Selasa, 04 November 2014

Kapitalisme-Liberalisme Pembunuh Rakyat, Sekularisme-Demokrasi Penipu Rakyat (1)

Tahun 2013 akan segera berlalu dan fajar tahun 2014 akan segera menyongsong, banyak peristiwa yang telah terjadi mulai masalah pendidikan, hukum, ekonomi, sosial-budaya, hankam dan politik dalam negeri. Untuk itu Gerakan Mahasiswa Pembebasan sebagai salah satu elemen gerakan mahasiswa intelektual yang mengusung ideologi Islam untuk pembebasan negeri ini dari keterpurukan, setidaknya kami merangkum beberapa catatan penting terkait kondisi faktual Indonesia di tahun 2013 .
Catatan Bidang Pendidikan
Mahalnya Pendidikan :
untuk pendidikan dana kuliah anak tertua di sebuah perguruan tinggi terbaik negeri di Indonesia, dengan fakultas pilihan Ekonomi, Hukum, Sastra & Fisip, saat ini kira-kira akan memakan biaya kurang lebih mencapai sekitar Rp. 110 juta untuk empat tahun masa kuliah, sudah termasuk uang kuliah, uang pangkal dan uang gedung serta sumbangan lainnya. Dengan rata-rata kenaikan biaya pendidikan sebesar 15%-30% per tahun (beda kampus beda kenaikan biayanya), maka biaya yang dibutuhkan anak tertua ketika masuk kuliah 12 tahun lagi (umur sang anak saat ini 5 tahun, 17-5 sama dengan 12 tahun lagi) adalah sebesar Rp. 980 juta. Dengan berinvestasi secara agresif dari sekarang dibutuhkan investasi bulanan sebesar Rp. 1,1 juta / bulan.
Kurangnya fasilitas dan akses pendidikan : hingga awal 2011 banyak berita mengenai bangunan SD dan SMP yang rusak berat, bahkan beberapa di antaranya ambruk. Untuk itu, Pemerintah melaksanakan program penuntasan rehabilitasi sekolah rusak berat mulai tahun 2011. Tak kurang dari 180.000 ruang kelas yang rusak berat telah direhabilitasi hingga 2012 lalu. Program ini terus dilanjutkan pada tahun-tahun berikutnya. hingga tahun 2012 angka partisipasi kasar (APK) SMA sederajat rata-rata nasional baru mencapai 70%, angka yang rendah dibandingkan APK SMP sederajat yang telah mencapi rata-rata nasional 97%. Jika ingin mencapai 97% juga dan tanpa terobosan maka baru terealisasi pada tahun 2040. Akan tetapi, dengan kebijakan Pendidikan Menengah Universal (PMU) yang dirintis pada tahun 2012 dan dijalankan penuh mulai tahun 2013 target 97% itu niscaya tercapai pada tahun 2020. Dalam PMU ini antara lain terdapat program pembangunan ruang kelas baru (RKB) sekolah SMA dan SMK serta pemberian dana BOS Sekolah Menengah (BOS SM).
Indonesia mengalami krisis pendidikan dengan hasil pendidikan yang konsisten berada di peringkat bawah dalam beberapa riset internasional. Karena itu, pemerintah diminta untuk mengkaji secara serius dalam menemukan masalah mendasar yang terjadi antara kebijakan dengan praksis pendidikan di lapangan, termasuk di dalam ruang kelas.
“Hasil-hasil riset internasional yang penting seperti PISA dan TIMSS menunjukkan Indonesia konsisten di bawah dalam kemampuan siswa di bidang matematika, sains, dan membaca. Kenyataan ini seharusnya menumbuhkan sense of crisis kita soal pendidikan. Kita perlu meneropong apa yang terjadi di ruang kelas. Sebab, apa yang terjadi di lapangan adalah produk kebijakan pendidikan yang memang banyak bermasalah,” kata Elin Driana, praktisi pendidikan yang mendalami bidang riset dan evaluasi di Jakarta, Minggu (28/1/2013-Kompas.com).
Penyelewangan Dana Pendidikan :
Badan Pemeriksa Keuangan RI menemukan masalah dalam pengelolaan dana ujian nasional. Ditemukan potensi kerugian negara mencapai belasan miliar rupiah dalam penyelenggaraan UN tahun 2012 dan 2013 (Kompas, 20/9/2013). Meski potensi kerugian negara ini jauh lebih kecil dibandingkan anggaran UN yang mencapai ratusan miliar rupiah, hal ini telah menambah deretan panjang daftar korupsi dalam pengelolaan anggaran pendidikan. Temuan BPK dan korupsi pendidikan lainnya merupakan ironi di tengah upaya bangsa Indonesia melawan korupsi melalui pendidikan. Berdasarkan pemantauan Indonesia Corruption Watch (ICW) selama periode 2003-2013 ditemukan 296 kasus korupsi pendidikan yang disidik penegak hukum dan menyeret 479 orang sebagai tersangka.
Kerugian negara atas seluruh kasus ini Rp 619,0 miliar (Laporan Kajian Satu Dasawarsa Korupsi Pendidikan, ICW 2013). Selama satu dasawarsa ini terdapat tren peningkatan dalam korupsi pendidikan dan aspek kerugian negara. Pada 2003 terdapat delapan kasus dengan kerugian negara Rp 19,0 miliar. Angka kerugian negara meningkat 422 persen pada 2013 menjadi delapan kasus dengan kerugian negara Rp 99,2 miliar.
Problem Pemerataan dan Kelayakan Sang Pengajar
Dukungan pemerintah pada guru dinilai kurang terutama untuk meningkatkan profesionalitas guru. Pemerintah tidak mampu mendistribusikan guru secara merata ke seluruh daerah, khususnya daerah pedalaman dan terpencil. Dampaknya, banyak guru yang belum memenuhi kualitas.“Mereka mengajar tidak sesuai dengan disiplin ilmu yang dimiliki. Keadaan ini terjadi lebih dari separuh guru di Indonesia. Artinya, 50% guru SD, SMP dan SMA/SMK sebenarnya tidak memenuhi kelayakan mengajar,” tegas Koordinator Kopertis Wilayah V, Bambang Supriyadidalam pidato ilmiah pada wisuda 38 lulusan magister (S2) Universitas PGRI Yogyakarta (UPY), Rabu (11/12/2013). Rendahnya kualitas guru, lanjut Budi mengakibatkan siswa-siswi hanya mampu menguasai 30% dari materi bacaan. Mereka juga sulit menjawab soal berbentuk uraian yang memerlukan penawaran. Hal itu disebabkan karena selama ini para siswa terbiasa menghapal dan mengerjakan soal pilihan ganda. “Perubahan kurikulum yang terus dilakukan juga tak mengubah metode pembelajaran di sekolah. Guru hanya mengenal buku paket yang menjadi acuan dan tidak mencari referensi lain. Daya juang peserta didik untuk mencapai prestasi tinggi juga rendah, terbukti siswa suka mencontek,” kritiknya (Harianjogja.com, 12/12/2013).
Kapitalisme-Liberalisme Akar Persoalan Pendidikan
Pendidikan Indonesia menghadapi tantangan untuk mampu menghasilkan lulusan yang mampu berpikir ditengah gempuran arus hedonis dan krisis keteladanan sang pengajar yang tak layak dan para pejabat korup akibat sistem kapitalisme yang telah mengubah wajah pendidikan, sekolah dan perguruan tinggi menjadi sebuah pabrik dimana para peserta didik dan mahasiswa hanya menjadi target pasar yang diarahkan untuk menjadi borjuis – borjuis kecil tak ubahnya robot siap cetak yang hanya sekadar ingin cepat lulus dan mendapat gaji besar, melanjutkan estafet sistem kapitalisme dan paradigma sekular-liberal yang menjadi acuan kurikulum Indonesia.Dakwah KAMPUS

Tidak ada komentar:

Posting Komentar