Sabtu, 08 November 2014

Remajaku Sayang, Remajaku Malang

Salah satu alasan mengapa Gubernur Surabaya, Jawa Timur menutup lokalisasi Dolly karena prihatin dengan anak-anak yang tinggal di sekeliling tempat prostitusi tersebut. Alasan Risma ini tentu ada sebabnya. Banyaknya temuan kasus remaja yang terjebak narkoba, seks bebas sampai menjadi mucikari, rata-rata semuanya hampir tinggal di lingkungan yang berdekatan dengan prostitusi. Hal ini dibuktikan Risma ketika melakukan kunjungan ke sekolah-sekolah yang berdekatan dengan area prostitusi, dan ternyata kebanyakan para remaja bisa terjebak ke dalam bisnis seks tersebut diakibatkan permasalahan ekonomi (Republika.co.id).
Berdasarkan data survey Komnas Perlindungan Anak yang bekerjasama dengan Lembaga Perlindungan Anak di 12 Kota besar, pada tahun 2013 menyebutkan ada 102 kasus seksual remaja untuk tujuan komersil. Ini menandakan bahwa remaja kita saat ini tengah terjebak sebagai pekerja seks komersial. Rata-rata tempat prostitusi di Indonesia sendiri, pekerjanya adalah para remaja yang bahkan masih ada yang duduk di bangku sekolah. Latar belakang mereka untuk menjadi PSK memang rata-rata karena kondisi ekonomi, tetapi gaya hidup yang hedonis juga turut serta mempengaruhi perilaku mereka yang ingin ‘hidup mewah’ sehingga akhirnya nekat untuk menjajakan dirinya.
Permasalahan ini sebenarnya sudah tidak boleh dianggap remeh lagi. Karena hal ini menyangkut generasi masa depan bangsa. Jika para remaja sekarang sudah banyak yang bermasalah, bagaimana nantinya mereka bisa memipin bangsa ini ke depannya? Maka dari itu diharapkan kepada Pemerintah untuk segera bertindak cepat. Tidak cukup hanya dengan menutup area prostitusi saja, tapi seluruh aspek yang memicu terjadinya tindakan zina, seperti memblokir situs-situs pornografi, melarang semua bentuk pornografi baik itu dari media cetak (seperti majalah, komik, dll) maupun elektronik (seperti tayangan sinetron ataupun acara yang mengumbar aurat), pengaturan pergaulan antara laki-laki dan wanita, dan pemberian sanksi tegas bagi pelaku zina.
Solusi ini pun tidak bisa berjalan sempurna tanpa adanya dukungan dari ketakwaan individu dan kontrol masyarakat yang baik. Maka, pentingnya pembinaan Islam di tengah-tengah mereka sudah sepatutnya dilakukan. Oleh karenanya, sudah sepatutnya kita kembali kepada bagaimana Allah mengatur, yaitu kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dalam segala aspek. Insya Allah dengan diterapkannya sistem Islam secara menyeluruh, akan mampu menghasilkan generasi-generasi cemerlang pengisi peradaban seperti pada zaman keemasan Islam dulu. Wallahu a’lam bi ash-shawab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar