Senin, 22 Juni 2015
Kamis, 04 Desember 2014
Remaja Kudu Sadar Politik
“Waduh politik! Nggak deh !” Itu mungkin komentar remaja atau
bahkan sebagian besar kaum muslim ketika ada pembahasan politik. Apapun
label yang dikasih, bumbu yang diberi, kalo masalah politik, remaja
sekarang cukup geleng kepala dan berpaling muka.
Islam adalah agama yang nggak bisa diceraikan dari politik (baca: negara). Itu sebabnya, Imam al-Ghazali berkata: “agama
dan kekuasaan adalah dua saudara kembar. Agama adalah pondasi (asas)
dan kekuasaan adalah penjaganya. Segala sesuatu yang tidak berpondasi
niscaya akan roboh dan segala sesuatu yang yang tidak berpenjaga niscaya
akan hilang lenyap.” (dalam kitabnya al-Iqtishad fil I’tiqad hlm. 199)
“Tapi bukannya sekarang, ketika politik dicampur agama, malah rusak?!”
Salah, itu realitas praktik politik sekular. Politik yang kita maksud
bukan sekedar bicara seputar ‘perebutan kekuasaan’, layaknya sekarang
yang dilakuin para politisi/parpol. Politik yang kita maksud disini
adalah ri’ayah syu-unil ummah, alias pelayanan urusan umat. Jadi meliputi apa yang terkait dengan umat.
Sebagai bukti kalo Islam nggak bisa diceraikan dari politik, bisa
kita simak dari pendapat ulama serta kitab mereka. Misalnya buku fiqih Fiqih Islam karya Sulaiman Rasyid memuat bab Al Khilafah. Kitab Fiqh besar Al Umm
karya Imam As Syafii r.a. membahas secara rinci tentang berbagai fiqh
muamalat, jinayat, jihad, penaklukan dll. Syaikh Taqiyuddin An Nabhani,
menulis rinci dan sistematis pengaturan Islam dalam politik, di kitab
seperti Nizhamul Hukm fil Islam.
Secara realitas pun kehidupan kita nggak bisa dipungkiri, selalu
bersentuhan dengan politik. Coba perhatiin kita hidup di sebuah negeri,
yang udah pasti negeri yang kita huni ini, mengaturnya dengan sistem
politik. Kalo kita didholimi oleh penguasa atau pemegang kebijakan
sebuah negeri, maka apa kita diam aja? Maka mengoreksi penguasa adalah
aktivitas politik.
Nggak salah kalo kemudian Rasulullah Saw mengingatkan dalam sebuah haditsnya:
“Barangsiapa bangun di waktu subuh (pagi), tidak memikirkan
masalah kaum muslimin, maka dia bukan termasuk golongan kaum muslimin” (HR. Ahmad)
Hadist di atas dan juga nash yang serupa, mengarah kepada satu ‘nafas’ care
alias kepedulian. Ruh ‘kepedulian’ yang dilandasi aqidah Islam akan
mengarahkan seorang muslim untuk ikut ‘memperhatikan nasib orang lain’.
Berangkat dari situ, maka politik yang artinya ri’ayah syu-unil ummah, pelayanan urusan umat, menjadi suatu hal yang penting dan nafas yang mentajasad alias nyatu dalam tubuh kaum muslim.
Dalam sebuah riwayat, Khalifah Umar bin Khaththab berpidato di
hadapan kaum muslimin. Usai berpidato seorang pemuda berdiri sambil
mengacungkan pedang, lalu berteriak, “Wahai Umar, apabila kami melihat engkau menyimpang, kami akan meluruskanmu dengan pedang ini.”
Umar yang mendengar pernyataan tadi kontan mengucapkan hamdalah.
Ternyata masih ada manusia, tepatnya pemuda, yang berani mengungkapkan
kebenaran.
Riwayat yang singkat ini bisa memberikan gambaran yang jelas kepada
kita pekatnya suasana kehidupan berpolitik dalam Islam. Inilah aktivitas
muhasabah lil hukam alias mengoreksi penguasa atau amar ma’ruf nahyi munkar, yang merupakan salah satu aktivitas politik.
So, masalahnya ada pada ‘pembiasaan’ aja. Karena remaja ‘kurang
biasa’ dengar istilah Islam politik, politik Islam maka remaja jadi
alergi politik. Remaja ‘lebih biasa’ hidup di alam sekular serba
instant, maka akhirnya mereka menjauh dari pembahasan politik. Jika
pembahasan politik (yang benar) secara simultan dilakukan di sekolah,
majelis taklim, khotbah, maka masyarakat akan terbiasa dengan politik
Islam. Langkah pembiasaan tersebut nggak ada cara lain, kecuali dengan
menanamkan pemahaman (mafhum) yang benar tentang Islam secara umum dan politik secara khusus. Maka pembinaan (tasqif) adalah sebuah keharusan yang penting dan mendesak, kita lakukan sekarang juga, jangan ditunda!
Konsultasi Kenakalan Remaja : Putus Dengan Baik Gimana Ya?
Maaf langsung saja ya, beberapa bulan yang lalu, saya kenalan dengan seorang cowok melalui chating
yang usianya 3 tahun lebih tua dari saya. Kakak (itu panggilan saya)
dia juga mahasiswa yang waktu itu banyak bantu saya registrasi.
Saya makin bingung tentang hubungan kami. Jujur aja dia sudah sangat
membantu, atau kasih nasehat, karena saya memang agak sering curhat ama
dia. Sekedar telepon, tanya kabar atau cuma ngobrol yang kayaknya nggak
begitu penting, bercanda.
Saya yakin dia tahu sebatas mana seharusnya hubungan antara
ikhwan-akhwat, dan saya juga tahu itu, tapi entah kenapa saya malah
bingung harus bagaimana. Saya benar-benar ingin menjadi muslimah yang
taqwa yang bisa menjaga hati. Sungguh saya ingin mengakhirinya dengan
cara baik-baik, tapi saya nggak tahu gimana caranya.
Kalau nggak saya, dia yang miscall ngebangunin qiyamul lail. Dia itu sudah sangat baik seperti kakak sama adiknya. Saya mohon bantuan penjelasannya ustadz. Wassalamulaikum
Pengirim: Zahra
Jawab:
- Kita harus menyadari hidup sebagai muslim. Kesadaran ini penting, karena siapa sih yang bisa hidup selamanya? Tidak ada, maka kesadaran ini kaitannya dengan konsekuensi akhirat, karena itu jangan hanya sekedar mencari kesenangan hidup, dengan senang dan bangga diperhatikan oleh lawan jenisnya.
- Tentang interaksi dengan lawan jenis, awalnya mungkin biasa aja, sekedar say hello, membantu ini dan itu. Akhirnya berlanjut pembiasaan dan toleransi kesalahan yang dianggap biasa, seperti menganggapnya sebagai kakak, teman, atau saudara. Padahal nggak ada hubungan darah (silah) sama sekali.
- Lalu kenapa sampe segitu? Maksudnya koq bisa akhirnya kalian menganggap interaksi kalian biasa dan enggan menyebutnya sebagai dosa. Itu karena:
- Pertama: kalian mentoleransi kesalahan kecil yang terkait
hubungan lawan jenis. Sekedar telepon, tanya kabar, ngobrol nggak
penting, adalah kebiasaan yang nggak perlu antar lawan jenis, bahkan
bisa cenderung dan terjerumus pada dosa. Ingat kalian lawan jenis, pasti
akan ada daya tarik menarik diantara kalian berdua.
- Kedua: kalian mengandalkan perasaan, artinya hubungan kalian
berdua lebih diukur dengan perasaan bukan pemikiran apalagi hukum
syariat. Sehingga dengan standar perasaan, menurut kalian curhat dengan
lawan jenis itu lebih enak. Padahal itu mitos yang nggak bener dan
secara pelan tapi pasti, syetan sudah ikut bermain disitu.
- Ketiga: kalian harus ingat bahwa fakta itu mempengaruhi
naluri, ada pepatah jawa bilang ‘witing tresno jalaran teko kulino’,
alias karena keseringan akhirnya keenakan dan kalian jatuh cinta. Pada
saat itulah, pikiran waras jadi terbuang.
- Hubungan laki-perempuan di dalam syariat Islam, sudah ada aturannya. Dan kalau dianalogikan, aturan-aturan pergaulan itu seumpama garis layaknya permain bola. Nah, aturan sudah dibuat, tinggal kontrolnya saja. Kalo dalam permainan bola ada wasit yang ngasih peringatan (peluit, kartu merah, kartu kuning), maka bagi interaksi kita ciptakan wasit. Itulah yang ketinggalan dari diri kalian, ketika kalian berdua berhubungan meski kalian yang merasa paham akan hukum interaksi dengan lawan jenis, tapi kalian lupa dengan wasit. Wasit itu sebenarnya bisa Allah atau aturan pergaulan itu sendiri. Atau kalau kalian serius berhubungan, harusnya ada makcomblang yang paham hukum interaksi.
- Ada hal diluar diri kalian, yang senantiasa juga membuat orang-orang di sekitar kita, tak terhindar untuk berbuat seperti kalian. Apa itu? Ya, adalah lingkungan permisif, masyarakat yang individualis, dan karena nggak ada dakwah Islam. Artinya, seorang berbuat salah/pelanggaran bisa jadi juga karena pengaruh atau dipanas-panasin oleh lingkungannya. Orang seperti kalian yang berhubungan dengan lawan jenis yang karena pengaruh lingkungan juga banyak. Maka dari itu, jika ingin merasakan bagaimana nyamannya berinteraksi dengan lawan jenis yang Islami, maka dakwah Islam harus kita jalankan.
- Nah, bagi orang yang tahu hukum, seperti kalian saja sudah berani melanggar, maka ibaratnya seperti pemain bola yang curang, alias nggak jujur, maka itu awal dari sebuah bencana. Apalagi kalau dilanjutkan dengan mengatakan “sudah mulai jatuh cinta”, sudah terlanjur mendalam, menganggap dia sudah sangat baik, pengertian banget”, dan seterusnya. Itu berarti kalian sudah menganggap enteng sebuah dosa. Padahal tidak ada dosa yang besar, kalau tidak berawal dari pengabaian kita dari dosa-dosa kecil.
- Lalu solusinya apa? Ya, solusi untuk kalian cuman ada satu, PUTUS. Langkahnya?
- Saling intropeksi diri terhadap kesalahan, pelanggaran, lakukan pertaubatan.
- Berpikir positif, positif dan positif. Anggap ini sebagai ujian hidup yang punya 2 dampak yang baik, yakni menghapus dosa dan menaikan derajat dihadapan Allah.
- Menyesali itu semua, komitmen kepada Allah, untuk tidak mengulangi. Kalo perlu dikrarkan dan ada saksinya, meskipun sebenarnya Allah sudah cukup jadi saksi.
- Lebih mendalami Islam lagi, karena perbuatan seseorang itu dibentuk karena mafahim yang dimiliki, sementara mafahim itu dibentuk dari kita memahami Islam dengan mengikuti kajian-kajian Islam.
- Lalu sampaikan dan katakan dengan jujur, baik-baik kepadanya, bahwa kalian berdua ingin mengakhiri hubungan ini. Jangan lagi berkompromi dengan dosa. Ingat, pada saat menyampaikan ini abaikan perasaan, pakailah pemikiran.
600 Remaja Kabupaten Bandung Serukan Khilafah

“Khilafah! Khilafah! Khilafah!”, seruan tuntutan
untuk menegakkan Khilafah menggema dalam acara Kongres Remaja Islam
Kabupaten Bandung 2013 yang diselenggarakan oleh LDS HTI Kabupaten
Bandung di Gedung PGRI Kabupaten Bandung, Kec.Katapang, Kab.Bandung,
pada Ahad (27/10).
Acara yang mengambil tema ‘A Big Change’ tersebut dihadiri sekitar
600 remaja dari berbagai kecamatan di Kabupaten Bandung. Jumlah tersebut
melebihi target. Hingga akhirnya sekitar 500 kursi yang disediakan
panitia tak cukup menampung peserta. Akhirnya terpaksa sebagian peserta
harus menyaksikan kongres dengan berdiri dan duduk dilantai tanpa kursi.
Dalam kongres yang dimulai pukul delapan tersebut, Bobi, aktivis
Remaja Islam dari kecamatan Ciparay, tampil menjadi orator pembuka.
Dalam orasinya, Ia menyoroti kerusakan yang menjerat dunia pergaulan
remaja. “Sekularisme dan Liberalisme yang mengajarkan kebebasan, telah
membuat pergaulan remaja menjadi rusak!” ujarnya.
Kemudian orator selanjutnya, Muhammad Wahyudin, aktivis Remaja Islam
kecamatan Bojongsoang, mengingatkan peserta, bahwa ketika umat Islam
masih hidup dibawah naungan Khilafah, Pendidikan dapat mencetak para
remaja dengan pribadi mulia. “Dahulu Pendidikan tak hanya menjadikan
orang berilmu. Tapi juga bertakwa dan berakhlak mulia, beda dengan
pendidikan sekarang”
Orator ketiga, Aldi Triansyah, mewakili aktivis Remaja Islam
kecamatan Majalaya, tampil menggugah peserta untuk tak bersikap apatis.
Ia mengaku prihatin dengan semangat Remaja yang hari ini dikendorkan
secara sistemik sehingga malas memaksimalkan potensinya untuk
memperbaiki umat. “Jangankan disuruh untuk berjihad, Kita saksikan
remaja hari ini menuntut ilmupun malas masalan!”bebernya.
Sementara orator ke empat, Didi Jumadi yang mewakili aktivis Remaja
Islam kecamatan Cileunyi, mencoba meyakinkan peserta untuk habis habisan
dalam memperjuangkan tegaknya Islam dimuka bumi.“ Jangan takut dianggap
teroris, fanatik atau sebutan sebutan negatif. Selama kita yakini ini
benar, terus saja berjuang!”
Adapun Cepi Hidayah, yang tampil menjadi orator pamungkas mewakili
Kecamatan Cicalengka mengingatkan peserta untuk tak berhenti sekedar
mengetahui berbagai hal tentang Islam saja. Lebih dari itu pengetahuan
tersebut menurutnya harus diamalkan.“Harapan Saya, selepas acara ini,
Kita tak sekedar jadi tau banyak hal. Tapi juga mengamalkan apa yang
Kita ketahui” katanya.
Selain penyampaian Orasi, Kongres ini juga diisi pemaparan materi
yang disampaikan oleh Ust Yudi Aditya, Praktisi Pendidikan yang juga
aktivis HTI di Kabupaten Bandung. Ia menjelaskan tentang langkah yang
harus ditempuh para peserta setelah menghadiri Kongres ini.” Pilihan
kita, selepas acara hanyalah satu, yakni terlibat dalam aktivitas
perubahan untuk menegakkan Khilafah!”
Berbagai hiburan juga ditampilkan panitia untuk menyemarakan acara.
Habib Maulana, aktivis Remaja Islam Rancaekek dengan penampilan puisinya
berhasil menyetuh perasaan para peserta. Tak sedikit peserta yang ikut
menunjukan raut kesedihan ketika mendengarkan puisi tentang rusaknya
dunia remaja yang dilantunkan Habib. Begitupula kehadiran Band Islam
Ideologis, The Guardian of Khilafah. Lagu lagu yang dilantunkannya
berhasil membuat suasana acara menjadi lebih hidup dan semarak.
Komitmen Remaja Kabupaten Bandung
Dipenghujung acara, peserta diteguhkan komitmennya dengan bersama
sama membacakan ikrar yang dipimpin oleh Fakhri, siswa SMAN 1
Dayeuhkolot. Dalam ikrar tersebut, peserta menyatakan kesiapannya untuk
mengkaji Islam secara Kaffah dan melakukan perubahan dengan dakwah di
tengah lingkungannya. Bahkan, peserta siap untuk menjadikan dakwah
sebagai poros kehidupannya.
Tak hanya dengan ikrar, peserta juga membubuhkan tanda tangannya
dalam spanduk besar yang disiapkan oleh panitia. Pembubuhan tanda tangan
tersebut diharapkan mamu meneguhkan komitmen peserta kongres untuk
konsisten menjalankan apa yang telah dinyatakannya dalam ikrar.
Akhirnya, Kongrespun ditutup menjelang dzuhur dengan doa yang
disampaikan oleh Tatang Hidayat. Ia membacakan doa dengan penuh
penghayatan dan membuat peserta yang memadati gedung mengeluarkan air
mata.
Sabtu, 15 November 2014
Peran Strategis Pemuda di Era Kapitalisme Global
Sampai kapanpun pemuda selalu
istimewa dimata dunia. Ia sosok yang segar dan bersemangat. Ia aset
sebuah bangsa yang sangat berharga. Beruntung Indonesia memiliki cukup
banyak pemuda. Hasil sensus penduduk tahun 2010 menunjukkan bahwa satu
dari empat orang penduduk Indonesia merupakan kaum muda berusia 10-24
tahun. (Kompas.com, 8 Agustus 2012).
Potensi pemuda menurut Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki Moon dalam forum 45th session of the Commission on Population and Development
UN pada April 2012 lalu adalah bahwa pemuda lebih dari sekedar kekuatan
demografi. Pemuda memiliki kekuatan untuk melakukan perubahan. Besarnya
persentase usia muda sesungguhnya akan menjadi kekuatan sumber daya
manusia (SDM) yang sanggup mengantarkan suatu negara menjadi kuat dan
memimpin dunia.
Pemberdayaan Pemuda Dan Kapitalisme Global
Di lain pihak, kondisi dunia sedang
krisis akibat kebangkrutan kapitalisme global yang tidak perlu
diperdebatkan lagi. Resesi global yang mengindikasikan lumpuhnya sektor
non riil ekonomi Kapitalistik, memaksa Barat untuk menguatkan ekonomi
riilnya melalui perdagangan bebas. Untuk itu Barat butuh pasar bagi
produk-produk mereka, dan Asia (China, India dan Indonesia) adalah pasar
yang menggiurkan karena pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi.
Disinilah korelasinya. Pemetaan
pemberdayaaan pemuda diaruskan secara global yaitu Youth Participation
in Ending Crisis, dalam berbagai forum arahan PBB. Artinya, potensi
pemuda dilirik dalam rangka membantu memulihkan kondisi ekonomi
negara-negara Barat terutama Amerika.
Alhasil, pemerintah melakukan
pengembangan wirausaha, melalui ekonomi kreatif. Hal ini diwujudkan
dengan legalisasi hukum yaitu Undang-Undang (UU) kepemudaan. Dalam
berbagai kesempatan pemerintah menegaskan bahwa pemuda adalah aktor yang
harus berperan aktif dalam percepatan pembangunan dan pertumbuhan
ekonomi.
Pemerintah terus mendorong dan
memfasilitasi akademisi agar menjadikan kampus sebagai pusat keunggulan
kewirausahaan dengan beragam jenis pelatihan kewirausahaan. Yang
demikian sejalan dengan agenda besar pembangunan ekonomi yang dituangkan
dalam Peraturan Presiden Nomor 32 Tahun 2011 tentang Masterplan
Perluasan dan Percepatan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI).
Sekilas situasi tersebut tampak baik.
Pengembangan sektor wirausaha dapat menambah jumlah tenaga kerja. Yang
kemudian akan mengurangi angka pengangguran. Untuk tahun 2013,
diperkirakan terdapat penambahan tak kurang dari 100 ribu tenaga kerja
baru dari sektor ekonomi kreatif ini. Dengan begitu daya beli masyarakat
juga akan meningkat. Hal tersebut diduga kuat menyasar produk-produk
impor dari Barat dan akan mampu memulihkan keadaan ekonomi dunia.
Namun jika diamati lebih teliti, hal ini
sebenarnya berbahaya. Peran aktif pemuda yang ditopang dengan sistem
pendidikan pro pasar, melalui perluasan memperoleh peluang kerja sesuai
keahlian yang dimiliki pemuda pada UU kepemudaan Pasal 8 ayat 1
(c)),hanya akan melahirkan pemuda yang berpandangan bahwa pemberdayaan
potensi pemuda datang melalui pekerjaan. Pemuda tidak akan menyadari
perannya dalam pasar tenaga kerja sebagai mesin produksi ekonomi riil
hanya di skala mikro – menengah, namun barat tetap memonopoli akses
Sumber Daya Alam (SDA). Pemuda tidak bisa melihat keterkaitan antara
penguasaan SDA oleh swasta asing maupun lokal dengan buruknya kondisi
ekonomi mereka.
Dengan kata lain proyek tersebut dapat
melahirkan pemuda-pemuda ‘cuek’ dan ‘enjoy’ terhadap kerusakan yang
terjadi di lingkungan sekitarnya selama tidak bersinggungan dengan
kepentingan dan kebutuhan dirinya. Transparency International Indonesia
(TII) mengadakan survei “”Youth Integrity Survey”” untuk mengetahui
tingkat kepedulian anak muda terhadap praktik korupsi. 60% pemuda Ibu
Kota ‘cuek’ pada korupsi, 40% anak muda beralasan kasus itu bukan
urusannya.
Hasil penelitian lima tahun terakhir
menunjukkan bahwa kualitas pendidikan di Indonesia cenderung menurun.
Penurunan ini disinyalir karena salah kelola dalam penyelenggaraan
pendidikan nasional oleh pemerintah. Salah kelola tersebut dikarenakan
pemerintah cenderung membuat regulasi maupun kebijakan-kebijakan
pendidikan yang berorientasi pada proyek. Demikian kajian yang dilakukan
Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) seperti dikemukakan Sekjen FSGI
Retno Listyarti pada refleksi akhir tahun tentang kebijakan pendidikan
nasional di kantor ICW, Jakarta, Jumat (28/12)
Dengan mengkambing hitamkan kepentingan
nasional, penguasa negeri ini telah mengamputasi peran strategis pemuda
sebatas pemenuhan pasar tenaga kerja yang menguntungkan para kapital.
Kebijakan pemberdayaan pemuda hanya menempatkan pemuda yang merupakan
generasi masa depan negeri ini terjebak dalam arus pasar tenaga kerja
dan mesin penyelamat krisis global.
Apa Yang Harus Dilakukan
Permasalahan negeri kita sungguh
komplit. Angka kemiskinan terus meningkat. Ini bukan disebabkan
kemalasan bekerja namun kemiskinan akibat penerapan ekonomi kapitalis.
Ekonomi kapitalis menyebabkan penguasaan terhadap 90% sumber daya alam
kita oleh perusahaan swasta asing. Juga menjadi penyebab harga-harga
kebutuhan pokok mahal. Sistem kapitalis menjadi penyebab pendidikan yang
notabene hak rakyat berbiaya mahal. Belum lagi masalah korupsi yang
kian menggurita, masalah kriminalitas yang semakin hari semakin
mengerikan serta permasalahan lainnya.
Oleh karena itu pemuda tidak boleh diam.
Mereka harus bangkit dan berjuang. Pemuda harus berperan dalam
menyelesaikan masalah yang dihadapi bangsa. Mereka harus meningkatkan
kepedulian untuk mengkaji secara kritis setiap permasalahan yang ada
serta mencari solusi konkrit untuk menyelesaikannya.
Penduduk Indonesia yang mayoritas adalah
muslim pasti memahami bahwa hidup adalah amanah dari Allah SWT.
Termasuk pemerintah, kebijakan pemberdayaan pemuda sesungguhnya akan
dipertanggunjawabkan kepada ALLAH SWT. Maka dalam mencari solusi bangsa
hendaknya tidak menyalahi aturan-aturan Allah SWT. Mari optimalkan
potensi pemuda mewujudkan Indonesia dan dunia lebih baik. Wallahu a’lam bishawab.
Oleh: Eva Arlini, SE
(Manajer Bimbingan Belajar dan Aktivis Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia)
Email: Arlini.Rizki@gmail.com HP: 085760650435
(Manajer Bimbingan Belajar dan Aktivis Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia)
Email: Arlini.Rizki@gmail.com HP: 085760650435
Nggak Nyar’i Nggak Happy
Ada
dua orang Abege yang kontras kesehariannya. Abege A dia banyak galau.
Kerjaannya bikin masalah. Hidupnya amburadul nggak teratur. Bangun tidur
selalu selalu kesiangan. boro-boro Salat Dhuha, Salat Shubuh aja kehabisan waktunya. Karena bangun kesiangan, berangkat sekolah pun kesiangan karena belum nyiapin buku-buku pelajaran. Malamnya malah keluyuran, pacaran, ato main PS. Di
Sekolah juga, dia nggak punya prestasi. Prestasinya hanya bikin onar.
Kemana-mana selalu punya musuh. Itulah kesibukannya. Intinya abege yang
satu ini kelakukannya alay bin lebay. Kerjaannya cuma bikin masalah bukan menyelesaikan masalah.
Sementara Abege B kebalikan dari Abege
A. Abege B selalu belajar mendisiplinkan diri. Dia hidup teratur tanpa
disuruh-suruh. Dia hidup teratur karena kesadaran dirinya. Dia merasa
perlu itu. Dia merasa harus hidup teratur. Dia punya misi dan rencana
hidup. Misinya yang besar itu, tentu dipengaruhi oleh keteraturan dia
dalam melakukan hal-hal yang kecil. Dia berusaha salat tepat waktu.
Berusaha menjalankannya dengan berjamaah di masjid. Dia juga menambahnya
dengan rawatib dan salat sunnah lain seperti Dhuha dan Tahajjud. Dia
tahu prioritas amal, kapan saatnya bermain, kapan saatnya belajar, waktu
buat silaturrahmi, dan waktu-waktu lainnya.
Nah, Sob. Silakan nilai sendiri abege mana yang nantinya bakal hidup happy? Kalo kit lihat apa yang mereka kerjakan, tentu yang bakal happy, baik di dunia maupun di kehidupan berikutnya (akhirat) ya jelas Abege B.
Dua sikap di atas menunjukkan pada kita, sebetulnya hidup nyar’i (hidup berdasarkan Syariat Islam) itu membuat manusia jadi lebih bermakna, terarah, dan happy ending (husnul khatimah). Sebaliknya, jika nggak mau hidup nyar’i kita nggak happy alias sad ending (suul khatimah).
Tentunya kasus abege A, bukanlah final. Manusia kan berproses, jika
dalam perjalanan, si Abege A ada upaya dia untuk berubah dan dia memilih
untuk berubah, tentu dia pun berpeluang happy ending. Hanya
saja, perlu ditekankan apakah dia mau memilih untuk berubah atau nggak.
Allah memang memberikan pilihan pada manusia apakah mau taat atau tetap
bermaksiat.
“Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaanya.” [TQS. Asy-Syam (91): 8]
Contoh di atas baru hidup nyar’i secara individu. Hidup nyar’i individu aja udah enak banget kelihatannya. Nah, permasalahannya tidak selesai sampai di individu. Ketika individu sudah milih hidup nyar’i, nggak ujug-ujug
atau otomatis masyarakat dan kehidupan bernegara jadi nyar’i. Jika
melihat kenyataan di masyarakat dan negara kita saat ini, hidup yang
benar-benar nyar’i (Islam kaffah/totalitas) belum terlihat sama sekali.
Kini kita masih melihat fakta masyarakat
kita yang sakit yang rasanya semakin hari semakin tambah rusak.
Perzinaan dianggap lumrah, hamil di luar nikah dianggap trendi. Pacaran
dianggap keren. Masyarakat kita sudah kehilangan kontrol sosial. Kita
hidup serba permisif. Dengan dalih kebebasan dan hak asasi, semua jenis
maksiat bebas dilakukan.
Pun dalam kehidupan bernegara. Negara
kita makin amburadul. SDA-nya nyaris begitu mudahnya diperebutkan
layaknya seperti hidangan yang sudah tersaji di meja makan. Para
perampok itu sudah mengkapling-kapling kekayaan kita. Sementara
pemerintah nggak bisa berbuat apa, malah mirisnya merekalah yang jadi
corong untuk memuluskan perampokan SDA kita.
Itu
hanya satu dua kasus saja. Masih begitu bejubel kasus masyarakat dan
negara yang semuanya berujung pada cara hidup kita yang nggak nyar’i.
Sehingga kita pun benar-benar berada di ambang kehancuran. Kita hancur
dan menjadi umat yang terhina karena perbuatan kita sendiri, yaitu
maksiat karena nggak mau hidup nyari’i. Kerusakan yang kita alami sudah
multidimensi, baik itu fisik maupun nonfisik, dan dalam pelbagai lini
kehidupan.
“Telah nampak kerusakan di darat dan
di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah
merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar
mereka kembali (ke jalan yang benar).” [TQS. Ar-Ruum (30): 41]
Karena itu, sudah sepantasnya kita merenung, mau sampai kapan kita hidup nggak nyar’i? Mau sampai kapan kita hidup nggak happy-happy? Yuk, segeralah kita Kembali, KEMBALI DENGAN SEPENUH HATI.
Sejarah Valentine’s Day
Ada apa ya dengan Februari? Februari
adalah bulan kedua dari kalender Masehi, ya… semua pasti udah pada tahu.
Namun ada satu tanggal di bulan ini yang seakan-akan menjadi ‘hari
raya’ yang dinantikan oleh remaja (pada khususnya). Dimana tanggal 14,
warna pink dan sebatang coklat adalah kata kuncinya… benar sekali,
itulah Valentine’s Day (V-Day).
Tapi tahukah kamu, bagaimana sejarah V-Day ini? Mengapa pula harus dirayakan pada tanggal 14 Februari? Let’s Cekidot…
Banyak versi yang menjelaskan tentang
sejarah V-Day, salah satunya menjelaskan bahwa peristiwa ini dimulai
ketika Bangsa Romawi kuno memperingati Perayaan Lupercalia pada tanggal
15 Februari. Perayaan ini berlangsung selama beberapa hari, dua hari
pertama dipersembahkan untuk Dewi Cinta Juno Februata. Para pemuda
mengundi nama-nama gadis dalam kotak, lalu setiap pemuda mengambil nama
secara acak. Nama yang terpilih harus menjadi pasangannya untuk
bersenang-senang selama setahun.
Sedangkan pada tanggal 15-nya digunakan
untuk meminta perlindungan Dewa Lupercalia dari gangguan srigala. Selama
upacara ini pula para wanita berebut meminta dilecut tubuhnya dengan
kulit binatang dengan anggapan hal itu membuat mereka menjadi subur.
Ketika agama kristen Katolik menjadi
agama negara di Roma, penguasa Romawi dan pemuka agama mengadopsi
perayaan itu dan mewarnainya dengan nuansa Kristiani. Pada tahun 496
Masehi, Paus Gelasius I menjadikan perayaan tersebut menjadi Hari
Perayaan Gereja dengan nama Valentine’s Day untuk menghormati St.
Valentine yang kebetulan meninggal pada 14 Februari (The World
Encyclopedia, 1998).
Namun sebenarnya, kisah perjuangan St.
Valentine sebagai tokoh yang diabadikan itu sendiri ada beberapa versi.
Karena ada tiga nama Valentine yang meninggal pada tanggal 14 Februari.
Versi pertama menceritakan bahwa Kaisar
Claudius II memerintahkan penangkapan terhadap St. Valentine karena
menyatakan Tuhannya adalah Isa dan menolak menyembah dewa-dewa Romawi.
Lalu orang-orang yang mendambakan do’a St. Valentine menulis surat dan
menaruhnya di terali besinya.
Menurut versi kedua, kaisar Claudius II
menganggap bahwa tentara muda yang masih bujangan lebih kuat dan tabah
di medan peperangan dibanding tentara yang sudah menikah. Sehingga Ia
melarang para pemuda untuk menikah, namun St. Valentine melanggar
larangan tesebut dengan menikahkan banyak pasangan muda secara
diam-diam. Hal ini mengakibatkan Ia ditangkap dan dihukum gantung pada
tahun 269 M (the World Book Encyclopedia, 1998).
Versi lainnya menyatakan bahwa Santo
Valentinus adalah seorang martir (mati sebagai pahlawan karena
memperjuangkan kepercayaan). Pada sore hari menjelang gugurnya, ia
menulis sebuah pernyataan cinta kecil yang dititipkannya pada sipir
penjara dan tertulis ‘dari valentinusmu’.
Kesimpulan
Keseluruhan kisah di atas mempunyai satu
benang merah, bahwa Valentine Day berasal dari budaya paganisme yang
sangat kental sekali dengan aktivitas ritual penyembahan berhala.
Kemudian terjadi kompromi dengan agama Kristen Katolik sehingga akhirnya
perayaan ini diadopsi sebagai perayaan gereja.
Atas Nama Cinta
Cinta, satu kata yang tak kan habis
dibicarakan sepanjang waktu, kata yang akan terus laku dijual dalam
dunia cerita, dunia layar, dan dunia nyata. Cinta itu tidak bisa dilihat
namun nyata bisa dirasakan. Cinta tidak dapat diciptakan atau
dipaksakan dan tidak dapat dimusnahkan, hanya dapat beralih bentuk.
Cinta dapat ditemukan pada semua hal.
Atas nama cinta banyak orang memperoleh kebahagiaan, atas nama cinta
pula banyak orang menuai luka nestapa. Karena cinta seseorang yang gagap
tiba-tiba menjadi puitis, karena cinta pula seseorang ahli sastra
seolah seperti anak kecil yang baru belajar bicara.
Cinta bisa membuat seorang pengecut
menjadi pemberani, membuat yang paling berani menjadi jinak
dihadapannya. Demi tak ada lautan yang tak bisa diseberangi, tak ada
gunung yang tak bisa didaki. Karena cinta pembunuh akan jadi penyayang
yang paling baik, cinta pula yang memberi harapan kepada yang putus asa.
Atas nama cinta.
Sungguh mulia cinta, ia putih, suci
bersih tanpa noda. Cinta adalah kasih sayang yang tulus, yang diberikan
pencipta kita Allah swt., Dialah sumber segala kasih sayang dan cinta
yang ada di permukaan bumi dan langit serta yang ada diantara keduanya.
Allah-lah yang berkehendak menjadikan setiap akal dan hati kita
cenderung pada perasaan saling menyayangi, saling membutuhkan. Bukan
hanya butuh untuk dicintai, tapi juga butuh untuk mencintai. Cinta
adalah fitrah manusia. Tanpa cinta takkan lengkap keberadaan kita
sebagai manusia, takkan sempurna kita sebagai makhluk Allah.
Sejak awal penciptaan kita pun, cinta
telah berperan disana. Manusia dimulai dari ketiadaan, ruang kosong
tanpa waktu, lalu Allah berkehendak menjadikan kita dengan cinta-Nya.
Ditiupkan-Nya ruh kepada kita, yang membuat kita menjadi ada. Yang
membuat kita bisa merasakan lezatnya hidangan yang kita santap, sejuknya
udara disaat hujan mereda, dan membuat semua indra kita bisa berfungsi.
Tanpa kehendak Allah dan tanpa izin-Nya, mustahil semua yang ada pada
diri kita bisa kita nikmati. Mustahil.
Lalu kita tumbuh dan berkembang di dalam
cinta di rahim ibu kita yang tersayang, yang diawali dari pernikahan
mulia ayah dan ibu kita. Mereka berdua setiap hari melihat perkembangan
kita. Ayah kita begitu gembira menanti kedatangan kita, ditengah
usahanya menafkahi ibu dan calon anaknya serta menabung untuk kelahiran
buah hatinya ia tak jarang mengingat kita, selalu terusik kerjanya bila
muncul pertanyaan ”apakah anakku baik-baik saja?”.
Setiap upah yang ia terima selaslu
diprioritaskannya untuk kita nanti, sering ayah dan ibu kita menahan
lapar dengan alasan ”ini untuk si kecil nanti..”.
Ibu, sungguh tak terhitung jasamu ya
ibuku tersayang. Setiap hari kita memberatkan dan membatasi mereka
dengan tubuh kita yang setiap hari semakin membesar. Setiap hari
disibukkannya dengan membaca buku ”bagaimana mempersiapkan kedatangan
seorang bayi?”. Ibu kita makan makanan yang bergizi walaupun saat itu
mereka tidak menginginkan, bukan karena apa-apa, karena kita membutuhkan
gizi dan makanan yang baik. Di masa-masa menjelang kelahiran, semua
keluarga besar bergembira, ayah dan ibu kita berdiskusi memilih nama apa
yang paling tepat untuk kita.
Sampai kelahiran kita pun dipenuhi
dengan cinta yang tulus. Perasaan senang, kuatir dan takut bercampur
menjadi satu pada diri mereka berdua. Senang karena kita akan segera
lahir ke dunia, kuatir dengan proses persalinan yang mereka lakukan, dan
takut jangan-jangan Allah memanggilnya ketika melahirkan kita, sehingga
ibu kita tidak bisa menemani dan membimbing kita menjadi dewasa dan
menjadi anak yang shalih. Setiap teriakan yang dia keluarkan menambah
kecemasan ayah kita yang setia menunggu proses kelahiran kita, bagi ayah
kita, itulah waktu terlama yang pernah ia rasakan, ia berpikir ”Ya
Allah, saat ini, apapun tidak berarti kecuali kelahiran buah hatiku”.
Teriakan demi teriakan berlanjut, setiap
teriakan manggambarkan pertaruhan nyawa yang sedang dilakukan oleh ibu
kita. Demi buah hatinya, tak tersisip sedikitpun rasa gentar menjalani
semua itu. Lalu lahirlah kita. Dengan teriakan yang nyaring dan
menggema, diperlihatkan wajah kita yang masih belum bisa membuka mata
dan masih bermandikan darah ibu kita. Ia tersenyum, merasa dirinya
paling bahagia di seluruh semesta. Padahal tadi ia berteriak-teriak
kesakitan, semua hilang seketika melihat wajah kita. Inilah cinta. Ayah
pun menghambur masuk, mencium ibu dan segera mengumandangkan adzan ke
telinga kita, tanda syukur yang mendalam, buyar sudah semua
cemas-galaunya. Inilah cinta.
Ketika kita tumbuh dan berkembangpun
semuanya diliputi kehangatan cinta, tangis kita menjadi usikan dikala
mereka berdua tidur, tapi dengan senang hati ibu bangun, mengganti popok
yang basah, menenangkan kita yang rewel untuk tidur kembali, tak berapa
saat kita pun membangunkan kembali tidur mereka yang baru sedikit
pulas, kali ini karena lapar. Dengan penuh kesabaran, kembali ibu bangun
dan menyusui kita sampai kita tenang dan tertidur kembali. Inilah
namanya cinta.
Ketika kita beranjak dewasa, mereka
mendengarkan semua keluhan dan makian kita, suara kita yang keras saat
marah dengan mereka, mereka balas dengan nasihat yang tulus. Diajarinya
kita semua hal tentang dunia dan hidup. Setiap hari tak lupa didoakannya
kita setelah shalatnya, sampai detik inipun ia masih berdoa.. ”ya
Allah, jadikanlah putra-putriku sedap dipandang mata dan berikanlah
mereka hati yang lembut dan keshalihan”. Seringkali mereka menangis
disaat kita membentak mereka, sakit. Tapi esoknya, kembali
diperlihatnkannya wajah dan senyum cerianya, kembali memasak makanan dan
menyiapkan pakaian kita. Tanpa keluhan. Inilah cinta
Tapi, mari kita putar balik memori kita.
Tulusnya cinta kedua orangtua kita yang selalu memberi tanpa pamrih,
sudahkah kita menghargainya dan mengingatnya? Pernahkah kita memberikan
hadiah kepada ibu kita, memberikan sekuntum bunga kepada ibu kita, atau
sekedar memeluk ibu kita dan mengucapkan ”terima kasih ya ibu..” atas
pemberiannya yang tak kan bisa kita balas? Pernahkah kita mengucapkan
”terima kasih ayah, atas upayamu menghidupi dan mencukupi keluarga..”
atau pernahkah kita meminta maaf saat kita melakukan kesalahan pada ayah
kita? Atau sekedar berdoa bagi mereka berdua setelah shalat? Ingatkah
kita pada mereka berdua disaat kita mendapatkan kesenangan?
Lebih jauh lagi, apakah kita termasuk
orang yang mengingkari cinta yang diberikan Allah dan rasulnya Muhammad.
Kita mengaku ummat Muhammad, menulisnya dalam kolom tokoh idola kita,
tapi mungkin tak sedikitpun merindukannya. Padahal rasulullah, manusia
mulia yang dijamin masuk surga rela dilempari dengan batu hingga kakinya
berdarah, rela dihina, dimaki, dilempari kotoran, demi kita, demi
ummatnya. Bahkan sampai wafatnya pun rasul selalu memikirkan ummatnya
lebih daripada dia dan keluarganya.
”Ummati.. ummati.. ummati..” itulah
kata-kata terakhirnya. Padahal jika tidak ada rasul dan agama yang
dibawanya, mana mungkin kita mempunyai kedua orang tua yang baik. Tanpa
izin Allah, sumber segala cinta, bagaimanakah orangtua kita bisa ada di
dunia ini. Maka kepada Allah-lah kita harus berterimakasih paling banyak
dan paling besar, bersyukurlah. Lalu bershalawatlah kepada nabi
Muhammad saw. yang memperjuangkan agama Islam dengan darah dan bahaya
serta kesusahan Berikutnya adalah kepada kedua orangtua, atas cinta
kasih mereka.
Kita lebih cenderung pada tipuan dunia
dibanding mengikuti ajaran Allah yang dibawa oleh Muhammad saw., pun
kepada kedua orangtua kita juga seperti itu, kebaikan mereka kita anggap
kewajaran yang sangat jarang kita hargai. Kita hanyut begitu saja saat
nafsu muncul dalam diri kita. Kita lebih percaya pada kata-kata di
televisi, media dan seruan orang lain dibanding orangtua kita.
Kita mungkin tidak mengetahui, ternyata
ada orang-orang munafik, kafir dan musyrik yang sengaja ingin
menjatuhkan agama Islam yang sempurna dengan berbagai cara dan upaya
yang mereka lakukan. Mereka tau pemuda adalah tumpuan ummat, ketika
rusak pemuda, maka rusaklah ummat itu pada akhirmya. Mereka lalu
memperkenalkan kepada kita budaya-budaya hedonis mereka atas nama cinta,
padahal tidak lain hanyalah nafsu yang mereka katakan cinta. Mereka
begitu cantik membungkus budaya sampah mereka dengan jargon-jargon,
dengan propaganda, iklan dan opini sehingga pemuda muslim tunduk
dibuatnya, membebek mereka.
Padahal tujuan mereka sangat jelas.
Menjauhkan pemuda dari Islam. Membuat pemuda Islam berfikir bahwa
pengajian itu kolot, Islam itu ketinggalan zaman, aturan Allah itu kejam
dan lain sebagainya. Satu-satunya yang mereka khawatirkan adalah
apabila al-Qur’an dan as-Sunnah menyatu dalam akal dan perasaan setiap
pribadi pemuda di dalam masyarakat dan menjelma menjadi peraturan hidup
yang diterapkan secara formal dalam kehidupan. Mereka takut dengan itu.
Saking cemasnya mereka berusaha agar jangan sampai bersatu antara Islam
dan kaum muslim, terutama pemudanya. Karena kalau sampai itu terjadi,
maka akan terlihatlah wajah asli mereka yang buruk.
Hanya ada dua jalan yang dijadikan Allah
swt. satu menuju ke surga yang diridhai-Nya, satu menuju ke Neraka. Dan
hanya ada satu jalan ke surga, yaitu mengambil Islam secara kaaffah.
Islam adalah sistem hidup yang sempurna, ia menyediakan semua solusi
permasalahan. Dan tidaklah diperkenankan untuk menyembah sesuatu selain
Allah, ataupun mengambil ajaran selain Islam, karena itupun berati
menyekutukan Allah swt. yang telah menurunkan Islam secara sempurna.
Jangan nodai nama cinta dengan mengatas
namakan cinta atas pekerjaan nafsu. Karena cinta berbeda dengan nafsu.
Cinta tak akan pernah menginginkan yang dicintai menjadi sengsara dan
susah. Jangan katakan cinta apabila ia tahu perbuatannya akan
mengantarkan yang dicintainya ke api neraka sementara ia tetap
melakukannya. Bukan cinta bila lebih mementingkan ajaran lain selain
ajaran nabi Muhammad saw.
Ya Allah, sesungguhnya banyak sekali
salah dan khilaf kami kepada-Mu. Kami tahu api neraka itu panas, tetapi
tetap saja kami melakukan yang dilarang oleh-Mu. Kami tahu surga itu
ni’mat tapi kami tidak berusaha dan bersegera meraihnya. Kami terkadang
sombong dengan karunia-Mu, padahal semua yang kami punya dapat Engkau
ambil kapanpun Engkau menginginkannya. Kami jarang sekali berbuat baik
kepada kedua orangtua kami, seringkali kami membentaknya, memarahinya,
memakinya, padahal kami tau ridha orangtua kami adalah ridha-Mu, dan
murka orangtua kami adalah murka-Mu.
Ya Allah jadikanlah mereka berumur
panjang agar kami dapat sedikit membalas kebaikan-kebaikan mereka yang
tak akan bisa kami balas. Jangan jadikan kami orang yang menyesal dan
baru menyadari semua kesalahan kami justru pada saat mereka tiada.
Ampunilah pada kedua orangtua kami dosa-dosa yang pernah mereka lakukan
karena Engkaulah Maha Pemberi Taubat dan Maha Penyayang. Ya Allah kami
lemah, tidak memiliki apapun untuk membahagiakan mereka, maka jadikanlah
kami anak yang shalih dan shalihah, karena inilah yang baru dapat kami
lakukan pada mereka. Rabbana atiina fi ad-dunya hasanah, wa fi
al-akhirati hasanah, wa qiina adzab an-naar. wa al-hamdulillahi rabb
al-alamin. Wallahua’lam bi ash-shawab.
Dampak Negatif Budaya Pacaran di Kalangan Remaja : Cermin Masa Depan
Soal pacaran di zaman sekarang,
tampaknya menjadi gejala umum di kalangan kawula muda. Barangkali
fenomena ini sebagai akibat dari pengaruh kisah-kisah percintaan dalam
roman, novel, film, dan syair lagu. Sehingga terkesan bahwa hidup di
masa remaja memang harus ditaburi dengan bunga-bunga percintaan,
kisah-kisah asmara, harus ada pasangan tetap sebagai tempat untuk
bertukar cerita dan berbagi rasa. Di masa remaja juga proses pencarian
jati diri seseorang berlangsung, karena bergaul pula, kita akan bisa
saling mengenal satu dengan yang lain, mulai dari nama, kebiasaan atau
hal-hal yang disukai oleh orang yang kita ajak bergaul. Ada pula yang
mengatakan dengan istilah ‘Tak Kenal, Maka Tak Sayang’, karena belum
saling kenal maka tak saling tahu bahkan saling menyayangi. Tapi jangan
lantas jadi tebar pesona. Dan pada proses itulah banyak para remaja yang
terjebak ke dalam pergaulan bebas “PACARAN” tersebut karena tidak
mengetahui dampak buruk bagi dirinya sendiri. Pacaran di kalangan remaja
saat ini telah mencapai titik kekhawatiran yang sangat tinggi atau
cukup parah, terutama seks bebas dan banyaknya melakukan perbuatan zina
yang merupakan dosa besar.
Dampak Negatif Pacaran
“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan sesuatu jalan yang buruk.” (TQS. Al-Isra [17] : 32).
Dari ayat tersebut menjelaskan bahwa
saat ini tidak aneh jika banyak dikalangan remaja banyak yang melakukan
aktivitas pacaran, sehingga mengakibatkan banyaknya melakukan perbuatan
zina dan dosa besar. Meningkatnya jumlah penderita HIV/AIDS, serta
wanita terutama dari kalangan remaja/anak sekolah yang hamil di luar
nikah. Bahkan sekarang pelakunya bukan saja mahasiswa dan anak SMA saja,
namun sudah merambat sampai ke anak SMP. Sepanjang tahun 2011 lalu,
tercatat ada 148 kasus seks pranikah, 30 kasus infeksi saluran
reproduksi, 30 kasus infeksi menular seksual (IMS), 220 kasus kehamilan
tidak diinginkan atau di luar nikah, serta 325 kasus persalinan remaja
baik karena menikah di usia dini maupun di luar nikah.
“Kasus tertinggi ada di Kecamatan
Banjarmasin Selatan, khususnya SMP,” ujar Kepala Dinkes Kota
Banjarmasin, Diah R Praswasti. Dari beberapa penelitan yang dilakukan
sejak tahun 2006, sebanyak 62,7 persen remaja SMP tidak perawan dan 21,2
persen remaja mengaku pernah aborsi. Seksual aktif di kalangan remaja
adalah realitas yang tidak bisa dipungkiri. Kebanyakan remaja mengaku
awalnya coba-coba dan penasaran.
Namun tak jarang, banyak sekali
orang-orang yang melakukan perbuatan keji dan tidak berkeprimanusiaan
untuk menutupi aib nya, yaitu dengan melakukan aborsi. Padahal mereka
tahu akibat aborsi sangat berbahaya bagi kesehatan tubuhnya sendiri dan
keselamatannya secara fisik. Bahkan bukan hanya pada kesehatan dirinya
sendiri, tetapi juga sangat berdampak hebat bagi keadaan mental
seseorang yang melakukan aborsi tersebut. Namun demi menutupi aib yang
ia timbulkan sendiri, ia rela mempertaruhkan nyawanya sendiri. Oleh
karena itu jika tidak secepatnya di atasi, akibat pergaulan bebas dari
pacaran ini akan sangat membawa dampak negatif dan efek yang buruk bagi
perkembangan zaman.
Solusi Islam
Dalam kehidupan Islam sebagaimana yang
dapat kita baca dalam sejarah Rasulullah SAW, atau buku-buku yang
menggambarkan kehidupan Islam pada masa Rasulullah SAW, aktivitas kaum
lelaki dan wanita terpisah, kecuali dalam beberapa aktivitas khusus yang
diperbolehkan syariat.
Misalnya, Islam menggariskan bahwa
perempuan harus menutup aurat di hadapan lelaki yang bukan mahramnya,
pun sebaliknya. Memerintahkan perempuan maupun lelaki untuk menundukkan
pandangan, serta menjaga kehormatan dan kemuliaannya di hadapan non
mahram. Oleh karena itu, sebagai remaja harus membiasakan berfikir
panjang ke depan sebelum melakukan sesuatu hal, apalagi yang belum kita
ketahui dampak baik dan buruknya bagi diri kita, keluarga, dan orang
lain. Dengan memperbanyak mengenal ilmu agama dan mengetahui adab-adab
dan norma-norma hukum agama sehingga kita dapat mempraktekannya dan
mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan itu dapat
mencerminkan kehidupan generasi penerus masa depan yang baik dan
berakidah Islam.
Remaja dan Pemilu
Ritual lima tahunan Pemilu dalam
kampanyenya menjadi ajang tebar pesona, tebar janji para caleg. Padahal
semua juga sudah tahu kalo janji mereka lima tahun yang lalu aja belum
terealisasi. Kampanye parpol dan para calegnya, hanya dijadikan oleh
masyarakat sebagai ajang cari kaos sampe cari amplop. Bisa jadi
aktivitas nyoblos di hari H Pemilu, akan tergantung siapa yang paling
besar ngasih amplop.
Bisa jadi fenomena kayak gitu juga yang
bikin teman remaja ‘emoh’ kalo diajakin ngomong politik. Padahal kita
bisa hidup di negeri ini diatur dengan politik. Kita bisa bertetangga
dengan negara lain juga diatur dengan politik. Harga beras, kopi, gula
di negeri ini sampai biaya kamu sekolah juga ditentukan dengan kebijakan
politik. Lalu kenapa kita masih emoh ngobrol politik?
Menghalau Virus EGP
Sobat, semoga kamu bukan orang yang anti
ngobrolin politik lagi. Kalo emang sobat masih anti dengan politik,
jangan-jangan emang udah keserang ama virus EGP.
Lho, kita mau ngobrol politik koq
ngebahas virus, sih ? Eiitt… jangan salah sobat, virus ini bukan
sembarang virus. Gara-gara virus EGP (Emang Gue Pikirin), banyak remaja
muslim kena penyakit individualis. Mereka paling ogah kalo diajak
mikirin kondisi negeri zamrud khatulistiwa ini. Boro-boro mikir mahalnya
biaya pendidikan atau tingginya jumlah pengangguran, dikasih tugas ama
guru untuk bikin artikel atau kliping aja, mereka pasti langsung
semaput…
Ups.. ini bukan tuduhan, lho. Tapi emang
kondisi kebanyakan remaja sekarang kayak gitu, kalo disuruh mikir yang
“berat” (menurut kategori remaja saat ini) otak mereka langsung ngebul
persis air di panci yang mendidih, apalagi kalo mikir politik, dijamin
bukan lagi ngebul, tapi udah kebakaran..He..he..he..
Sobat, kita tuh hidup di negeri ini,
bukan di negeri dongeng, negeri awan, atau negeri impian. Itu berarti
baik-buruknya kondisi negeri ini akan banyak mewarnai hidup kita.
Kebayang kan gimana kalo sikap cuek itu mewabah, nggak hanya individu,
tapi kalo kompakan, se-kampung, se-desa, se-kabupaten, se-propinsi dan
akhirnya bisa satu negara kompakan untuk EGP.
Rasulullah Saw, sudah menggambarkan kalo
sikap cuek dipelihara akan mengakibatkan malapetaka, seperti yang
terjadi pada penumpang sebuah kapal. Sabdanya :
“Perumpamaan orang yang menjaga dan
menerapkan aturan Allah adalah laksana kelompok penumpang kapal yang
mengundi tempat duduk mereka. Sebagian mereka mendapat tempat duduk di
atas dan sebagian yang lain di bawah. Penumpang bagian bawah, jika butuh
air, maka harus melewati atas. Mereka (yang di bagian bawah) berkata:
“Bagaimana jika kami lubangi saja bagian bawah (untuk mendapatkan air),
toh hal itu tidak menyakiti bagian atas”. Jika kalian biarkan mereka
berbuat menurut keinginan mereka itu, maka binasalah mereka dan seluruh
penumpang kapal itu. Tetapi Jika kalian cegah mereka, akan selamatlah
mereka dan seluruh Penumpang yang lain” (HR Bukhari)
Seandaianya kecuekan ini terus
berlangsung, alamat kehancuran yang akan didapat. Makanya harus bin
wajib untuk menghadirkan sikap kritis bin peduli dalam diri kita
terhadap kondisi yang ada di sekitar kita. Itulah bagian dari dakwah,
bagian juga dari aktivitas politik yang didefinisikan sebagai ri’ayatus su’unil ummah, melayani urusan umat.
Hajatan Pemilu
Sob, kalo kita ngomongin pemilu yang
sebentar lagi digelar, dalam Pemilu 2014 akan bertarung 15 parpol,
dimana 12 partai nasional dan 3 lainnya partai lokal. Pertanyaan
pentingnya adalah, apakah partai politik tersebut bisa membuat rakyat
percaya? Mereka bisa memegang mandat untuk mewakili aspirasi rakyat?
Kayaknya rakyat di seantero negeri ini
sudah ‘ngeh’ deh. Coba ingat-ingat, dari pemilu ke pemilu rasanya emang
belum ada partai yang layak untuk menjadi tempat menggantungkan harapan
bagi rakyat.
Sory, bukan apatis, tapi coba perhatikan
aja. Dari berbagai survey, ada kecenderungan umat sudah apatis dan
apriori alias tidak peduli terhadap elit penguasa. Tingkat kepercayaan
mereka terhadap institusi partai begitu rendah.
Hasil survei nasional Juni 2013, yang digelar Indikator Politik Indonesia
“Dari 58 persen responden menyatakan tak percaya partai politik,
disusul dengan responden yang tak percaya politisi, menteri-menteri,
DPR, dan presiden,” kata Direktur Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi di Hotel Kempinski, Jakarta, Selasa (23/7/2013, okezone.com).
“Apatisme sebagian besar dari rakyat
terhadap partai politik adalah akibat parpol yang hanya berorientasi
bagaimana merebut dan melanggengkan kekuasaan semata,” tutur Din Syamsudin, Kamis (6/9/2013), seperti dikutip tribunnews.com
Katanya pemilu itu pesta rakyat. Bener
ga sih? Apakah layak dikatakan sebagai pesta rakyat ketika rakyat hanya
jadi bulan-bulanan para pejabat? Jangan-jangan pemilu itu sebenarnya
pesta pejabat. Faktanya para pejabat dalam sistem demokrasi memang
memanfaatkan momen ini untuk “menghipnotis” rakyat agar mau mencoblos
mereka.
Status Hukum Pemilu
Sobat, Pemilu legislatif (pileg) yang
akan digelar di Indonesia awal April ini ditujukan untuk memilih wakil
rakyat yang akan duduk di DPR-DPRD. So, kita kudu tahu hukumnya memilih wakil rakyat. Ternyata, dalam pandangan hukum Islam, memilih wakil rakyat merupakan salah satu bentuk akad perwakilan (wakalah). Hukum asal wakalah adalah mubah
alias boleh. Dalilnya antara lain: hadis sahih penuturan Jabir bin
Abdillah ra. yang berkata: “Aku pernah hendak berangkat ke Khaibar. Lalu
aku menemui Nabi saw. Beliau kemudian bersabda: Jika engkau menemui wakilku di Khaibar, ambillah olehmu darinya lima belas wasaq” (HR Abu Dawud).
Wakalah itu sah kalo semua rukun-rukunnya dipenuhi. Rukun-rukun tersebut antara lain adanya akad (ijab-qabul); dua pihak yang berakad, yaitu pihak yang mewakilkan (muwakkil) dan pihak yang mewakili (wakîl); perkara yang diwakilkan; serta bentuk redaksi akad perwakilannya (shigat tawkîl). Semuanya tadi harus sesuai dengan syariah Islam.
Nah kalo kaitannya dengan memilih wakil rakyat, maka yang menjadi sorotan utamanya adalah “perkara yang diwakilkan”.
Dengan kata lain, apakah aktivitas para wakil rakyat itu sesuai dengan
syariah Islam atau tidak. Kalo sesuai dengan syariah Islam maka wakalah
tersebut boleh dilakukan. Sebaliknya, kalo nggak sesuai maka wakalah
tersebut tidak boleh dilakukan. Karena itu, hukum wakalah dalam konteks
membuat peraturan yang tidak bersumber pada hukum Allah, jelas tidak
boleh.
Harapan Ada Pada Syariah
Lalu kemana sebenarnya, keinginan
masyarakat untuk menyalurkan aspirasinya? Ternyata ada kecenderungan di
kalangan umat bahwa masa depan politik Indonesia ada pada syariah Islam.
Buktinya, beberapa survey menunjukkan dukungan masyarakat terhadap
penerapan syariah Islam meningkat.
Hasil survei yang dipublikasikan Pew Research Center,
penerapan hukum syariah memiliki dukungan cukup besar, di Mesir (74
persen), Indonesia (72 persen), Nigeria (71 persen), Palestina (89
persen) dan Afganistan (99 persen). “Dari 38 ribu respons di 39 negara
diketahui bahwa umat Islam lebih nyaman dengan penerapan hukum syariah,”
seperti dikutip Reuters (republika.co.id).
Begitu juga yang disampaikan Dr Kusman
Shadik salah satu peneliti SEM Institute ketika merilis survey
terbarunya di tahun 2014 “Kami melibatkan semua elemen masyarakat dalam
survey kami, dan 72 persen diantaranya yakin solusi masalah Indonesia
hanya dengan tegaknya syariat Islam,” (arrahmah.com).
Sobat, tentu saja hasil apresiasi masyarakat yang menginginkan penerapan syariah bukan tanpa proses. Itu artinya Pertama,
selama ini telah terjadi proses edukasi terhadap kewajiban dan
pentingnya syariah Islam sebagai solusi bagi negeri ini dan juga
masyarakat dunia. Dan aktivitas ini tidak dilakukan oleh partai-partai
Islam yang selama ini duduk di parlemen, tapi dilakukan oleh partai
Islam Ideologis.
Kedua, juga karena umat
sudah muak dengan praktik Kapitalisme dan Sekularisme dengan berbagai
dampak yang selama ini harus mereka alami. Fenomena golput yang terus
meningkat dalam Pilkada juga membuktikan hal yang sama. Rakyat sudah
paham betul, bahwa proses perubahan yang terjadi melalui pemilihan
langsung, nyatanya nggak ngaruh sedikit pun bagi nasib mereka.
Umat udah nggak bisa dikibulin, bahwa
pergantian orang tidak akan mengubah apa-apa. Kini mereka cuman pengin
menuntut satu hal, agar sistem sekuler yang selama ini membuat sengsara
hidup mereka juga harus diganti. Gantinya adalah sistem yang berasal
dari Sang Pencipta, yakni sistem Syariah- Khilafah. Allahu Akbar !
Karena itu sobat, kita juga wajib sadar kalo dalam pemilu itu nggak
cuma bolongin kertas suara. Tapi ada tanggung jawab yang kita pikul di
hadapan Allah terhadap pilihan kita. Di sinilah pentingnya kita
mengetahui partai yang ada, agar kita bisa mengetahui kesesuaiannya
dengan syariat Islam serta ketulusannya dalam memperjuangkan tegaknya
Islam. So, jadilah remaja politisi yang cerdas dan syar’i.
Sabtu, 08 November 2014
Remaja NgomPol (Ngomongin Politik)
Remaja sejatinya merupakan pilar penting
kemajuan negeri. Namun bila kita lihat seperti apa kondisi remaja saat
ini, ternyata sangat memprihatinkan. Remaja merokok, minum miras,
narkoba, pacaran, seks bebas hingga menggunungnya kasus remaja hamil di
luar nikah yang sudah menjadi rahasia umum dan masih banyak lagi prilaku
buruk lainnya. Bahkan yang terbaru adalah kasus geng motor yang sering
meresahkan warga yang baru-baru ini berhasil ditangkap oleh polisi, di
depan mini market Jln. Pangeran Kornel, Sumedang Selatan. Usia diantara
15 remaja tersebut adalah 13-16 tahun. (wwww.lodya.web.id). Apakah layak
yang seperti ini menjadi generasi penerus bangsa? Betapa sangat
mengerikan sekali kehidupan sebagian besar remaja saat ini.
Remaja hidup semau gue, tidak mau diatur
dengan aturan yang benar, bebas sebebas-bebasnya dan tidak
memperdulikan orang lain. Apalagi jika disodorkan masalah politik,
mereka pasti langsung menolak karena mereka masih merasa tabu sehingga
tidak mau memikirkan masalah politik. Jika kondisi remaja saat ini terus
seperti ini bagaimana bisa menjadi pilar penting kemajuan negeri?
Mungkin politik yang saat ini diketahui
oleh kebanyakan orang adalah politik dalam rangka perebutan kekuasaan.
Bahkan ada yang beranggapan bahwa politik itu kotor karena banyak para
pelaku politik negeri ini yang melakukan korupsi dll. Sistem politik
yang seperti itu adalah sistem politik ala Demokrasi Kapitalis. Lantas
politik yang sebenarnya itu yang seperti apa?
Islam memandang bahwasanya politik itu
adalah Riayah Su’unil Ummah (mengurusi urusan umat/masyarakat). Dalam
Islam aktivitas politik merupakan kewajiban bagi seluruh muslim termasuk
di dalamnya adalah remaja. Bahwasanya politik Islam tidak hanya
dibebankan kepada ustadz/ustadzah tetapi remaja pun sama, baik itu
laki-laki atau perempuan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari
masyarakat secara umum. Dalam hal ini Allah SWT. telah berfirman:
“Kamu adalah umat yang terbaik yang
dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari
yang mungkar dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli kitab beriman
tentulah itu lebih baik bagi mereka, diantara mereka ada yang beriman
dan kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang fasik.” (TQS. Ali-Imran: 110)
Amar ma’ruf nahi mungkar merupakan
aktivitas politik Islam yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan.
Karena dari aktivitas tersebut kita peduli terhadap orang lain untuk
saling mengingatkan dalam kebaikan, mengkoreksi penguasa yang dzolim
juga merupakan aktivitas politik remaja. Maka dari itu remaja harus
melek politik, harus mampu melihat fakta yang terjadi saat ini,
mengetahui letak masalah dan juga memahami solusinya.
Dari pemahaman politik yang benar
(berpolitik Islam) disana akan muncul kesadaran untuk merubah kondisi
yang buruk menjadi lebih baik sehingga akan didapati kepantasan bahwa
remaja sejatinya merupakan pilar penting kemajuan sebuah Negeri.
Wallahua’lam bi ash showab.
Remaja Semakin Brutal
Seorang remaja, idealnya menjadi mutiara
harapan di masa mendatang. Namun harapan ini seolah semakin menipis
bahkan jauh dari pandangan mata dan sirna. Bagaimana tidak, semakin hari
semakin banyak ulah remaja dari yang sedikit nakal hingga brutal.
Banyak diberitakan remaja di kota
Bandung yang belum memiliki SIM di jalan raya seringkali membahayakan
diri sendiri ataupun pengendara lainnya. Seperti Nurjanah (16), penduduk
Moh. Sari RT 04/RW 02 Kel. Sindang Jaya, Kec. Mandalajati, Kota Bandung
(2 Mei 2014) dan pelajar, Wafa Amali Fauzan (15) tewas dalam kecelakaan
di Jalan Raya Batujajar, Cimahi, Jawa Barat. Wafa yang saat kejadian
mengendarai sepeda motor mengalami kecelakaan saat sedang menyalip truk
yang ada di depannya (www.klik-galamedia.com, 2014). Beberapa hari
sebelumnya polisi melakukan pengejaran terhadap remaja-remaja yang
sedang asyik melakukan balap liar di jalan raya Jatinangor-Sumedang.
Tingkah laku liar remaja juga tampak
pada seratusan pelajar SMK dari Lebak, Banten. Mereka diamankan polisi
karena terlibat tawuran di kawasan terminal Kadubanen dengan pelajar SMK
Pertanian, di Polres Pandeglang, Banten, Sabtu (26/4/2014). Dari tangan
mereka ditemukan gir rantai, senjata tajam dan bom Molotov
(www.metrotvnews.com,2014). Bahkan kini kasus tawuran sudah tidak lagi
menjadi barang langka di berbagai belahan Nusantara.
Kisah geng motor pun tak habis-habisnya.
Di bulan Maret diantaranya ada geng motor yang merusak mobil dan
memuukuli seorang guru di Bendungan Hilir serta ulah geng motor yang
memanah Ajudan Kapolrestabes Makassar. Sedangkan di bulan April kisah
tragis akibat geng motor dialami seorang wartawan di Makasar juga
dialami seorang polisi di Dumai hingga babak belur (www.liputan6.com).
Sedangkan di Makassar, Metrotvnews.com
memberitakan tim khusus gabungan berantas geng motor berhasil menangkap
seorang anggota geng motor dengan sejumlah anak panah di jalan Veteran
Utara, Makassar, Sulawesi Selatan, Sabtu (26/4/2014).
Kebrutalan remaja pun semakin berwarna.
Metrotvnews.com (25/4/2014) melansir berita tentang pembobolan ATM Bank
Muamalat di Desa Sumberejo, Kecamatan Banyuputih oleh seorang siswa
salah satu SMK di Situbondo, Jawa Timur. Pelajar ini melakukan aksinya
dengan cara mematikan aliran listrik sebelum transaksi ATM selesai dan
mampu membobol uang dari mesin ATM sebesar Rp. 370 juta.
Itulah secuil potret remaja masa kini,
yang tampak buram dan menghitam. Seperti pernyataan Menteri Hukum dan
HAM (Menkumham), Amir Syamsuddin di Pekanbaru bahwa data yang diperoleh
sampai pada Maret 2014 sebanyak 3.323 anak yang berumur kurang dari 16
tahun menjadi warga binaan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) di
Indonesia karena terlibat berbagai tindak pidana (ANTARA News,2014).
Menurut beliau, kondisi tersebut menggambarkan bahwa kejahatan yang
dilakukan oleh anak-anak sudah sangat mengkhawatirkan. Untuk itu,
diperlukan upaya penanganan yang sangat serius terhadap kejahatan yang
dilakukan oleh kalangan anak.
Amir Syamsuddin menawarkan solusi untuk
mengatasi kriminalitas remaja ini dengan keadilan restoratif dan proses
diversi. Menurut beliau masalah keadilan restoratif merupakan suatu
penyelesaian perkara tindak pidana dengan melibatkan semua pihak untuk
bersama-sama mengatasi masalah serta menciptakan suatu kewajiban untuk
membuat segala sesuatunya lebih baik dengan menekankan pemulihan kembali
pada pelaku kejahatan golongan anak. “Kembalikan sifat mereka seperti
semula dan bukan malah pembalasan. salah satu bentuknya adalah
pengalihan penyelesaian perkara anak dari proses peradilan pidana ke
proses di luar peradilan pidana atau yang dikenal dengan proses
diversi,” kata dia.
Sepintas solusi ini logis dan manusiawi.
Tetapi permasalahannya adalah batasan remaja itu sendiri masih kurang
jelas. Selama ini remaja dianggap sebagai usia transisi antara anak-anak
dan dewasa. Dalam Wikipedia disebutkan Remaja adalah waktu manusia
berumur belasan tahun. Pada masa remaja manusia tidak dapat disebut
sudah dewasa tetapi tidak dapat pula disebut anak-anak. Masa remaja
adalah masa peralihan manusia dari anak-anak menuju dewasa. Remaja
merupakan masa peralihan antara masa anak dan masa dewasa yang berjalan
antara umur 12 tahun sampai 21 tahun.
Menurut Sri Rumini & Siti Sundari
(2004: 53) masa remaja adalah peralihan dari masa anak dengan masa
dewasa yang mengalami perkembangan semua aspek / fungsi untuk memasuki
masa dewasa. Masa remaja berlangsung antara umur 12 tahun sampai dengan
21 tahun bagi wanita dan 13 tahun sampai dengan 22 tahun bagi pria.
Sedangkan menurut Zakiah Darajat (1990: 23) remaja adalah: Masa
peralihan di antara masa kanak-kanak dan dewasa. Dalam masa ini anak
mengalami masa pertumbuhan dan masa perkembangan fisiknya maupun
perkembangan psikisnya. Mereka bukanlah anak-anak baik bentuk badan
ataupun cara berfikir atau bertindak, tetapi bukan pula orang dewasa
yang telah matang. Hal senada diungkapkan oleh Santrock (2003: 26) bahwa
remaja (adolescene) diartikan sebagai masa perkembangan transisi antara
masa anak dan masa dewasa yang mencakup perubahan biologis, kognitif,
dan sosial-emosional.
Batasan usia remaja yang umum digunakan
oleh para ahli adalah antara 12 hingga 21 tahun. Akan sangat aneh bila
seorang remaja dengan usia 21 tahun melakukan kriminal atau 16 tahun
yang selama ini diberlakukan karena belum memiliki KTP dianggap seperti
anak-anak? Pantaskah mereka disejajarkan dengan anak? Mereka dikatakan
bukan anak-anak tapi mengapa tindakan yang dilakukan terhadap mereka
perlakuan untuk anak-anak? Padahal sebagian besar dari mereka dipastikan
sudah baligh dan berakal.
Baligh dan berakal adalah batasan yang
jelas yang diberikan oleh Allah Sang Maha Pencipta. Dalam Ensiklopedia
Islam disebutkan akil baligh adalah seseorang yang sudah sampai pada
usia tertentu untuk dibebani hukum syariat (taklif) dan mampu mengetahui
atau mengerti hukum tersebut. Orang yang berakal adalah orang yang
sehat sempurna pikirannya, dapat membedakan baik dan buruk, benar dan
salah, mengetahui kewajiban, dibolehkan dan yang dilarang,serta yang
bermanfaat dan yang merusak.
Adapun tanda-tanda baligh, pertama,
apabila seorang anak perempuan telah berumur sembilan tahun dan telah
mengalami haidh (menstruasi). Artinya apabila anak perempuan mengalami
haidh (mentruasi) sebelum umur sembilan tahun maka belum dianggap
baligh. Dan jika mengalami (haidh) mentruasi pada waktu berumur sembilan
tahun atau lebih, maka masa balighnya telah tiba. Kedua, apabila
seorang anak laki-laki maupun perempuan telah berumur sembilan tahun dan
pernah mengalami mimpi basah (mimpi bersetubuh hingga keluar sperma).
Artinya, jika seorang anak (laki maupun perempuan) pernah mengalami
mimpi basah tetapi belum berumur sembilan tahun, maka belum dapat dikata
sebagai baligh. Namun jika mimpi itu terjadi setelah umur sembilan
tahun maka sudah bisa dianggap baligh. Ketiga, apabila seorang anak baik
laiki-laki maupun perempuan telah mencapai umur lima belas tahun (tanpa
syarat). Maksudnya, jika seorang anak laki maupun perempuan telah
berumur lima belas tahun, meskipun belum pernah mengalami mimpi basah
maupun mendaptkan haid (menstruasi) maka anak itu dianggap baligh
(www.nu.or.id,2014)
Seseorang yang sudah baligh dibebani
hukum syarak apabila ia berakal dan mengerti hukum tersebut. Orang bodoh
dan orang gila tidak dibebani hukum karena mereka tidak dapat mengerti
hukum dan tidak dapat membedakan baik dan buruk, maupun benar dan salah.
Rasulullah SAW bersabda, “Diangkatkan
pena (tidak dibebani hukum) atas tiga (kelompok manusia), yaitu
anak-anak hingga baligh, orang tidur hingga bangun, dan orang gila
hingga sembuh.” (HR Abu Dawud).
Jadi jelaslah justru seharusnya
dilakukan peradilan pidana bagi seorang yang dianggap remaja yang sudah
baligh dan berakal. Bukan dengan keadilan restoratif dan proses diversi
yang akan membuat pelaku kriminal tidak jera dan asyik terus melakukan
kejahatannya.
Remajaku Sayang, Remajaku Malang
Salah satu alasan mengapa Gubernur
Surabaya, Jawa Timur menutup lokalisasi Dolly karena prihatin dengan
anak-anak yang tinggal di sekeliling tempat prostitusi tersebut. Alasan
Risma ini tentu ada sebabnya. Banyaknya temuan kasus remaja yang
terjebak narkoba, seks bebas sampai menjadi mucikari, rata-rata semuanya
hampir tinggal di lingkungan yang berdekatan dengan prostitusi. Hal ini
dibuktikan Risma ketika melakukan kunjungan ke sekolah-sekolah yang
berdekatan dengan area prostitusi, dan ternyata kebanyakan para remaja
bisa terjebak ke dalam bisnis seks tersebut diakibatkan permasalahan
ekonomi (Republika.co.id).
Berdasarkan data survey Komnas
Perlindungan Anak yang bekerjasama dengan Lembaga Perlindungan Anak di
12 Kota besar, pada tahun 2013 menyebutkan ada 102 kasus seksual remaja
untuk tujuan komersil. Ini menandakan bahwa remaja kita saat ini tengah
terjebak sebagai pekerja seks komersial. Rata-rata tempat prostitusi di
Indonesia sendiri, pekerjanya adalah para remaja yang bahkan masih ada
yang duduk di bangku sekolah. Latar belakang mereka untuk menjadi PSK
memang rata-rata karena kondisi ekonomi, tetapi gaya hidup yang hedonis
juga turut serta mempengaruhi perilaku mereka yang ingin ‘hidup mewah’
sehingga akhirnya nekat untuk menjajakan dirinya.
Permasalahan ini sebenarnya sudah tidak
boleh dianggap remeh lagi. Karena hal ini menyangkut generasi masa depan
bangsa. Jika para remaja sekarang sudah banyak yang bermasalah,
bagaimana nantinya mereka bisa memipin bangsa ini ke depannya? Maka dari
itu diharapkan kepada Pemerintah untuk segera bertindak cepat. Tidak
cukup hanya dengan menutup area prostitusi saja, tapi seluruh aspek yang
memicu terjadinya tindakan zina, seperti memblokir situs-situs
pornografi, melarang semua bentuk pornografi baik itu dari media cetak
(seperti majalah, komik, dll) maupun elektronik (seperti tayangan
sinetron ataupun acara yang mengumbar aurat), pengaturan pergaulan
antara laki-laki dan wanita, dan pemberian sanksi tegas bagi pelaku
zina.
Solusi ini pun tidak bisa berjalan
sempurna tanpa adanya dukungan dari ketakwaan individu dan kontrol
masyarakat yang baik. Maka, pentingnya pembinaan Islam di tengah-tengah
mereka sudah sepatutnya dilakukan. Oleh karenanya, sudah sepatutnya kita
kembali kepada bagaimana Allah mengatur, yaitu kembali kepada Al-Qur’an
dan As-Sunnah dalam segala aspek. Insya Allah dengan diterapkannya
sistem Islam secara menyeluruh, akan mampu menghasilkan
generasi-generasi cemerlang pengisi peradaban seperti pada zaman
keemasan Islam dulu. Wallahu a’lam bi ash-shawab.
Dahsyatnya Do’a Seorang Ibu
Mungkin sebagian orang masih tidak sadar bahwa kemungkinan kesuksesan-kesuksesannya selama ini adalah buah dari doa seorang ibu kepada Allah tanpa ia ketahui. Dan seorang ibu itu tanpa disuruh pasti akan selalu mendoakan anaknya di tiap nafasnya kala bermunajat kepada Allah. Tapi seorang anak belum tentu selalu berdoa untuk orang tuanya.
Barangkali juga kita suka mengeluh
tentang sifat buruk orang tua, entah karena ibu nya cerewet, suka ikut
campur, suka nyuruh-nyuruh, tidak gaul dan lain sebagainya. Jika seperti
ini maka tragis. Kenapa tragis? Karena terlalu fokus dengan secuil
kekurangan orang tua dan melupakan segudang kebaikan yang telah
diberikan kepada kita selama ini.
Di luar sana mungkin ada orang-orang di
pinggir jalanan, di bawah kolong jembatan dan di tempat lainnya mereka
juga suka mengeluh, tapi yang mereka keluhkan ialah bukan karena sifat
orang tua atau ibu mereka, tapi mereka mengeluh karena mereka tidak
punya lagi orang tua.
Bersyukurlah jika masih mempunyai orang
tua. Jika ingin tahu rasanya tidak punya ibu, coba tanyakan kepada
mereka yang ibu nya telah tiada. Mungkin perasaan mereka sangat sedih
dan kekurangan motivasi dalam hidup.
Coba bayangkan jika kita tidak punya
ibu, ketika kita akan pergi ke luar rumah untuk sekolah atau bekerja,
tidak ada lagi tangan yang bias kita cium. Jika tidak punya ibu mungkin
tidak ada lagi makanan yang tersedia di meja makan saat kita pulang.
Jika kita tidak punya ibu lagi ketika hari lebaran rumah terasa sepi dan
lebaran terasa tanpa makna. Jika kita tidak punya ibu barangkali kita
hanya bisa membayangkan wajah tulusnya di pikiran kita dan melihat
baju-bajunya di lemarinya.
Banyak di antara kita suka mengeluh
tentang sifat negatif ibu kita, tapi kita tidak pernah berfikir mungkin
hampir setiap malam ibu kita di keheningan sepertiga malam bangun untuk
shalat tahajud mendoakan kita sampai bercucuran air mata agar sukses
dunia dan akhirat.
Mungkin di suatu malam beliau pernah
mendatangi kita saat tidur dan mengucap dengan bisik “nak, maafkan ibu
ya… ibu belum bisa menjadi ibu yang baik bagimu” kita mungkin juga lupa
di saat kondisi ekonomi rumah tangga kurang baik, ibu rela tidak makan
agar jatah makannya bisa dimakan anaknya. Ketika kita masih kecil ibu
kira rela tidur dan lantai dan tanpa selimut, agar kita bisa tidur
nyaman di kasur dengan selimut yang hangat.
Setelah semua pengorbanan telah
diberikan oleh ibu kita selama ini, lalu coba renungkan apa yang kita
perbuat selama ini kepada ibu kita? Kapan terakhir kita membuat dosa
kepadanya? Kapan terakhir kita membentak-bentaknya? Pantaskah kita
membentak ibu kita yang selama Sembilan bulan mengandung dengan penuh
penderitaan? Oleh karena itu maka berusahalah untuk berbakti kepada
orang tuamu khususnya kepada Ibumu. Karena masa depan kita ada di desah
doa-doanya setiap malam. Dan ingat perilaku kita dengan orang tua kita
saat ini akan mencerminkan perilaku anak kita kepada diri kita nanti.
Dan doa ibu itu mampu menembus langit, sangat mustajab di hadapan Allah. maka muliakanlah ibumu.
Jumat, 07 November 2014
Membabat Cabe-cabean
Istilah “cabe-cabean” akhir-akhir ini semakin marak terjadi di Jakarta. Awalnya “cabe-cabean” merujuk pada gadis belia dengan pakaian ketat dan minim, sering nongkrong dan kerap menjadi bahan taruhan di arena balap liar. Sekarang maknanya lebih mengarah kepada gadis belia yang sering menjajakan dirinya. Fenomena “cabe-cabean” ini merupakan bentuk perubahan perilaku seksual remaja. Perilaku tersebut dapat memicu seks pranikah serta mengundang problem sosial lainnya seperti hamil di luar nikah, tindakan aborsi, tindak kriminalitas, juga mengundang penyakit HIV dan AIDS.
Fenomena “cabe-cabean” seperti penyakit menular yang bisa cepat menular kepada remaja lainnya bila terus dibiarkan tanpa penanganan yang komprehensif dari berbagai pihak mulai dari keluarga, masyarakat, dan negara. Disinilah titik kritisnya, ketiga komponen tersebut harus bahu membahu menangani fenomena ini. Namun, ketika permisif sudah diterima sebagai bentuk kewajaran, maka norma-norma akan mengalami perubahan atau kehilangan fungsinya. Miris rasanya ketika kita mendengarnya. Sebagai seorang ibu, penulis sangat khawatir sekali. Apa jadinya Bangsa ini jika generasi penerusnya saja memiliki perilaku seperti itu? Apakah kita akan terus berpangku tangan?
Akar Masalah
Adapun penyebab fenomena “cabe-cabean” ini Penulis sepakat dengan Seksolog dan Spesialis Androlog, Prof. Wimpie Pangkahila yang menyatakan “bahwa sikap masyarakat yang permisif mungkin menjadi dasar dari perubahan perilaku seksual tersebut. Masyarakat pasti tahu ada perubahan perilaku seks di sekitarnya, namun tidak benar-benar ingin melenyapkannya” (kompas.com, 04/04/14).
Sikap permisif merupakan turunan dari ide liberalisme yang mengajarkan bahwa setiap manusia bebas berperilaku selama tidak merugikan orang lain. Paham kebebasan ini juga mengajarkan bahwa setiap orang termasuk remaja belia sekali pun bebas menjalin hubungan dengan siapa saja termasuk hubungan seks asal suka sama suka dan tidak ada paksaan.
Celakanya, pengaturan kehidupan sosial yang ada saat ini dibangun berlandaskan pada ide liberalisme. Tengok saja, di dalam KUHP seseorang yang berhubungan di luar ikatan pernikahan tidak dianggap melakukan tindakan pidana selama dilakukan suka sama suka. Faktor usia pun dapat menghalangi pihak berwenang untuk mengamankan pelaku “cabe-cabean”. Kalau pun ditangkap, sanksi yang diberikan tidak memberi efek jera pada pelaku.
Pemerintah yang seharusnya menjadi ujung tombak “Pembabat” fenomena “cabe-cabean” ini sepertinya kurang serius berupaya menyelesaikan masalah ini. Hal tersebut terlihat dari sikap pemerintah seperti pernyataan Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang mengaku tak bisa berbuat banyak melihat remaja Jakarta terjerumus dalam lingkaran hitam itu. Sebab, penangkapan kepada anak tersebut bakal melanggar aturan “ya nangkepnya gimana? Itu bisa mendahului KUHP-nya polisi” tandas Ahok (Liputan6.com, 04/04/14).
Islam Membabat “Cabe-cabean”
Islam menetapkan bahwa persoalan seks dibatasi hanya dalam kehidupan suami istri. Adapun seks diluar nikah seperti fenomena “cabe-cabean” sudah jelas keharaman dan bahayanya. Islam telah mewajibkan keluarga, masyarakat, dan negara melindungi semua anggotanya termasuk gadis remaja belia. Dalam keluarga, selain wajib menjamin kebutuhan anak-anak mereka, seorang ayah dan ibu juga wajib menjadi teladan yang baik. Orang tua juga wajib mendidik anak-anak mereka agar memiliki kepribadian Islam sehingga mereka memiliki sifat taqwa yang mampu membentengi diri pribadi remaja tersebut dari perubahan perilaku seks seperti “cabe-cabean” ini.
Allah SWT. telah berfirman “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan dan mereka selalu mengerjakan apa yang diperintahkan” (TQS. At-Tahrim [66]:6)
Masyarakat juga wajib mengawasi dan mencegah terjadinya kemaksiatan. Masyarakat jangan cuek membiarkan pelaku “cabe-cabean”. Seperti telah dipaparkan di atas, perilaku ini bisa cepat menular seperti halnya penyakit, boleh jadi hari ini anak orang lain yang melakukan cabe-cabean, besok lusa siapa yang bisa menjamin anak kita tidak tertular? Naudzubillah!. Satu kemaksiatan terjadi sama dengan merusak tatanan sosial dan mengundang kemurkaan Allah SWT, apalagi perbuatan seks bebas atau zina telah jelas diancam azab Allah SWT. “Jika telah Nampak zina dan riba di satu negeri, maka sungguh penduduk negeri itu telah menghalalkan bagi diri mereka sendiri azab Allah” (HR. Hakim)
Menyelamatkan remaja tidak akan berjalan bila negara tidak mengambil peran. Negara berperan besar menjaga moral masyarakat. Negara juga harus menegakkan hukum agar nilai-nilai akhlak masyarakat terjaga misalnya dengan memberi sanksi pidana pada remaja yang telah baligh apabila terbukti melakukan “cabe-cabean”, menutup situs porno yang memang berperan melahirkan perilaku “cabe-cabean” ini, memberi regulasi yang jelas kepada lembaga Penerangan agar tidak lembek dalam menyaring semua konten yang berbau pornografi dan pornoaksi. Namun apa daya bila sekulerisme dan liberalisme masih terus menggurita, fenomena “cabe-cabean”, “terong-terongan” atau perubahan perilaku seksual remaja lainnya akan terus terjadi.” Wallahu a’lam bishowab”.
Langganan:
Postingan (Atom)


