Salah satu alasan mengapa Gubernur
Surabaya, Jawa Timur menutup lokalisasi Dolly karena prihatin dengan
anak-anak yang tinggal di sekeliling tempat prostitusi tersebut. Alasan
Risma ini tentu ada sebabnya. Banyaknya temuan kasus remaja yang
terjebak narkoba, seks bebas sampai menjadi mucikari, rata-rata semuanya
hampir tinggal di lingkungan yang berdekatan dengan prostitusi. Hal ini
dibuktikan Risma ketika melakukan kunjungan ke sekolah-sekolah yang
berdekatan dengan area prostitusi, dan ternyata kebanyakan para remaja
bisa terjebak ke dalam bisnis seks tersebut diakibatkan permasalahan
ekonomi (Republika.co.id).
Berdasarkan data survey Komnas
Perlindungan Anak yang bekerjasama dengan Lembaga Perlindungan Anak di
12 Kota besar, pada tahun 2013 menyebutkan ada 102 kasus seksual remaja
untuk tujuan komersil. Ini menandakan bahwa remaja kita saat ini tengah
terjebak sebagai pekerja seks komersial. Rata-rata tempat prostitusi di
Indonesia sendiri, pekerjanya adalah para remaja yang bahkan masih ada
yang duduk di bangku sekolah. Latar belakang mereka untuk menjadi PSK
memang rata-rata karena kondisi ekonomi, tetapi gaya hidup yang hedonis
juga turut serta mempengaruhi perilaku mereka yang ingin ‘hidup mewah’
sehingga akhirnya nekat untuk menjajakan dirinya.
Permasalahan ini sebenarnya sudah tidak
boleh dianggap remeh lagi. Karena hal ini menyangkut generasi masa depan
bangsa. Jika para remaja sekarang sudah banyak yang bermasalah,
bagaimana nantinya mereka bisa memipin bangsa ini ke depannya? Maka dari
itu diharapkan kepada Pemerintah untuk segera bertindak cepat. Tidak
cukup hanya dengan menutup area prostitusi saja, tapi seluruh aspek yang
memicu terjadinya tindakan zina, seperti memblokir situs-situs
pornografi, melarang semua bentuk pornografi baik itu dari media cetak
(seperti majalah, komik, dll) maupun elektronik (seperti tayangan
sinetron ataupun acara yang mengumbar aurat), pengaturan pergaulan
antara laki-laki dan wanita, dan pemberian sanksi tegas bagi pelaku
zina.
Solusi ini pun tidak bisa berjalan
sempurna tanpa adanya dukungan dari ketakwaan individu dan kontrol
masyarakat yang baik. Maka, pentingnya pembinaan Islam di tengah-tengah
mereka sudah sepatutnya dilakukan. Oleh karenanya, sudah sepatutnya kita
kembali kepada bagaimana Allah mengatur, yaitu kembali kepada Al-Qur’an
dan As-Sunnah dalam segala aspek. Insya Allah dengan diterapkannya
sistem Islam secara menyeluruh, akan mampu menghasilkan
generasi-generasi cemerlang pengisi peradaban seperti pada zaman
keemasan Islam dulu. Wallahu a’lam bi ash-shawab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar