Sabtu, 01 November 2014

Cara Pemuda Muslim Berpolitik

Pemilihan umum untuk menentukan para anggota legislatif dan presiden yang akan menduduki kancah perpoltikan Indonesia selama lima tahun ke depan telah dan akan dilaksanakan. Hingga saat ini pun berbagai metode kampanye tengah gencar-gencarnya dilaksanakan. Mulai dari acara blusukan, umbaran janji, bahkan money politik pun giat dijalankan demi tebar pesona dan menarik simpati. Tentu saja, golongan masyarakat dengan jumlah terbanyak lah yang dijadikan sasaran empuk.
Pemuda adalah komponen masyarakat yang sangat strategis, selain pemikirannya yang kritis, kaum pemuda cenderung kreatif dan enerjik dalam menanggapi suatu problematika. Pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan. Selain itu adanya sebuah pernyataan bahwa masa depan terletak di genggaman para pemuda. Artinya, baik buruknya suatu umat di masa datang di tentukan oleh baik buruknya pemuda di masa kini. Hal tersebutlah yang menjadi barometer dan standarisasi dalam pembinaan dan mendidik generasi muda untuk melanjutkan estafet perjuangan.
Bagaimanapun peran serta pemuda bagi bangsa sangat penting. Upaya pemuda merupakan salah satu bukti bahwa pemuda adalah agen perubahan bangsa. Banyak orang mengaggap bahwa pemuda adalah calon-calon pemimpin yang memiliki pemikiran yang cerdas. Namun, banyak pula para remaja yang salah mengambil sikap akan perannya di kancah perpolitikan. Tak sedikit pemuda yang bersikeras mengorbankan harta untuk berhasil menduduki “kursi Senayan”. Namun tak lama setelah mereka berkecimpung dalam sistem yang berlaku saat ini, harta menjadi objek prioritas mereka.
Jika kita memandang politik hanya dari sudut pandang yang demikian -kekuasaan, jabatan, harta- maka tentulah politik dianggap sebagai suatu hal yang kotor. Namun tidak dari sudut pandang Islam. Bukan berarti Islam membenarkan politik hanya untuk perebutan kekuasaan dan jabatan, melainkan Islam memiliki pandangam tersendiri terhadap politik.
Politik dalam Islam lebih kepada suatu metode yang digunakan untuk mengurus kegiatan ummat sebagai usaha untuk mendukung dan melaksanakan syari’at Allah melalui sistem kenegaraan dan pemerintahan. Pengertian ini sesuai dengan firman Allah yang artinya:
“Dan katakanlah: Ya Tuhan ku, masukkanlah aku dengan cara yang baik dan keluarkanlah aku dengan cara yang baik dan berikanlah kepadaku daripada sisi Mu kekuasaan yang menolong.” (TQS. AI-Isra’ : 80).
Di atas landasan inilah para ‘ulama’ menyatakan bahawa: “Allah menghapuskan sesuatu perkara melalui kekuasaan negara apa yang tidak dihapuskan-Nya melalui al-Qur’an”.
Bentuk pemerintahan Islam adalah pemerintahan yang merujuk kepada syariat. Konstitusinya tercermin dalam prinsip-prinsip Islam dan hukum-hukum syariat yang disebutkan di dalam al-Qur’an dan dijelaskan Sunnah Nabawy, baik mengenai aqidah, ibadah, akhlak, mu’amalah maupun berbagai macam hubungan. Oleh karena itu hukum yang berlaku harus selalu bersumber dan merujuk kepada hukum yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. Kemudian pemerintahan yang dipimpin oleh seorang ulil amri yang dipilih oleh rakyat, untuk menjalankan tugas-tugas kepemerintahan guna terciptanya kondisi masyarakat yang sehat (moral dan fisik) serta kesejahteraan baik bagi ummat muslim maupun non-muslim. Dengan demikian, melalui sudut pandang Islam, politik merupakan media yang tepat untuk menegakkan syariat dan dakwah.
Berbeda dengan sistem yang berlaku saat ini terutama di Indonesia. Sistem liberal yang yang digunakan pemerintah makin giat menggerogoti tubuh-tubuh ummatnya sendiri. Lantas para pemimpin makin giat pula memperlakukan rakyatnya bak sapi perah. Namun, kita seakan menutup mata akan kenyataan ini.
Sebagai pemuda muslim, hendaknya kita perlu berpikir secara cerdas dan mendalam mengenai peran kita dalam perubahan negeri ini. Bukan berarti kita harus ikut serta menduduki kursi DPR dan membuat peraturan sendiri, bukan pula dengan menggadang-gadangkan calon yang menurut kita baik, namun dengan kemerosotan negeri ini yang kian kini kian memburuk menunjukkan bahwa kesalahan bukan terletak pada siapa yang memimpin, melainkan dengan cara dan sistem yang seperti apa kita dipimpin. Terbukti dari dengan sekian banyaknya golongan yang pernah memimpin Indonesia, tak ada satupun yang mampu membawa Indonesia ke titik terang.
Ada banyak kesempatan untuk melakukan perubahan. Jika kita terus diam dan cenderung menerima atas apa yang terjadi, maka tunggulah titik jenuhnya yang saat ini seperti bom waktu. Satu-satuya cara adalah dengan memilih untuk menjadi pemain yang turut aktif bergerak, atau penonton yang hanya duduk dan bersorak ria?! Keputusan ada di tangan kita sebagai kaum muda dalam memaknai peran kita di dunia perpolitikan sebagai agen perubahan. Bukankah Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum hingga ia merubah nasibnya sendiri?! Wallahu a’lam bissawwab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar