat itu wajib bagi Muslimah, tapi tidak mendalami dan mengkaji serius bagaimana tata cara menutup aurat yang benar kepada ahlinya. Mereka absen mengaji.
Justru mereka merujuk cara berhijab pada desainer, fashionista, atau artis, bukan pada ahli agama, ustazah atau daiyah. Buktinya, akun-akun media sosial para artis, desainer atau hijaber itu memiliki ribuan, puluhan ribu dan bahkan jutaan follower. Para orang top itu menjadi inspirasi dalam bergaya dan berbusana. Padahal sebagian orang terkenal itu masih mengenakan busana lamanya yang antilonggar. Akibatnya, mereka menutup aurat sekadar ikut- ikutan. Para Muslimah yang baru mengenal hijab pun, trial and error. Habis-habisan berusaha meniru gaya mereka.
Di sisi lain, pola pikir mereka masih disetir pemahaman sekuler-kapitalis. Mereka terjajah pemikiran bahwa “berbusana harus terlihat trendy, up to date dan menonjolkan kecantikan.” Khas pemikiran ideologi sekuler-liberal dalam mendefinisikan apa itu busana, penampilan dan kecantikan.
Para jilboobs itu, berusaha keras tidak ketinggalan mode busana apapun yang sedang trend, padahal juga ingin menutup aurat. Akhirnya dikombinasikanlah pakaian ala sekuler dengan kerudung penutup kepala. Sebab, dalam hati kecilnya, mereka tidak rela 100 persen meninggalkan pakaian sekulernya seperti jeans, legging, tank top, dress dan sejenisnya.
Jadilah seorang Muslimah memakai celana pensil dipadu t-shirt, lalu kepala dibungkus kerudung. Ada pula yang memakai tank top, manset tangan, rok mini dipadu legging, lalu dibungkus rambutnya dengan turban.Yang lain pakai dress kutung bahan nyeplak, tambah blazer ketat di tangan, dipadu jeans belel dan rambut dibungkus selendang lilit leher. Tentu saja cara seperti itu belum memenuhi kaidah busana syar’i. Sayangnya, mereka tidak menyadari kekeliruan tersebut. Bahkan, merasa tetap keren, moderen dan up to date.
Haram Antilonggar
Fenomena jilboobs mudah- mudahan menjadi otokritik bagi para Muslimah itu sendiri.Tanggapan berbagai pihak, semoga didengar para Muslimah yang dicap jilboobs tersebut. Kemudian, tentu saja, mereka rame-rame membetulkan cara berbusananya. Apalagi, Majelis Ulama Indonesia (MUI) sudah mengeluarkan penilaian tentang keharaman jilboobs.
Para Muslimah yang berpakaian tapi masih ketat harus menyadari bahwa cara seperti itu telah mengundang pelecehan terhadap busana Muslimah khususnya, perempuan Muslimah umumnya dan bahkan pelecehan terhadap Islam itu sendiri. Cara berpakaian ketat sama sekali bukan ajaran Islam, bahkan bertentangan dengan Islam. Cara berpakaian pressbody itu adalah ajaran sekuler, karena sekali lagi, pakaian bagi mereka adalah identitas untuk menonjolkan bagian tubuh.
Lihat saja bagaimana desainer-desainer kondang atau figur publik di pusat mode dunia Barat – yang kemudian ditiru industri fashion Indonesia-, selalu mendesain busana yang pas badan. Tidak boleh longgar satu milimeter pun. Makin pas badan, makin mahal dan makin keren.
Bahkan belakangan ini sedang trend busana transparan-kalau tidak boleh disebut telanjang—yang dikenakan para selebriti dan sosialita dunia Barat. Anggota tubuh paling privat pun bahkan dibiarkan ngintip di sela-sela busananya. Makin kelihatan, makin menarik perhatian.
Sebaliknya, dalam Islam, pakaian haruslah antiketat alias longgar, antitransparan alias tidak tipis, sederhana, tidak tabaruj dan tidak menarik perhatian. Sebab, pakaian adalah identitas ketakwaan, penutup bagian tubuh yang sejatinya memalukan.
Hijab Syar’i
Munculnya jilboobs menunjukkan pentingnya sebuah “keseragaman” dalam mendefinisikan apa itu pakaian Muslimah yang syar’i. Apa itu hijab, jilbab dan kerudung (khimar). Sebab, ternyata kriteria pakaian Muslimah yang terlalu umum seperti: tidak ketat dan tidak transparan, bisa diterjemahkan beragam rupa. Akibatnya, tampilan busana Muslimah muncul dengan 1001 macam gaya. Terkadang malah terkesan lebay, nyeleneh dan bahkan menjijikkan.
Nah, “keseragaman” itu sebenarnya sudah dirancang oleh Allah SWT, Dzat Yang Maha Tahu pakaian seperti apa untuk kebaikan manusia. Allah SWT memerintahkan Muslimah untuk mengenakan hijab yang sempurna yaitu: jilbab (QS: Al Ahzab 59), khimar (QS AnNur 23) dan tidak tabaruj (QS: Al Ahzab 33)
Desain basic busana Muslimah adalah: pertama, jilbab, yakni pakaian yang terulur ke seluruh tubuh, longgar tanpa potongan dan menutup hingga ke dasar kaki. Nah, kalau tubuh sudah ditutup jilbab longgar tanpa terputus dari pundak sampai tanah bak terowongan ini, niscaya bagian tubuh yang menonjol-menonjol tidak akan terekspos.
Kedua, khimar, yakni kerudung penutup kepala sampai juyub (bukaan baju di bagian dada); Kerudung ini bukan pembungkus kepala atau pembungkus rambut, tapi penutup kepala yang diulurkan sampai dada. Khimar juga bukan pengganti rambut yang bisa dimodal-model agar tampak menawan. Nanti jatuhnya tabaruj.
Ketiga, tidak tabaruj. Yakni, tidak menonjolkan kecantikan sehingga menarik perhatian. Dan perlu diperhatikan, sebelum mengenakan jilbab dan khimar, pakaian rumah (mihnah), tetap dikenakan. Jadi, jilbab adalah pakaian luar yang melapisi pakaian rumah. Nah, kalau basic-nya tetap syar’i, soal model, warna, motif dan desainnya tidak jadi masalah. Islam tidak kaku dan tidak melarang kreativitas Muslimah untuk menata busananya seindah dan senyaman mungkin. Yang penting, tidak diniatkan untuk menarik perhatian. Apalagi menginspirasi pelecehan.
Berhijab dengan jilbab dan khimar syar’i, mampu menutup bagian-bagian seksi perempuan dengan sempurna. Dan, kewajiban ini harus segera ditunaikan tanpa alasan, tanpa penundaan. Tidak pula karena alasan sedang berproses metamorfose, dari pakaian sekuler yang nyaris telanjang, jadi pakaian serba tertutup yang lebih sopan, meningkat lagi jadi jilboobs dulu, baru hijab syar’i. Tidak! Tak ada toleransi dalam menjalankan syariat Islam. Apakah kewajiban shalat yang kita terima juga kita lakukan dengan bertahap dan berproses? Tidak, bukan? Dengan begitu, semoga tidak ada lagi Muslimah yang berpakaian ala jilboobs.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar