Pemilihan umum untuk menentukan para
anggota legislatif dan presiden yang akan menduduki kancah perpoltikan
Indonesia selama lima tahun ke depan telah dan akan dilaksanakan. Hingga
saat ini pun berbagai metode kampanye tengah gencar-gencarnya
dilaksanakan. Mulai dari acara blusukan, umbaran janji, bahkan money
politik pun giat dijalankan demi tebar pesona dan menarik simpati. Tentu
saja, golongan masyarakat dengan jumlah terbanyak lah yang dijadikan
sasaran empuk.
Pemuda adalah komponen masyarakat yang
sangat strategis, selain pemikirannya yang kritis, kaum pemuda cenderung
kreatif dan enerjik dalam menanggapi suatu problematika. Pemuda hari
ini adalah pemimpin masa depan. Selain itu adanya sebuah pernyataan
bahwa masa depan terletak di genggaman para pemuda. Artinya, baik
buruknya suatu umat di masa datang di tentukan oleh baik buruknya pemuda
di masa kini. Hal tersebutlah yang menjadi barometer dan standarisasi
dalam pembinaan dan mendidik generasi muda untuk melanjutkan estafet
perjuangan.
Bagaimanapun peran serta pemuda bagi
bangsa sangat penting. Upaya pemuda merupakan salah satu bukti bahwa
pemuda adalah agen perubahan bangsa. Banyak orang mengaggap bahwa pemuda
adalah calon-calon pemimpin yang memiliki pemikiran yang cerdas. Namun,
banyak pula para remaja yang salah mengambil sikap akan perannya di
kancah perpolitikan. Tak sedikit pemuda yang bersikeras mengorbankan
harta untuk berhasil menduduki “kursi Senayan”. Namun tak lama setelah
mereka berkecimpung dalam sistem yang berlaku saat ini, harta menjadi
objek prioritas mereka.
Jika kita memandang politik hanya dari
sudut pandang yang demikian -kekuasaan, jabatan, harta- maka tentulah
politik dianggap sebagai suatu hal yang kotor. Namun tidak dari sudut
pandang Islam. Bukan berarti Islam membenarkan politik hanya untuk
perebutan kekuasaan dan jabatan, melainkan Islam memiliki pandangam
tersendiri terhadap politik.
Politik dalam Islam lebih kepada suatu
metode yang digunakan untuk mengurus kegiatan ummat sebagai usaha untuk
mendukung dan melaksanakan syari’at Allah melalui sistem kenegaraan dan
pemerintahan. Pengertian ini sesuai dengan firman Allah yang artinya:
“Dan katakanlah: Ya Tuhan ku,
masukkanlah aku dengan cara yang baik dan keluarkanlah aku dengan cara
yang baik dan berikanlah kepadaku daripada sisi Mu kekuasaan yang
menolong.” (TQS. AI-Isra’ : 80).
Di atas landasan inilah para ‘ulama’
menyatakan bahawa: “Allah menghapuskan sesuatu perkara melalui kekuasaan
negara apa yang tidak dihapuskan-Nya melalui al-Qur’an”.
Bentuk pemerintahan Islam adalah
pemerintahan yang merujuk kepada syariat. Konstitusinya tercermin dalam
prinsip-prinsip Islam dan hukum-hukum syariat yang disebutkan di dalam
al-Qur’an dan dijelaskan Sunnah Nabawy, baik mengenai aqidah, ibadah,
akhlak, mu’amalah maupun berbagai macam hubungan. Oleh karena itu hukum
yang berlaku harus selalu bersumber dan merujuk kepada hukum yang telah
ditetapkan oleh Allah SWT. Kemudian pemerintahan yang dipimpin oleh
seorang ulil amri yang dipilih oleh rakyat, untuk menjalankan
tugas-tugas kepemerintahan guna terciptanya kondisi masyarakat yang
sehat (moral dan fisik) serta kesejahteraan baik bagi ummat muslim
maupun non-muslim. Dengan demikian, melalui sudut pandang Islam, politik
merupakan media yang tepat untuk menegakkan syariat dan dakwah.
Berbeda dengan sistem yang berlaku saat
ini terutama di Indonesia. Sistem liberal yang yang digunakan pemerintah
makin giat menggerogoti tubuh-tubuh ummatnya sendiri. Lantas para
pemimpin makin giat pula memperlakukan rakyatnya bak sapi perah. Namun,
kita seakan menutup mata akan kenyataan ini.
Sebagai pemuda muslim, hendaknya kita
perlu berpikir secara cerdas dan mendalam mengenai peran kita dalam
perubahan negeri ini. Bukan berarti kita harus ikut serta menduduki
kursi DPR dan membuat peraturan sendiri, bukan pula dengan
menggadang-gadangkan calon yang menurut kita baik, namun dengan
kemerosotan negeri ini yang kian kini kian memburuk menunjukkan bahwa
kesalahan bukan terletak pada siapa yang memimpin, melainkan dengan cara
dan sistem yang seperti apa kita dipimpin. Terbukti dari dengan sekian
banyaknya golongan yang pernah memimpin Indonesia, tak ada satupun yang
mampu membawa Indonesia ke titik terang.
Ada banyak kesempatan untuk melakukan
perubahan. Jika kita terus diam dan cenderung menerima atas apa yang
terjadi, maka tunggulah titik jenuhnya yang saat ini seperti bom waktu.
Satu-satuya cara adalah dengan memilih untuk menjadi pemain yang turut
aktif bergerak, atau penonton yang hanya duduk dan bersorak ria?!
Keputusan ada di tangan kita sebagai kaum muda dalam memaknai peran kita
di dunia perpolitikan sebagai agen perubahan. Bukankah Allah tidak akan
merubah nasib suatu kaum hingga ia merubah nasibnya sendiri?! Wallahu
a’lam bissawwab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar