Di tengah booming busana Muslimah, muncui fenomena jilboobs yang kini sedang menjadi perbincangan. Istilah tersebut dipopulerkan sebuah akun media sosial. Kata-kata itu merupakan gabungan kata jilbab dan boobs yang diartikan (maaf) payudara. Jadi, jilboobs adalah julukan untuk perempuan yang menutup aurat tetapi berpakaian super ketat, terutama bagian dadanya yang menonjol.
Foto-foto candid para
jilboobers itu sendiri, ada di blog sejak 2009 dan nangkring di Facebook
sejak Januari 2014. Kini, di twitter juga ada beberapa akun sejenis.
Nah, foto-foto Muslimah berpakaian ketat ini dipajang sehingga menimbulkan komentar pro dan kontra. Tentu saja, melihat foto Muslimah berkerudung lalu dadanya nyeplak,
perutnya nongol atau pantatnya ngintip, muncullah komentar- komentar
bernada mesum. Miris. Para Muslimah menjadi bahan olok-olok, dinilai
perempuan bermoral buruk. Duh, miris!
Korban Latah
Sejatinya kita menghargai upaya para Muslimah yang belakangan ini rame-rame
menutup aurat. Walaupun banyak – sekali yang cara menutup auratnya
belum benar, boleh jadi, itulah “proses” mereka untuk berusaha
menjalankan syariat agama.
Sayangnya, niat itu tidak dibarengi
ilmu. Mereka tampaknya hanya sayup- sayup mengerti bahwa menutup aurat
itu wajib bagi Muslimah, tapi tidak mendalami dan mengkaji serius
bagaimana tata cara menutup aurat yang benar kepada ahlinya. Mereka
absen mengaji.
Justru mereka merujuk cara berhijab pada
desainer, fashionista, atau artis, bukan pada ahli agama, ustazah atau
daiyah. Buktinya, akun-akun media sosial para artis, desainer atau
hijaber itu memiliki ribuan, puluhan ribu dan bahkan jutaan follower.
Para orang top itu menjadi inspirasi dalam bergaya dan berbusana.
Padahal sebagian orang terkenal itu masih mengenakan busana lamanya yang
antilonggar. Akibatnya, mereka menutup aurat sekadar ikut- ikutan. Para
Muslimah yang baru mengenal hijab pun, trial and error. Habis-habisan berusaha meniru gaya mereka.
Di sisi lain, pola pikir mereka masih
disetir pemahaman sekuler-kapitalis. Mereka terjajah pemikiran bahwa
“berbusana harus terlihat trendy, up to date dan menonjolkan
kecantikan.” Khas pemikiran ideologi sekuler-liberal dalam
mendefinisikan apa itu busana, penampilan dan kecantikan.
Para jilboobs itu, berusaha keras tidak
ketinggalan mode busana apapun yang sedang trend, padahal juga ingin
menutup aurat. Akhirnya dikombinasikanlah pakaian ala sekuler dengan
kerudung penutup kepala. Sebab, dalam hati kecilnya, mereka tidak rela
100 persen meninggalkan pakaian sekulernya seperti jeans, legging, tank
top, dress dan sejenisnya.
Jadilah seorang Muslimah memakai celana
pensil dipadu t-shirt, lalu kepala dibungkus kerudung. Ada pula yang
memakai tank top, manset tangan, rok mini dipadu legging, lalu dibungkus
rambutnya dengan turban.Yang lain pakai dress kutung bahan nyeplak,
tambah blazer ketat di tangan, dipadu jeans belel dan rambut dibungkus
selendang lilit leher. Tentu saja cara seperti itu belum memenuhi kaidah
busana syar’i. Sayangnya, mereka tidak menyadari kekeliruan tersebut.
Bahkan, merasa tetap keren, moderen dan up to date.
Haram Antilonggar
Fenomena jilboobs mudah- mudahan menjadi
otokritik bagi para Muslimah itu sendiri.Tanggapan berbagai pihak,
semoga didengar para Muslimah yang dicap jilboobs tersebut. Kemudian,
tentu saja, mereka rame-rame membetulkan cara berbusananya. Apalagi,
Majelis Ulama Indonesia (MUI) sudah mengeluarkan penilaian tentang
keharaman jilboobs.
Para Muslimah yang berpakaian tapi masih
ketat harus menyadari bahwa cara seperti itu telah mengundang pelecehan
terhadap busana Muslimah khususnya, perempuan Muslimah umumnya dan
bahkan pelecehan terhadap Islam itu sendiri. Cara berpakaian ketat sama
sekali bukan ajaran Islam, bahkan bertentangan dengan Islam. Cara
berpakaian pressbody itu adalah ajaran sekuler, karena sekali lagi, pakaian bagi mereka adalah identitas untuk menonjolkan bagian tubuh.
Lihat saja bagaimana desainer-desainer
kondang atau figur publik di pusat mode dunia Barat – yang kemudian
ditiru industri fashion Indonesia-, selalu mendesain busana yang pas
badan. Tidak boleh longgar satu milimeter pun. Makin pas badan, makin
mahal dan makin keren.
Bahkan belakangan ini sedang trend
busana transparan-kalau tidak boleh disebut telanjang—yang dikenakan
para selebriti dan sosialita dunia Barat. Anggota tubuh paling privat
pun bahkan dibiarkan ngintip di sela-sela busananya. Makin kelihatan,
makin menarik perhatian.
Sebaliknya, dalam Islam, pakaian
haruslah antiketat alias longgar, antitransparan alias tidak tipis,
sederhana, tidak tabaruj dan tidak menarik perhatian. Sebab, pakaian
adalah identitas ketakwaan, penutup bagian tubuh yang sejatinya
memalukan.
Hijab Syar’i
Munculnya jilboobs menunjukkan pentingnya sebuah “keseragaman” dalam mendefinisikan apa itu pakaian Muslimah
yang syar’i. Apa itu hijab, jilbab dan kerudung (khimar). Sebab,
ternyata kriteria pakaian Muslimah yang terlalu umum seperti: tidak
ketat dan tidak transparan, bisa diterjemahkan beragam rupa. Akibatnya,
tampilan busana Muslimah muncul dengan 1001 macam gaya. Terkadang malah
terkesan lebay, nyeleneh dan bahkan menjijikkan.
Nah, “keseragaman” itu sebenarnya sudah
dirancang oleh Allah SWT, Dzat Yang Maha Tahu pakaian seperti apa untuk
kebaikan manusia. Allah SWT memerintahkan Muslimah untuk mengenakan
hijab yang sempurna yaitu: jilbab (QS: Al Ahzab 59), khimar (QS AnNur
23) dan tidak tabaruj (QS: Al Ahzab 33)
Desain basic busana Muslimah adalah: pertama, jilbab,
yakni pakaian yang terulur ke seluruh tubuh, longgar tanpa potongan dan
menutup hingga ke dasar kaki. Nah, kalau tubuh sudah ditutup jilbab
longgar tanpa terputus dari pundak sampai tanah bak terowongan ini,
niscaya bagian tubuh yang menonjol-menonjol tidak akan terekspos.
Kedua, khimar, yakni kerudung penutup kepala sampai juyub
(bukaan baju di bagian dada); Kerudung ini bukan pembungkus kepala atau
pembungkus rambut, tapi penutup kepala yang diulurkan sampai dada.
Khimar juga bukan pengganti rambut yang bisa dimodal-model agar tampak
menawan. Nanti jatuhnya tabaruj.
Ketiga, tidak tabaruj.
Yakni, tidak menonjolkan kecantikan sehingga menarik perhatian. Dan
perlu diperhatikan, sebelum mengenakan jilbab dan khimar, pakaian rumah (mihnah), tetap dikenakan. Jadi, jilbab adalah pakaian luar yang melapisi pakaian rumah. Nah, kalau basic-nya
tetap syar’i, soal model, warna, motif dan desainnya tidak jadi
masalah. Islam tidak kaku dan tidak melarang kreativitas Muslimah untuk
menata busananya seindah dan senyaman mungkin. Yang penting, tidak
diniatkan untuk menarik perhatian. Apalagi menginspirasi pelecehan.
Berhijab dengan jilbab dan khimar
syar’i, mampu menutup bagian-bagian seksi perempuan dengan sempurna.
Dan, kewajiban ini harus segera ditunaikan tanpa alasan, tanpa
penundaan. Tidak pula karena alasan sedang berproses metamorfose, dari
pakaian sekuler yang nyaris telanjang, jadi pakaian serba tertutup yang
lebih sopan, meningkat lagi jadi jilboobs dulu, baru hijab syar’i.
Tidak! Tak ada toleransi dalam menjalankan syariat Islam. Apakah
kewajiban shalat yang kita terima juga kita lakukan dengan bertahap dan
berproses? Tidak, bukan? Dengan begitu, semoga tidak ada lagi Muslimah
yang berpakaian ala jilboobs.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar